Hadith


Beramal dan Menyampaikan


Random Hadith Widget

Sunday, December 19, 2010

Ma'ruf dan amar ma'ruf: Dua tanggungjawab berbeza

(Didalam menjelaskan nazom/syair Syaikh Ibrahim al-Laqqoni berkenaan amar ma'ruf dan nahi mungkar, Syaikh Ibrahim al-Bajuri menyatakan:)

'Dan tidaklah tertentu kewajipan perintah terhadap yang ma'ruf dan kewajipan melarang dari yang mungkar itu dengan orang yang tidak melakukan seumpamanya. Akan tetapi barangsiapa yang melihat kemungkaran dalam keadaan dia juga sedang melakukan yang seumpamanya wajib atasnya untuk melarangnya dari kemungkaran itu.

Kerana itulah maka berkata Imam Haramain: Wajiblah atas orang yang hendak meminum khamar untuk mengingkari orang-orang yang duduk disana.

Berkata Imam Ghazali: Wajib atas orang-orang yang berzina dengan perempuan untuk memerintahnya menutup wajah darinya. Dan dalil atas wajibnya memerintah dengan yang ma'ruf dan melarang dari yang mungkar adalah al-Qur'an, Sunnah dan Ijma'.'

[Syaikh Ibrahim al-Laqqoni, 'Permata Ilmu Tauhid - Satu Pendalaman Terhadap Iktikad Ahlus Sunnah wal Jamaah', Bab 134,135: Masalah Amar Makruf, Namimah, Hibah, Ujub, Kibar, Terbitan Pustaka Jiwa Sdn Bhd, cetakan pertama 2000, m/s 590]

Serulah walau belum beramal kesemuanya

Daripada Hazrat Anas (r.a.) beliau meriwayatkan bahawa kami berkata, "Wahai Rasulullah, adakah betul bahawa kami tidak patut menyeru manusia kepada amalan-amalan yang baik sehingga kami beramal dengan semua kebaikan dan kami tidak patut mencegah mereka daripada kemungkaran sehingga kami sendiri menjauhi kesemuanya?" Maka Baginda SAW berkata, "Bukan begitu, serulah kepada amalan-amalan yang baik walaupun kamu belum beramal dengan kesemuanya dan cegahlah kemungkaran walaupun kamu belum menjauhi kesemuanya."
(Hadith riwayat at-Tobrani dalam as-Saghir dan al-Ausath)

[dipetik dari 'Kemunduran Ummat dan Penyelesaiannya' susunan Maulana Ihtishamul Hasan Kandhalawi, m/s 24. Dari Kitab Fadhilat Amal, terjemahan Lujnah Terjemahan Madrasah Miftahul 'Ulum Seri Petaling, terbitan Era Ilmu Sdn Bhd, cetakan keenam 2006]

Wednesday, December 15, 2010

Masjid Ishlaho Tarbiyat Ichinowari Jepun

Masjid Ishlaho Tarbiyat Ichinowari Jepun

Semboyan dan Pesan Wali Songo

Assalaamu'alaykum

Para Wali soongo mempunyai semboyan yang terekam hingga saat ini adalah :

1. Ngluruk Tanpo Wadyo Bolo / Tanpo pasukan tentara : Berdakwah dan berkeliling kedaerah lain tanpa membawa pasukan. Jangan yakin dengan banyaknya jumlah kita,…..yakin dengan pertolongan Allah swt.

2. Mabur Tanpo Lar/Terbang tanpa Sayap : Kita bergerak jumpa umat…dari orang ke orang…. jumpa ke rumah-rumah mereka ..Pergi kedaerah nan jauh walaupun tanpa asbab/ sebab yang nampak.

3. Mletik Tanpo Sutang/Meloncat Tanpa Kaki : Pergi kedaerah yang sulit dijangkau seperti gunung-gunung juga tanpa sebab yang kelihatan. Niat untuk dakwah keseluruh alam, Allah swt yg berangkatkan kita bukan asbab-asbab dunia seperti harta dsb…

4. Senjoto Kalimosodo : Kemana-mana hanya membawa kebesaran Allah SWT. selalu mendakwahkan kalimat iman, mengajak umat pada iman dan amal salih….(Kalimosodo : Kalimat Shahadat)

5. Digdoyo Tanpo Aji : Walaupun dimarahi, diusir, dicaci maki bahkan dilukai fisik, perasaan dan mentalnya namun mereka seakan-akan seperti orang yang tidak mempan diterjang bermacam-macam senjata. Kita dakwah, Allah swt akan Bantu (jika kalian Bantu Agama Allah, maka pasti Allah akan tolong kalian dan Allah akan menangkan kalian)

6. Perang Tanpo tanding : Dalam memerangi nafsunya sendiri dan mengajak orang lain supaya memerangi nafsunya. Tidak pernah berdebat atau bertengkar. dakwah dengan hikmah, kata-kata yg sopan, ahlaq yg mulia dan doa menangis-menangis pada Allah agar umat yg kita jumpai dan umat seluruh alam dapat hidayah….bukan dengan kekerasan…. Nabi saw bersabda yg maknanya kurang lebih : ‘Haram memerangi suatu kaum sebelum kalian berdakwah (berdakwah dgn hikmah) kepada mereka”

7. Menang Tanpo Ngesorake/Merendahkan : Mereka ini walaupun dengan orang yang senang, membenci, mencibir, dan lain-lain akan tetap mengajak dan akhirnya yang diajak bisa mengikuti usaha agama dan tidak merendahkan, mengkritik dan membanding-bandingkan, mencela orang lain bahkan tetap melihat kebaikannya.

8. Mulyo Tanpo Punggowo : Kemuliaan hanya dalam Iman dan Amalan agama bukan dengan banyaknya pengikut. Dimulyakan, disambut, dihargai, diberi hadiah, diperhatikan, walaupun mereka sebelumnya bukan orang alim ulama, bukan pejabat, bukan sarjana ahli tetapi karena menjadi Da’i yang menjadikan dakwah maksud dan tujuan hidup, maka Allah swt muliakan mereka.

9. Sugih Tanpo Bondo : Mereka akan merasa kaya dalam hatinya. Keinginan bisa kesampaian terutama keinginan menghidupkan sunnah Nabi, bisa terbang kesana kemari dan keliling dunia melebihi orang terkaya didunia. Jangan yakin pada harta….kebahagiaan dalam agama, dakwah jangan bergantung dgn harta

10. Kuncara Tanpo Woro-woro : Menyebar, terkenal tanpa gembar-gembor, propaganda, iklan-iklan dsbartinya bergerak terus jumpa umat, kerja untuk umat, kerja untuk Agama dengan ikhlas karena mengharap Ridho Allah swt, tidak perlu disiar-siarkan atau di umum-umumkan. Allah sajalah yang menilai perjuangan kita.

Pesan Walisongo Sunan Kalijogo adalah :
1. Yen kali ilang kedunge : jika sungai sudah mulai kering... jika sumber air sudah mulai kering.. maksudnya jika para alim ulama sumber ilmu sudah mulai wafat satu persatu...maka ini alamat bahwa dunia mau di-Qiamatkan Allah SWT. Ulama ditamsilkan seperti air yang menghidupkan hati2 manusia yang gelap tanpa cahaya hidayah..

2. Yen pasar ilang kumandange : Jika pasar sudah mulai diam.. maksudnya jika perdagangan sudah tidak dengan tawar-menawar karena banyaknya mall dan pasar swalayan yang berdiri. kata orang2 tua kita dahulunya semua pasar memakai sistem tawar menawar sehingga suaranya begitu keras terdengar dari kejauhan seperti suara lebah yang mendengung.. ini kalo aku boleh beri istilah adalah adanya kehangatan dalam social relationship dalam masyarakat.. tapi sekarang sudah hilang...biarpun kita sering ke plasa atau ke supermarket ratusan kali kita tidak kenal para pelayan dan cashier di tempat itu..

3. Yen wong wadon ilang wirange : Jika wanita sudah tidak punya rasa malu......

4. Enggal-enggal topo lelono njajah deso milangkori ojo bali sakdurunge patang sasi, enthuk wisik soko Hyang Widi : Bermujahadah, susah payah berkelana dalam perjalanan ruhani guna memperbaiki diri atau perjalanan fisabilillah menjelajahi desa-desa/ negara-negara, menghitung pintu (bersilaturahim) jangan pulang2 sebelum selesai program 4 (empat) bulan, cari petunjuk, hidayah dan kepahaman agama dari Dzat yang Maha Kuasa..

Semoga bermanfaat...Wassalaamu'alaykum

[dipetik dari http://fedenet.multiply.com/journal/item/50/Semboyan_dan_Pesan_Wali_Songo]

Tuesday, December 14, 2010

Kelemah lembutan didalam berdakwah

(Didalam menerangkan tentang Jamaah Tabligh, Syaikh Yusuf bin ‘Isa al-Malahy menulis):

Harus diakui, bahwa mereka memiliki metode dan tata-tertib yang terbit dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang mereka jadikan sebagai pijakan. Tata-tertib ini mengandung Tauhid, ibadah-ibadah yang benar, da’wah ilallah dan lain-lain yang merupakan hal-hal penting dalam agama. Tata-tertib ini juga membuang masalah-masalah yang memuat makian terhadap ulama dan para pemimpin kaum muslimin, demi untuk mencapai persatuan dan tidak membuat kaum muslimin menjauh dari Islam dan tidak menimbulkan perpecahan diantara jama’ah. Ini bukan bererti mendiamkan kemungkaran, tetapi mereka memandang bahwa berlemah lembut dalam da’wah dan menghilangkan kemungkaran, adalah satu-satunya yang dapat diterima, dengan izin Allah. Sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah Lembut dan mencintai kelemah-lembutan. Dia memberikan diatas kelemah-lembutan apa yang Dia tidak berikan kepada kekasaran, dan apa yang tidak Dia berikan kepada lainnya.” HR: Muslim.

Dan hadist-hadist dalam pengertian ini banyak sekali.

Diantara strategi pendidikan mereka dalam da’wah, mereka meminta kaum muslimin (yang dida’wah) untuk keluar (khuruj) bersama mereka beberapa waktu sesuai dengan keadaan, sehingga tersedia bagi mereka kesempatan untuk bergaul bersama dalam lingkungan yang baik, agar tercapai kesan Islamy dalam diri mereka dan terbuka kesempatan bagi mereka untuk melaksanakan amal-amal shaleh, yang akhirnya memudahkan mereka membebaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan buruk. Jadi mereka menganggap “Khuruj” ini sebagai sarana dan peluangan waktu untuk memperbaiki diri mereka dan orang lain. Khuruj bukanlah semata-mata tujuan. Maka dari itu kita dapatkan banyak orang yang keluar bersama Jama’ah Tabligh berobah kehidupan mereka dan selanjutnya mereka berbalik menjadi da’i-da’i ilallah, padahal dulunya mereka sangat jauh dari agama.

Yang tampak dari perkataan saudara-saudara penentang terhadap da’wah Jamaah Tabligh, bahwa mereka membayangkan metode yang benar dalam da’wah adalah yang berdasarkan kepada kekasaran, kekakuan dan tanpa kelemahlembutan serta tanpa kasih sayang kepada mereka yang dida’wah. Perlakuan terhadap mereka dengan lemah-lembut dan ramah dianggap bertentangan dengan hikmah dan merupakan pemalsuan. Dan mereka menghendaki dari seluruh para da’i untuk menerapkan cara keras dan kasar ini dalam da’wah. Siapa yang tidak menerapkannya mereka tuduh dengan pemalsuan dan ketidakseriusan dalam merobah kemungkaran, karena mereka menyangka bahwa kera dalam da’wah itulah yang benar dan yang selainnya adalah salah.

Alangkah baiknya seandainya mereka memandang baik kepada saudara-saudara mereka sesama da’i yang menempuh metode yang berdiri atas kelemah-lembutan, keramahan dan kasih sayang kepada kaum muslimin dengan berhujjah bahwa Allah memerintahkan Musa dan Harun untuk berlemah lembut kepada Fir’aun:

“Maka katakanlah kepadanya kata-kata yang lemah-lembut supaya ia ingat atau takut.”

Allah juga berfirman:
“Panggillah (manusia) kepada Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik.”

“Dan kerana rahmat dari Allah engkau menjadi lembut kepada mereka. Apabila engkau kasar dan keras hati pasti mereka akan menjauh darimu.”

Rasulullah SAW bersabda:
‘Sesungguhnya kelembutan itu apabila terdapat dalam sesuatu pasti akan menghiasinya dan apabila tercabut dari sesuatu pasti akan memburukkannya.” HR: Muslim.

Alangkah baiknya seandainya mereka bersangka baik kepada saudara-saudara mereka sesama muslim, sebab mereka telah melaksanakan apa yang merupakan tuntutan ijtihad mereka kendati setiap mujtahid mungkin saja berbuat salah.

[Syaikh Yusuf bin 'Isa al-Malahy, petikan dari artikel 'Perbaikan dan Keadilan bukan Penghancuran dan Kezaliman, dari kompilasi buku 'Menyingkap Tabir Kesalahfahaman Terhadap Jama'ah Tablig', terjemahan oleh Ahmad Najib Mahfudh Lc, terbitan Hagatama Ihsani Press, 1996, m/s 28-31]