Hadith


Beramal dan Menyampaikan


Random Hadith Widget

Monday, October 7, 2013

Jamaah Tabligh di Kazakhstan


Question
A request came to the Darul Iftaa for a Fatwā clarifying the motives of the Tablīghī Jamāt in order to present to the Kazakhstani court. According to the letter, the Kazakhstani government banned the movement of the Tablīghī Jamāt. The Tablīghī Jamāt is no longer considered a religious movement in Kazakhstan and is classified as an extremist movement.
The Fatwā was presented to Sheikhul Hadith Hadhrat Moulana Fazlur Rahman Azmi Saheb Damat Barakatuhum. Hadhrat checked the Fatwā and approved it.

Answer
The Fatwā:
The Honourable Judge,
Assalamualaikum.
In response to a request seeking clarity on the Tablīgh Jamāt movement, we hereby present the following.
An independent investigation on any issue is the corner stone of justice and fairness as also understood from the following verse of the Holy Quran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (سورة الحجرات، رقم الآية 6)
O’ those who believe, if a sinful person brings you a report, verify its authenticity, lest you harm a people out of ignorance then become remorseful on what you did. (Qurān 49:6)
We understand the importance of political stability and the need for the intelligence of the Government to closely observe and monitor the activities of various organizations. We appreciate that and welcome such scrutiny as that process helps to filter the true and sincere organizations working for the general welfare of mankind from disruptive ones.
We take this privilege to introduce your honourable self to the noble activities of the Tablīgh movement.
At the outset, the Tablīgh movement is apolitical and has no political agenda at all.
The core of the movement is to create Allāh consciousness in people and make them obedient slaves of Allāh. The aim and objective of the Tablīgh movement is to secure eternal success for every human being and to prepare for life after death and accountability to Allāh.   
The Tablīgh movement instills this sense of responsibility in every person and creates in him the desire to sacrifice his time and resources to come out in the path of Allāh for self-reformation and to inspire others.
This self-sacrifice approach driven by Allāh consciousness and concern for eternal success has been proven to be exceptionally successful throughout the world. Millions of people have reformed their lives and started coming to the Masjids to perform Salāh. They have changed their lives from immorality and shamelessness to being spiritually motivated. They have eradicated the debasing qualities and spiritual illnesses from their hearts and have replaced them with noble characteristics such as sincerity, humility, kindness, and well-wishing for all the creation of Allāh including non-Muslims and animals.
The Tablīgh movement has impacted many nations and communities and inculcated a great sense of responsibility in people. The core message of focusing on Allāh and placing one’s trust in Allāh (Imān and Yaqīn) has made:
a)     The poor to be content with their lot.
b)    The rich and affluent to share their resources and develop the under privileged.
c)     The negligent to stand up to his responsibility and support his family with earning an income.
d)    The careless to abandon wine and intoxicants
e)     The immodest to live a life of chastity and avoid fornication and adultery which erodes the moral fibre of the community
While a Government may be searching and contemplating on solutions to its various domestic, social, and economical challenges, the Tablīgh movement positively contributes to the reformation and solutions of the various problems solely for the pleasure of Allāh and well-being of mankind. They do not seek any political position or any reward. Their reward is by Allāh:
إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ (سورة يونس، رقم الآية 72)
My reward is only with Allāh. (Surah Yūnus, Verse 72) 
The Tablīgh movement focuses only on the following six points to achieve self-reformation:
  1. Entrenching the belief in the Oneness of Allāh (Tawhīd)
  2. The importance of performing Salāh
  3. Education and Remembrance of Allāh
  4. To honour fellow Muslims
  5. Sincerity (Ikhlās)
  6. Propagating the message of Islām
These six points can be condensed in two points-
  • Being sensitive to Allāh and thereby being obedient to Allāh.
  • Being sensitive to fellow creations and induce love and harmony for each other.
If anyone attributes anything else to the Tablīgh movement other than what we have stated he is misinformed.
Honourable Judge, we are sure you will be guided by your training and skill of justice and fairness in independency, examining the Tablīgh movement. We are sure you will conclude that the Tablīgh movement is an asset for mankind and contributes to establishing and promoting a wholesome way of life for one and all.
(Mufti) Ebrahim Desai
Checked and Approved by,
Sheikhul Hadīth Hadhrat Moulana Fazlur Rahman Azmi Saheb Damat Barakatuhum


[http://askimam.org/public/question_detail/25660]

Saturday, October 5, 2013

Meninggalkan Anak Isteri untuk Perjuangan Agama

Dari Ummu Sulaiman ra., bahwa Nabi SAW. berkata kepadanya, “Bersabarlah engkau! Demi Allah! Sejak tujuh hari ini keluarga Rasulullah SAW. tidak mempunyai sesuatu pun untuk di makan, dan sudah tiga hari api tidak di nyalakan di bawah panci mereka. Demi Allah! Seandainya aku meminta kepada Allah agar bukit-bukit Tihamah dijadikan emas, pastilah Allah akan mengabulkannya.”

Dengan riwayat-riwayat ini, apakah dapat dikatakan bahwa Rasulullah SAW. telah sengaja menzhalimi keluarganya, karena sibuk dalam berdakwah sehingga menyebabkan keluarga beliau sendiri kelaparan hingga berbulan-bulan? Na’udzubillah min dzalik!

Anak dan istri berpisah sementara untuk kepentingan agama tidak hanya dilakukan oleh Rasulullah SAW, sebagian istri-istri nabi pun mengalaminya. Misalnya, Siti Hajar istri Ibrahim as. yang ditinggalkan sendirian hanya bersama bayinya di tengah gurun pasir gersang tanpa ada perbekalan yang mencukupi, semata-mata demi membantu tugas dakwah dan perjuangan agama suaminya.

“(Ibrahim berkata), ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tidak bertumbuh-tumbuhan di dekat rumah-Mu yang dihormati.” (QS. Ibrahim 37)

Ibrahim as. tidak meninggalkan keluarganya untuk tiga hari, empat puluh hari atau empat puluh bulan, tetapi beliau telah meninggalkan keluarganya 13 tahun!
Dan ternyata, setelah diuji dengan harus meninggalkan anak dan istrinya selama bertahun-tahun, demi menunaikan tugas dakwah dan menyeru manusia kepada agama, justru lahir dari keturunan Ibrahim as., nabi-nabi dan rasul-rasul Allah. Apakah kita akan katakan bahwa Ibrahim as. adalah lelaki yang tidak bertanggung jawab terhadap keluarganya dan menyia-nyiakannya?
Bagitu juga istri Nabi Musa as. yang ditinggalkan oleh Musa as. sendirian di tengah hutan untuk berdakwah kepada Fir’aun.

Allah SWT berfirman, “Ketika ia (Musa as.) melihat api, lalu ia berkatalah kepada keluarganya, “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api. Semoga aku dapat membawa sedikit dengannya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk.” (QS. Thaahaa 10) 

Pada ayat selanjutnya Musa as. diperintah, “Pergilah kepada Fir’aun sesungguhnya ia telah melampaui batas.”
Lalu apakah Nabi Musa as. juga di tuduh telah menzhalimi keluarganya dan menyia-nyiakannya, karena telah meninggalkan istrinya di tengah hutan belantara semata-mata karena ia telah diperintahkan untuk berdakwah kepada Fir’aun selama 40 hari ?

Selain para Anbiya, keluarga para sahabat ra. juga telah berbuat demikian, sebagaimana banyak tertulis di dalam kitab-kitab, salah satu misalnya, adalah kisah hijrahnya Abu Bakkar ra. ke Madinah.

Asma’ binti Abu Bakar ra. meriwayatkan, “Ketika Rasulullah saw. keluar untuk hijrah, Abu Bakar ra. pun ikut keluar berhijrah bersama beliau. Abu Bakar membawa seluruh hartanya sebanyak 5000 atau 6000 dirham. Dia pun pergi dengan membawa seluruhnya. Kemudian datanglah kakek kami; yaitu Abu Quhafah ra.. Ia berkata, “Demi Allah, Abu Bakar itu pasti telah menyusahkan kalian dengan harta dan dirinya.” Aku berkata, “Sama sekali tidak! Wahai kakek, sesungguhnya ia telah meninggalkan banyak harta.” Maka aku ambil kerikil-kerikil dan kuletakkan di tempat yang biasa ayahku menyimpan hartanya di lubang di rumahnya. Lalu kututup dengan kain, dan kutuntun tangan kakekku, dan berkata, “Ulurkan tanganmu ke sini, kek. “Dia berkata, “Kalau begini tidak masalah. Sungguh dia telah meninggalkan ini untuk kalian. Dia sudah berbuat baik.”

Umar bin Khattab ra. berkata, Rasulullah SAW. menyuruh kami bersedekah. Ini bertepatan dengan harta yang ada padaku. Aku berkata, “Jika suatu hari aku akan menang di atasnya.” Lalu aku datang dengan setengah hartaku, lalu Rasulullah SAW. bertanya, “Sepertiga.” Lalu datang Abu Bakar ra. membawa seluruh harta yang ada padanya. Maka Rasulullah SAW. bertanya, “Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk ahli keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Berkata Umar, “Aku memang tidak akan menang di atas Abu Bakar sedikit pun selamanya.”

Apakah Abu Bakar ra. divonis oleh Nabi SAW.  sebagai suami dan ayah yang dzhalim kepada keluarganya, karena ia tidak meninggalkan apapun bagi keluarganya ketika berhijrah bersama Rasulullah SAW.? Bahkan justru Rasulullah SAW. Tidak mengingkari pengorbanan Abu Bakar As-Shiddiq ra. Yang menyerahkan seluruh hartanya karena beliau mengetahui kebenaran niatnya.

Tindakan Abu Bakar ra. Tidaklah menyalahi firman Allah Al-Baqarah, ayat; 219, (Allah SWT berfirman, “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,”) karena Allah mengakui pengorbanan yang dilakukan oleh seseorang demi agama dan umat.

Juga seperti sahabat Anas bin Malik ra. Ia memiliki anak yang sulit di hitung karena banyaknya. Ia pernah berkata, “Cucu-cucuku itu mempunyai hitungan tersendiri. Tetapi aku sendiri telah menguburkan 125 anak dari keturunanku. Selain itu, yang masih hidup pun banyak sekali.” Walaupun demikian banyak tanggung jawab keluarga, terhadap istri dan anak-anaknya, ia terkenal sebagai sahabat yang banyak meriwayatkan hadist dan sering menyertai jihad fisabilillah.

Demikian juga, Zubair bin Awwam ra. yang pada waktu mati syahidnya, ia meninggalkan sembilan orang anak laki-laki, sembilan anak perempuan, dan empat orang istri. Bahkan ada sebagian  dari cucunya yang lebih tua daripada anak-anaknya sendiri.

Meskipun demikian, ia merupakan salah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadist. Ia juga ikut serta dalam banyak peperangan. Sekalipun mempunyai banyak tanggungan keluarga, namun anak-anak dan istrinya itu tidak menghalanginya dari kesibukan memperjuangkan agama Allah.

Di dalam kisah lain, diriwayatkan Sa’ad bin Khaitsamah ra. bercerita, “Aku tertinggal dari rombongan Rasulullah SAW. Yang ke Tabuk. Aku pun kembali ke rumah. Di sana kudapati istriku sedang menyiram rumah dengan air (agar menjadi sejuk), maka kukatakan kepada istriku, “Sungguh tidak adil kalau aku masuk rumah dan beristirahat di tempat yang teduh, sedangkan pada saat ini Rasulullah SAW. Sedang berada di tempat yang sangat panas.” Maka segera kusiapkan kantong dan bekalku. Melihat hal itu, istriku berteriak, “Abu Khaitsamah! Hendak kemana engkau?” Kujawab, “Menyusul Nabi SAW. Ke Tabuk.” Setelah itu aku keluar, dan di tengah perjalanan, aku bertemu Umar bin Wahab, lalu aku berkata kepadanya, “Sungguh kamu ini seorang pemberani. Aku ingin tahu di mana Nabi SAW berada. Dan sungguh aku merasa berdosa. Karena itu berjalanlah di belakangku agar dapat kutemui Nabi SAW. empat mata.” Umar pun berjalan mengikuti dari belakang. Ketika aku mendekati pasukan itu, maka orang-orang melihatku dari jauh dan berkata, “Ada seseorang mengendarai kuda ke arah kita!” Rasulullah SAW. berkata, “Ya Rasulullah, celaka aku!” Kemudian kuceritakan kisah perjalananku, maka Rasulullah SAW. mendoakan kebaikan untukku.”

Abu Naufal bin Abi ‘Aqrab menceritakan, “Ketika Harits bin Hisyam akan berangkat dari Makkah menuju ke Syam, maka seluruh penduduk Makkah sangat merisaukan kepergiannya. Semua orang kecuali anak-anak yang masih menyusui mengantar kepergiannya ke luar kota Makkah. Ketika sampai di bukit Bath-ha atau dekat tempat itu, maka dia berhenti, dan orang-orang merasa bersedih, maka dia berkata, “Wahai kaumku! Demi Allah, sesungguhnya aku pergi bukan karena lebih menyayangi diriku dari pada diri kalian, juga bukan karena aku lebih memilih kota lain dari pada kota kalian. Tetapi aku pergi karena memenuhi perintah agama untuk berjihad di jalan Allah, dan hingga saat ini telah banyak kaum Quraisy yang telah mendahului aku pergi padahal mereka bukan termasuk pemuka atau pun dari keluarga yang berkedudukan tinggi. Keadaan kita sekarang ini, demi Allah! Sesungguhnya kita mengorbankan emas di jalan Allah sebanyak gunung-gunung di kota Makkah, niscaya kita tidak akan melebihi pahala satu hari mereka di jalan Allah. Demi Allah! Seandainya mereka mendahului kita di dunia, maka sekurang-kurangnya kita dapat menyamai mereka di akhirat. Sebaiknya orang yang beramal merasa takut kepada Allah dengan amalnya.” Setelah itu diapun berangkat menuju ke Syam, dan dia juga membawa kerabatnya untuk ikut serta dan ia tetap tinggal di sana hingga mati syahid, sehingga Allah merahmatinya.”

Semua kisah di atas dengan tegas menunjukkan bahwa meninggalkan keluarga untuk sementara demi kepentingan agama. Namun penerapannya bagi kita perlu dilakukan dengan sebijak dan sehikmah mungkin, sehingga maksud untuk menyebarkan agama menjadi terwujud dengan baik

http://wargajenggot.blogspot.co.uk/2013/10/meninggalkan-anak-istri-untuk.html]


Gambar hiasan

Friday, October 4, 2013

Tidur di Masjid (dengan niat Iktikaf)


ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺇِﺳْﺤَﻖُ ﺑْﻦُ ﻣَﻨْﺼُﻮﺭٍ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﻧُﻤَﻴْﺮٍ ﺃَﻧْﺒَﺄَﻧَﺎ ﻋُﺒَﻴْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﻋُﻤَﺮَ ﻋَﻦْ ﻧَﺎﻓِﻊٍ ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﻗَﺎﻟَﻜُﻨَّﺎ ﻧَﻨَﺎﻡُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻬْﺪِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ

Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Manshur] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Numair] berkata, telah memberitakan kepada kami [Ubaidullah bin Umar] dari [Nafi'] dari [Ibnu Umar] ia berkata; "Pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kami biasa tidur di masjid."

[Sunan Ibnu Majah]

[dipetik dari https://www.facebook.com/4bulan?hc_location=timeline]

Gambar hiasan

Menjawab Bantahan Terhadap Kitab Fadho'il A'maal

Bantahan mengenai

1. Kewujudan wali Abdaal
2. Hakikat Kasyaf atau Ilham
3. Penghuni kubur dapat melihat dan mendengar orang yang masih hidup

telah dijelaskan oleh Darul Ifta' Camperdown di

http://projectdeoband.blogspot.co.uk/2009/09/answering-objection-on-fazaail-e-amaal.html#more