Hadith


Beramal dan Menyampaikan


Random Hadith Widget

Monday, December 2, 2013

Pengenalan Kepada Mazhab Imam Syafi'i Rahimahullah


Syaikh Arsalan Haque membincangkan mengenai perkembangan Mazhab Imam Syafii zaman berzaman, rantaian emas, kurikulum tradisi bagi pelajar mazhab Syafii, dan pengenalan terhadap kitab Minhaj al-Tholibin.

http://www.youtube.com/playlist?list=PLGrJQVLFsooDm7VcIzmF2qW5w9kqMImgF

Monday, November 25, 2013

Jadilah sebagai penghubung

Kita tahu, dan Allah lebih Mengetahui, yang kita ni jahat, banyak buat salah, pendosa, iman lemah, amal sikit, akhlak buruk, fikir agama kurang, risau ummat jauh sekali.. tak mampu nak jadi penghubung manusia kepada Allah, nak ajak manusia kepada Allah, nak cerita kepada manusia kepada perintah-perintah Allah..
Tapi sekurang-kurangnya, jadilah penghubung manusia kepada orang yang mengajak manusia kepada Allah, kenalkan manusia dengan orang-orang yang boleh mendekatkan manusia dengan Allah, dengan niat mudah-mudahan Allah jadikan kita dalam golongan yang mengajak manusia kepada Allah jua.

Jadilah alim. Kalau tak dapat, jadilah orang yang belajar dengan alim. Kalau tak dapat jugak, jadilah orang yang mendengar kata-kata orang alim. Kalau tak dapat jugak, jadilah pencinta kepada golongan alim, orang yang belajar dengan orang alim dan orang yang mendengar kata-kata orang alim.

Ya Allah, ampunilah aku yang banyak dosa ;-(

Sunday, November 17, 2013

Kaum yang di 'irihati' oleh Ambiya' dan Syuhada'

Al-Baihaqiyy dan An-Naqoosy telah mentakhrijkan di dalam mu'jamnya dan Ibn An-Najjaar daripada Waaqid bin Salaamah daripada Yaziid Ar-Riqoosyiyy dari Anas ra. Bahawa Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa sallaam telah bersabda (mafhuumnya) :

Sudikah aku kabarkan kepada kalian akan qaum-qaum yang mana mereka itu adalah bukan para anbiyaa` dan buka pula para syuhadaa`, (walhal) pada hari qiyaamat (nanti) para anbiyaa` dan para syuhadaa` merasa ghibtoh (iri hati) terhadap mereka itu lantaran manaazil (status- status) mereka (begitu dekat) dengan Allah, di atas minbar-minbar daripada nuur mereka dikenali.

Lalu mereka (para Sahabat r.ahum) Bertanya : siapakah mereka itu wahai Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa sallaam? Baginda menjawab (mafhuumnya) : al-ladziina yuhabbibuuna `ibaadaloohi ilAllahi, wa yuhabbibuunAllaha ilaa `ibaadihi, wa yamsyuuna `alal-ardhi nushan; artinya: (yaitu) orang-orang yang menjadikan para hamba Allah dicintai oleh Allah SWT , dan menjadikan Allah SWT dicintai oleh para hambanya, dan mereka itu berjalan kaki di atas (permukaan) bumi dalam hal keadaan memberikan nasihat.

Maka aku berkata : ini menjadikan Allah SWT dicintai oleh para hambanya, maka bagaimanakah mereka menjadikan para hamba Allah SWT dicintai oleh Allah SWT ? Jawab baginda Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa sallaam (mafhuumnya) : mereka itu menyuruh para hamba Allah dengan apa yang Allah SWT suka dan mereka itu mencegah para hamba Allah SWT daripada apa yang Allah SWT benci, maka apabila para hamba Allah SWT itu mentho'ati mereka lalu Allah `azza wa jalla menyintai mereka itu (yakni para hamba Allah itu).

Hayaatush-Shohaabah, juzu` 3, halaman 288 dan 289.
Risalah Fikir (229)


https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150930444567291&set=a.10150438780692291.360880.592637290&type=1&theater


Thursday, November 14, 2013

Hazrat Maulana Husain Ahmad Madani Rahimahullah Mengajar di Darul Ulum Deoband (tahun 1950)



Gambar yang jarang-jarang boleh dilihat. Hazrat Maulana Husain Ahmad Madani Rahimahullah sedang mengajar Sahih Bukhari di Darul Ulum Deoband (tahun 1950). Gambar ini mungkin diambil oleh pihak kerajaan India pada masa itu. Diantara para pelajar  adalah dari Afghanistan, Indonesia, Malaysia, China, Turkistan, Pakistan, Afrika Selatan dan Mesir.

Gambar dipetik dari
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=540361782720821&set=a.403695976387403.93241.100002410115334&type=1&theater

Saturday, November 9, 2013

Habib Umar: Bagaimana berhadapan dengan fahaman Salafi/Wahabi


Habib Umar bin Muhammad Salim Al-Hafidz menjawab persoalan bagaimana caranya untuk menyikapi permasalahan fahaman salafi wahabi dan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap gerakan fahaman ini.

Perkara ini dimuatkan disini kerana ia berkaitan dengan adab Dakwah Ilallah, silaturrahim, menyibukkan diri dengan amalan dan menghindar dari perdebatan, dan mencontohi para nabi yang berbuat baik terhadap orang yang berbuat buruk terhadap mereka.


Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk amal dan sampaikan. Amin.


https://www.facebook.com/photo.php?v=651920958163650





Soalan:

Bagaimana semestinya kita menyikapi kelompok salafi atau wahabi?
Apakah tidak perlu berdebat dengan mereka sementara mereka salah dalam amsalah furu' dan usul?
Seperti seringkali mereka mengatakan ini bid'ah, sesat, ahli neraka.
Bagaimana bisa kita membiarkan mereka sementara banyak orang mula tertarik?
Bagaimana semestinya kita menyikapi mereka?


Jawapan:

Tema yang dibicarakan tadi juga sedikit memberikan jawaban dari pertanyaanmu ini. (...) penjelasan konkritnya sebagai berikut:

Bahawa mereka sama seperti yang lainnya, dari aliran-aliran yang sudah kita singgung tadi... yang merupakan aliran-aliran sesat dan keluar dari jalan yang benar. Tugas kita terhadap mereka adalah memberikan penjelasan yang baik. Memperjelas dan mengukuhkan argumen dan dalil bagi umat, dan mensosialisasikannya kepada masyarakat.. di pesantren-pesantren kita, sekolah-sekolah, masjid-masjid... begitu juga pada saat pelajaran dan ceramah yang bersifat umum tanpa perlu menyebut nama-nama mereka, atau pengikut mereka, maupun organisasi dan massa mereka.

Kerana mereka tidak pantas untuk menguras energi kita hingga harus disebut-sebut di mimbar-mimbar ataupun di masjid-masjid kita. Kesibukan kita merespon hal itu, merupakan hal yang diinginkan para musuh Allah, yang mereka mulai semenjak mereka ciptakan isu tersebut untuk mengganggu konsentrasi kita. Kerana mereka datang tidak sendirian. Dibelakang mereka ada lembaga-lembaga edukasi yang disupport dana dan berbagai program terencana yang bersumber dari musuh besar umat Islam. Mereka muncul kerana Ummat Islam di Asia Tenggara mayoritas dari kalangan Syafi'iyyah dan Asy'ariyyah. Jika mereka secara konsisten menjalankan ajarannya, maka akan tegak kokoh(nya) ajaran Islam tanpa ada problem, (sudah) tentunya hal ini tidak mereka sukai. Lalu mereka menyusupkan kaki tangan mereka dari kalangan umat Islam, yang mensyirikkan umat Islam, membid'ahkan dan menganggap mereka sesat, mengangkat dan merendahkan mereka...

Kita bertugas menunaikan kewajiban kita dengan memberikan penjelasan dan memaparkan dalil bagi diri kita, keluarga kita, kalangan pesantren dan masjid kita dan siapapun yang mau mendengarkan tanpa perlu menyebut nama-nama mereka dan massanya, dan tidak perlu membuka peluang perdebatan yang tidak produktif. kalaupun kita harus berdebat, maka kita akan mendebat mereka dengan cara yang terbaik, tidak perlu sampai panik, terjadi keributan hingga beradu fisik. Cukup dengan memberikan penjelasan dengan santun. Dialog pun dengan santun.

Umumnya hal ini (kesantunan) tidak kita temukan pada mereka. Mereka tidak akan pernah berdialog dan berdebat denganmu dengan santun kerana mereka biasa terdidik untuk tidak bersopan santun. Kerana itu, jika ada orang yang tidak pandai berdebat dengan baik jangan engkau layani. Sampai ada yang mengerti debat dengan cara yang baik, baru kita layan dengan yang lebih baik lagi. Kalau tidak, maka kita hindari saja. Namun jika ada diantara mereka yang berbicara di satu forum dan kita ada disana, maka kita wajib meresponnya dengan memberikan penjelasan kepada audiens selagi di majlis memang ada yang mau mendengarkan dan mengambil manfaat, maka kita harus menjelaskan kepadanya permasalahan yang sebenarnya. Kita tentunya dengan santun dan mereka dengan ketidak santunan mereka. Biarkan mereka bicara dengan tidak santun tapi kita harus tetap bicara dengan santun.

Nabi Isa bin Maryam saat merespon orang bodoh yang mencacinya, beliau (Alaihissalam) mendoakan kebaikan untuknya. Si bodoh mencaci lagi, beliau membalasnya dengan doa kebaikan. Dicaci lagi untuk ketiga kalinya, tetap saja beliau (Alaihissalam) mendoakannya. Berkata salah seorang pengikutnya, 'Wahai Rasulullah, wahai Nabi Isa, orang ini tidak memujimu atau memberi kebaikan untukmu, ia mencacimu, lalu engkau mendoakannya?' 'Setiap orang memberi apa yang dia miliki', jawab beliau (Alaihissalam). 'Dia hanya memiliki itu (cacian) dan saya memiliki ini (doa).'

Ahlus Sunnah memiliki adab sopan santun sementara mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal sopan santun. Pada akhirnya nanti Allah akan munculkan pula orang-orang bodoh yang akan menandingi mereka. Level para Ulama' tinggi, tidak layak berhadapan dengan mereka. Sementara mereka yang tidak santun nantinya akan dijegal pula dengan orang-orang yang sama tidak santunnya, yang akan menghadapi dan memberikan pelajaran kepada mereka.

Berkata Imam Ja'far Shodiq: 'Tersesat, orang yang tidak mempunyai seorang guru yang membimbingnya, dan terhina orang yang tidak memiliki orang lancang yang membelanya.' Kalau ada orang bodoh datang mendebat, biarkan dihadapi pula oleh orang yang lancang dari kelompok yang benar. Orang-orang bodoh dari kelompok sesat tidak pantas dihadapi oleh Ulama' dan cendekiawan dari kelompok yang benar. Orang bodoh dari aliran sesat biar dihadapi oleh pendukung ajaran yang benar yang sama lancangnya. Mereka sepadan.

Allah akan lindungi kita dari keburukan dan marabahaya yang mereka rencanakan. Kita harus tetap konsisten memberikan penjelasan dan memantapkan dalil dan membina dengan baik putera puteri kita tanpa perlu membuka peluang untuk debat kusir, hingga akhirnya kita terjebak dengan kesibukan yang diciptakan musuh-musuh kita. Kita tunaikan kewajiban kita dalam urusan ini dan menjelaskan jalan yang benar. Jika ada satu isu diangkat didepan kita, kita respon dengan cara yang terbaik. jangan sampai kita lupa dengan tugas kita, iaitu membina hubungan masyarakat yang harmonis dengan Allah. Jangan sampai kesibukan ini membikin tidak sholat, tidak khusyu', mengabaikan perbuatan bakti kepada orang tua ataupun kurang silaturrahim. Tidak!!! Ini tidak boleh terjadi. Jangan biarkan hal ini menyita perhatian masyarakat hingga melupakan tugas utama yang Allah bebankan pada mereka.





Monday, October 7, 2013

Jamaah Tabligh di Kazakhstan


Question
A request came to the Darul Iftaa for a Fatwā clarifying the motives of the Tablīghī Jamāt in order to present to the Kazakhstani court. According to the letter, the Kazakhstani government banned the movement of the Tablīghī Jamāt. The Tablīghī Jamāt is no longer considered a religious movement in Kazakhstan and is classified as an extremist movement.
The Fatwā was presented to Sheikhul Hadith Hadhrat Moulana Fazlur Rahman Azmi Saheb Damat Barakatuhum. Hadhrat checked the Fatwā and approved it.

Answer
The Fatwā:
The Honourable Judge,
Assalamualaikum.
In response to a request seeking clarity on the Tablīgh Jamāt movement, we hereby present the following.
An independent investigation on any issue is the corner stone of justice and fairness as also understood from the following verse of the Holy Quran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (سورة الحجرات، رقم الآية 6)
O’ those who believe, if a sinful person brings you a report, verify its authenticity, lest you harm a people out of ignorance then become remorseful on what you did. (Qurān 49:6)
We understand the importance of political stability and the need for the intelligence of the Government to closely observe and monitor the activities of various organizations. We appreciate that and welcome such scrutiny as that process helps to filter the true and sincere organizations working for the general welfare of mankind from disruptive ones.
We take this privilege to introduce your honourable self to the noble activities of the Tablīgh movement.
At the outset, the Tablīgh movement is apolitical and has no political agenda at all.
The core of the movement is to create Allāh consciousness in people and make them obedient slaves of Allāh. The aim and objective of the Tablīgh movement is to secure eternal success for every human being and to prepare for life after death and accountability to Allāh.   
The Tablīgh movement instills this sense of responsibility in every person and creates in him the desire to sacrifice his time and resources to come out in the path of Allāh for self-reformation and to inspire others.
This self-sacrifice approach driven by Allāh consciousness and concern for eternal success has been proven to be exceptionally successful throughout the world. Millions of people have reformed their lives and started coming to the Masjids to perform Salāh. They have changed their lives from immorality and shamelessness to being spiritually motivated. They have eradicated the debasing qualities and spiritual illnesses from their hearts and have replaced them with noble characteristics such as sincerity, humility, kindness, and well-wishing for all the creation of Allāh including non-Muslims and animals.
The Tablīgh movement has impacted many nations and communities and inculcated a great sense of responsibility in people. The core message of focusing on Allāh and placing one’s trust in Allāh (Imān and Yaqīn) has made:
a)     The poor to be content with their lot.
b)    The rich and affluent to share their resources and develop the under privileged.
c)     The negligent to stand up to his responsibility and support his family with earning an income.
d)    The careless to abandon wine and intoxicants
e)     The immodest to live a life of chastity and avoid fornication and adultery which erodes the moral fibre of the community
While a Government may be searching and contemplating on solutions to its various domestic, social, and economical challenges, the Tablīgh movement positively contributes to the reformation and solutions of the various problems solely for the pleasure of Allāh and well-being of mankind. They do not seek any political position or any reward. Their reward is by Allāh:
إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ (سورة يونس، رقم الآية 72)
My reward is only with Allāh. (Surah Yūnus, Verse 72) 
The Tablīgh movement focuses only on the following six points to achieve self-reformation:
  1. Entrenching the belief in the Oneness of Allāh (Tawhīd)
  2. The importance of performing Salāh
  3. Education and Remembrance of Allāh
  4. To honour fellow Muslims
  5. Sincerity (Ikhlās)
  6. Propagating the message of Islām
These six points can be condensed in two points-
  • Being sensitive to Allāh and thereby being obedient to Allāh.
  • Being sensitive to fellow creations and induce love and harmony for each other.
If anyone attributes anything else to the Tablīgh movement other than what we have stated he is misinformed.
Honourable Judge, we are sure you will be guided by your training and skill of justice and fairness in independency, examining the Tablīgh movement. We are sure you will conclude that the Tablīgh movement is an asset for mankind and contributes to establishing and promoting a wholesome way of life for one and all.
(Mufti) Ebrahim Desai
Checked and Approved by,
Sheikhul Hadīth Hadhrat Moulana Fazlur Rahman Azmi Saheb Damat Barakatuhum


[http://askimam.org/public/question_detail/25660]

Saturday, October 5, 2013

Meninggalkan Anak Isteri untuk Perjuangan Agama

Dari Ummu Sulaiman ra., bahwa Nabi SAW. berkata kepadanya, “Bersabarlah engkau! Demi Allah! Sejak tujuh hari ini keluarga Rasulullah SAW. tidak mempunyai sesuatu pun untuk di makan, dan sudah tiga hari api tidak di nyalakan di bawah panci mereka. Demi Allah! Seandainya aku meminta kepada Allah agar bukit-bukit Tihamah dijadikan emas, pastilah Allah akan mengabulkannya.”

Dengan riwayat-riwayat ini, apakah dapat dikatakan bahwa Rasulullah SAW. telah sengaja menzhalimi keluarganya, karena sibuk dalam berdakwah sehingga menyebabkan keluarga beliau sendiri kelaparan hingga berbulan-bulan? Na’udzubillah min dzalik!

Anak dan istri berpisah sementara untuk kepentingan agama tidak hanya dilakukan oleh Rasulullah SAW, sebagian istri-istri nabi pun mengalaminya. Misalnya, Siti Hajar istri Ibrahim as. yang ditinggalkan sendirian hanya bersama bayinya di tengah gurun pasir gersang tanpa ada perbekalan yang mencukupi, semata-mata demi membantu tugas dakwah dan perjuangan agama suaminya.

“(Ibrahim berkata), ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tidak bertumbuh-tumbuhan di dekat rumah-Mu yang dihormati.” (QS. Ibrahim 37)

Ibrahim as. tidak meninggalkan keluarganya untuk tiga hari, empat puluh hari atau empat puluh bulan, tetapi beliau telah meninggalkan keluarganya 13 tahun!
Dan ternyata, setelah diuji dengan harus meninggalkan anak dan istrinya selama bertahun-tahun, demi menunaikan tugas dakwah dan menyeru manusia kepada agama, justru lahir dari keturunan Ibrahim as., nabi-nabi dan rasul-rasul Allah. Apakah kita akan katakan bahwa Ibrahim as. adalah lelaki yang tidak bertanggung jawab terhadap keluarganya dan menyia-nyiakannya?
Bagitu juga istri Nabi Musa as. yang ditinggalkan oleh Musa as. sendirian di tengah hutan untuk berdakwah kepada Fir’aun.

Allah SWT berfirman, “Ketika ia (Musa as.) melihat api, lalu ia berkatalah kepada keluarganya, “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api. Semoga aku dapat membawa sedikit dengannya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk.” (QS. Thaahaa 10) 

Pada ayat selanjutnya Musa as. diperintah, “Pergilah kepada Fir’aun sesungguhnya ia telah melampaui batas.”
Lalu apakah Nabi Musa as. juga di tuduh telah menzhalimi keluarganya dan menyia-nyiakannya, karena telah meninggalkan istrinya di tengah hutan belantara semata-mata karena ia telah diperintahkan untuk berdakwah kepada Fir’aun selama 40 hari ?

Selain para Anbiya, keluarga para sahabat ra. juga telah berbuat demikian, sebagaimana banyak tertulis di dalam kitab-kitab, salah satu misalnya, adalah kisah hijrahnya Abu Bakkar ra. ke Madinah.

Asma’ binti Abu Bakar ra. meriwayatkan, “Ketika Rasulullah saw. keluar untuk hijrah, Abu Bakar ra. pun ikut keluar berhijrah bersama beliau. Abu Bakar membawa seluruh hartanya sebanyak 5000 atau 6000 dirham. Dia pun pergi dengan membawa seluruhnya. Kemudian datanglah kakek kami; yaitu Abu Quhafah ra.. Ia berkata, “Demi Allah, Abu Bakar itu pasti telah menyusahkan kalian dengan harta dan dirinya.” Aku berkata, “Sama sekali tidak! Wahai kakek, sesungguhnya ia telah meninggalkan banyak harta.” Maka aku ambil kerikil-kerikil dan kuletakkan di tempat yang biasa ayahku menyimpan hartanya di lubang di rumahnya. Lalu kututup dengan kain, dan kutuntun tangan kakekku, dan berkata, “Ulurkan tanganmu ke sini, kek. “Dia berkata, “Kalau begini tidak masalah. Sungguh dia telah meninggalkan ini untuk kalian. Dia sudah berbuat baik.”

Umar bin Khattab ra. berkata, Rasulullah SAW. menyuruh kami bersedekah. Ini bertepatan dengan harta yang ada padaku. Aku berkata, “Jika suatu hari aku akan menang di atasnya.” Lalu aku datang dengan setengah hartaku, lalu Rasulullah SAW. bertanya, “Sepertiga.” Lalu datang Abu Bakar ra. membawa seluruh harta yang ada padanya. Maka Rasulullah SAW. bertanya, “Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk ahli keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Berkata Umar, “Aku memang tidak akan menang di atas Abu Bakar sedikit pun selamanya.”

Apakah Abu Bakar ra. divonis oleh Nabi SAW.  sebagai suami dan ayah yang dzhalim kepada keluarganya, karena ia tidak meninggalkan apapun bagi keluarganya ketika berhijrah bersama Rasulullah SAW.? Bahkan justru Rasulullah SAW. Tidak mengingkari pengorbanan Abu Bakar As-Shiddiq ra. Yang menyerahkan seluruh hartanya karena beliau mengetahui kebenaran niatnya.

Tindakan Abu Bakar ra. Tidaklah menyalahi firman Allah Al-Baqarah, ayat; 219, (Allah SWT berfirman, “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,”) karena Allah mengakui pengorbanan yang dilakukan oleh seseorang demi agama dan umat.

Juga seperti sahabat Anas bin Malik ra. Ia memiliki anak yang sulit di hitung karena banyaknya. Ia pernah berkata, “Cucu-cucuku itu mempunyai hitungan tersendiri. Tetapi aku sendiri telah menguburkan 125 anak dari keturunanku. Selain itu, yang masih hidup pun banyak sekali.” Walaupun demikian banyak tanggung jawab keluarga, terhadap istri dan anak-anaknya, ia terkenal sebagai sahabat yang banyak meriwayatkan hadist dan sering menyertai jihad fisabilillah.

Demikian juga, Zubair bin Awwam ra. yang pada waktu mati syahidnya, ia meninggalkan sembilan orang anak laki-laki, sembilan anak perempuan, dan empat orang istri. Bahkan ada sebagian  dari cucunya yang lebih tua daripada anak-anaknya sendiri.

Meskipun demikian, ia merupakan salah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadist. Ia juga ikut serta dalam banyak peperangan. Sekalipun mempunyai banyak tanggungan keluarga, namun anak-anak dan istrinya itu tidak menghalanginya dari kesibukan memperjuangkan agama Allah.

Di dalam kisah lain, diriwayatkan Sa’ad bin Khaitsamah ra. bercerita, “Aku tertinggal dari rombongan Rasulullah SAW. Yang ke Tabuk. Aku pun kembali ke rumah. Di sana kudapati istriku sedang menyiram rumah dengan air (agar menjadi sejuk), maka kukatakan kepada istriku, “Sungguh tidak adil kalau aku masuk rumah dan beristirahat di tempat yang teduh, sedangkan pada saat ini Rasulullah SAW. Sedang berada di tempat yang sangat panas.” Maka segera kusiapkan kantong dan bekalku. Melihat hal itu, istriku berteriak, “Abu Khaitsamah! Hendak kemana engkau?” Kujawab, “Menyusul Nabi SAW. Ke Tabuk.” Setelah itu aku keluar, dan di tengah perjalanan, aku bertemu Umar bin Wahab, lalu aku berkata kepadanya, “Sungguh kamu ini seorang pemberani. Aku ingin tahu di mana Nabi SAW berada. Dan sungguh aku merasa berdosa. Karena itu berjalanlah di belakangku agar dapat kutemui Nabi SAW. empat mata.” Umar pun berjalan mengikuti dari belakang. Ketika aku mendekati pasukan itu, maka orang-orang melihatku dari jauh dan berkata, “Ada seseorang mengendarai kuda ke arah kita!” Rasulullah SAW. berkata, “Ya Rasulullah, celaka aku!” Kemudian kuceritakan kisah perjalananku, maka Rasulullah SAW. mendoakan kebaikan untukku.”

Abu Naufal bin Abi ‘Aqrab menceritakan, “Ketika Harits bin Hisyam akan berangkat dari Makkah menuju ke Syam, maka seluruh penduduk Makkah sangat merisaukan kepergiannya. Semua orang kecuali anak-anak yang masih menyusui mengantar kepergiannya ke luar kota Makkah. Ketika sampai di bukit Bath-ha atau dekat tempat itu, maka dia berhenti, dan orang-orang merasa bersedih, maka dia berkata, “Wahai kaumku! Demi Allah, sesungguhnya aku pergi bukan karena lebih menyayangi diriku dari pada diri kalian, juga bukan karena aku lebih memilih kota lain dari pada kota kalian. Tetapi aku pergi karena memenuhi perintah agama untuk berjihad di jalan Allah, dan hingga saat ini telah banyak kaum Quraisy yang telah mendahului aku pergi padahal mereka bukan termasuk pemuka atau pun dari keluarga yang berkedudukan tinggi. Keadaan kita sekarang ini, demi Allah! Sesungguhnya kita mengorbankan emas di jalan Allah sebanyak gunung-gunung di kota Makkah, niscaya kita tidak akan melebihi pahala satu hari mereka di jalan Allah. Demi Allah! Seandainya mereka mendahului kita di dunia, maka sekurang-kurangnya kita dapat menyamai mereka di akhirat. Sebaiknya orang yang beramal merasa takut kepada Allah dengan amalnya.” Setelah itu diapun berangkat menuju ke Syam, dan dia juga membawa kerabatnya untuk ikut serta dan ia tetap tinggal di sana hingga mati syahid, sehingga Allah merahmatinya.”

Semua kisah di atas dengan tegas menunjukkan bahwa meninggalkan keluarga untuk sementara demi kepentingan agama. Namun penerapannya bagi kita perlu dilakukan dengan sebijak dan sehikmah mungkin, sehingga maksud untuk menyebarkan agama menjadi terwujud dengan baik

http://wargajenggot.blogspot.co.uk/2013/10/meninggalkan-anak-istri-untuk.html]


Gambar hiasan

Friday, October 4, 2013

Tidur di Masjid (dengan niat Iktikaf)


ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺇِﺳْﺤَﻖُ ﺑْﻦُ ﻣَﻨْﺼُﻮﺭٍ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﻧُﻤَﻴْﺮٍ ﺃَﻧْﺒَﺄَﻧَﺎ ﻋُﺒَﻴْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﻋُﻤَﺮَ ﻋَﻦْ ﻧَﺎﻓِﻊٍ ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﻗَﺎﻟَﻜُﻨَّﺎ ﻧَﻨَﺎﻡُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻬْﺪِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ

Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Manshur] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Numair] berkata, telah memberitakan kepada kami [Ubaidullah bin Umar] dari [Nafi'] dari [Ibnu Umar] ia berkata; "Pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kami biasa tidur di masjid."

[Sunan Ibnu Majah]

[dipetik dari https://www.facebook.com/4bulan?hc_location=timeline]

Gambar hiasan

Menjawab Bantahan Terhadap Kitab Fadho'il A'maal

Bantahan mengenai

1. Kewujudan wali Abdaal
2. Hakikat Kasyaf atau Ilham
3. Penghuni kubur dapat melihat dan mendengar orang yang masih hidup

telah dijelaskan oleh Darul Ifta' Camperdown di

http://projectdeoband.blogspot.co.uk/2009/09/answering-objection-on-fazaail-e-amaal.html#more





Thursday, September 26, 2013

Dalil / Penunjuk Jalan / Rahaba dalam usaha Dakwah dan Tabligh


ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﻛَﺜِﻴﺮٍ ﺃَﺧْﺒَﺮَﻧَﺎ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴﻞُ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ ﺑْﻦُ ﺍﻟْﻤُﻐِﻴﺮَﺓِ ﻋَﻦْ ﺳَﺎﻟِﻢٍ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﺑِﺮِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻟَﻜَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻌْﺮِﺽُ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﻮْﻗِﻒِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃَﻻَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻳَﺤْﻤِﻠُﻨِﻲ ﺇِﻟَﻰ ﻗَﻮْﻣِﻪِ ﻓَﺈِﻥَّ ﻗُﺮَﻳْﺸًﺎ ﻗَﺪْ ﻣَﻨَﻌُﻮﻧِﻲ ﺃَﻥْ ﺃُﺑَﻠِّﻎَ ﻛَﻠَﺎﻡَ ﺭَﺑِّﻲ

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Katsir] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Isra'il] berkata, telah menceritakan kepada kami [Utsman Ibnul Mughirah] dari [Salim] dari [Jabir bin Abdullah] ia berkata, "Pada suatu saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menawarkan dirinya kepada manusia di tempat pemberhentian, baginda bersabda: "Adakah seorang laki-laki yang mau membawaku kepada kaumnya, sesungguhnya orang-orang Quraisy telah melarang aku menyampaikan pesan Tuhanku."


[Sunan Abu Daud]

[dipetik dari https://www.facebook.com/4bulan/posts/574968002538731]

Friday, September 20, 2013

Syaikh Yasin al-Fadani Rahimahullah


AL-'ALLAMAH al-Mutafannin Musnid al-'Asr 'Alam al-Din Abu al-Faidh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa al-Fadani al-Indunisi al-Makki al-Syafii, ulama' besar dari tanah Jawi Nusantara yang mengajar di Masjidil Haram seabad lalu.

Melalui usaha dakwah Ilallah, Insya Allah, Allah akan hidupkan dan semarakkan semula generasi Ulama' yang haq di seluruh nusantara, dan seluruh dunia amnya.

Syeikh Yasin al-Fadani (duduk tengah) bersama warga Madrasah Dar al-Ulum al-Diniyyah, Mekah tahun 1375 Hijrah sekitar tahun 1955 Masihi.



Wednesday, September 18, 2013

Kekuatan kitab Hayatus Sahabah dari dua tradisi keilmuan

Syeikh Maulana Yusuf rahimahullah juga merupakan sahabat kepada ayahanda al'Allamah Habib Umar bin Hafidz iaitu ash Syahid Habib Muhammad rahimahullah yang merupakan Mufti Tarim pada masa itu, Habib Umar menceritakan semasa rombongan Syeikh Maulana Said Ahmad Khan rahimahullah datang ke Tarim ayahnya yang mula-mula nusrah rombongan tersebut.. kemudian ayahnya ikut rombongan tersebut ke India Pakistan.. Di Pakistan ayahnya tinggal selama 2 bulan. Kemudian ayahnya pergi ke Nizamuddin di India dan duduk bersama Syeikh Maulana Yusuf rahimahullah selama 4 bulan. Beliau kata ayahnya bersama-sama Syeikh Maulana Yusuf menyiapkan kitab Hayatus Sahabah sampai sekarang masih ada tulisan tangan ayahnya yang tersimpan di Nizamuddin, India. Lebih kurang 4 atau 5 tahun lepas anak Habib Umar iaitu Sayyid Salim pergi ziarah Nizamuddin, Syeikh Maulana Saad (cucu Syeikh Maulana Yusuf) tunjukkan kepada Sayyid Salim tulisan datuknya (Habib Muhammad) yang turut bersama mengarang kitab Hayatus Sahabah bersama datukku, Syeikh Maulana Yusuf. Kemudian setelah ayah Habib Umar balik ke Tarim dari India dan meneruskan berdakwah mengajak manusia kepada Allah swt, dan pada masa itu zaman komunis seterusnya ayahnya telah ditangkap dan dibunuh oleh Komunis.. 

(dipetik dari https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151848475361999&set=a.422328956998.217003.295419981998&type=1

Ini bermakna, kitab Hayatus Sahabah adalah hasil dari gabungan kekuatan sanad dua gergasi keilmuan, iaitu keilmuan para alim Ulama' aliran Deobandi (Maturidi-Hanafi-Chisyti) dan aliran Yamani  (Asy'ari-Syafi'i-Ba'alawi) serta gabungan dua keturunan alim ulama' yang mulia, iaitu keturunan dari Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam (para Haba'ib) dan keturunan dari Sayyidina Abu Bakar Siddiq Akbar Radhiallahu 'anhu (para Bani Tamim).


Monday, September 16, 2013

Al-Habib Munzir Bin Fuad Al-Musawa kembali ke Rahmatullah



Semoga Allah menempatkan Habib bersama-sama dengan Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam dan para sahabat baginda di Jannatul Firdhaus. Amin.

AlFatihah.



Friday, August 30, 2013

Habib Umar & Syaikh Ali Jum'ah (Semoga Allah Taala memelihara keduanya)


Habib Umar ialah alim besar dari Yaman manakala Syaikh Ali Jum'ah (yang pernah menjadi murid kepada Syaikh Muhammad Alawi al-Maliki dan Syaikh Yasin Fadani) adalah alim besar dari Mesir . Keduanya menyokong dan membantu usaha dakwah dan tabligh.

Ayah Habib Umar, Habib Muhammad bin Salim (Rahimahullah) telah bersama-sama membantu Hazrat Maulana Muhammad Yusuf (Rahmatullah Alaih) didalam menyusun kitab Hayatus Sohabah, dan menjalankan usaha dakwah dan tabligh di Yaman sehingga syahid ditangan komunis.
http://warasatul-anbiyak.blogspot.co.uk/2012/09/habib-muhammad-bin-salim-pemula-usaha.html

Syaikh Ali Jum'ah mengeluarkan fatwa mempertahankan kata-kata dari Malfuzat Hazrat Maulana Muhammad Ilyas (Rahmatullah alaih).
http://dakwah-ilallah.blogspot.co.uk/2013/05/kenyataan-maulana-ilyas-dan-pandangan.html

Semoga Allah sentiasa memelihara alim ulama' yang mendokong dan membantu usaha dakwah yang suci murni dan dicintai ini, Amin.




Friday, August 16, 2013

Ya Allah! Ampunilah kami



Politik Menurut Jemaah Tabligh






Pada saat sekarang ini, banyak orang atau golongan yang mencela Jamaah Tabligh karena di dalam Jamaah Tabligh tidak menyinggung masalah Politik. “Tabligh ini memang bagus tetapi kenapa mereka tidak melibatkan diri di dalam politik”, “Tabligh ini sesat karena tidak ikut politik.” Kata-kata seperti ini memang sering terdengar didalam masjid , surau juga di dalam blog dan website, terlebih lagi ketika musim pemilihan umum.

Apakah Jamaah Tabligh menolak politik?

Kalau politik dimaksudkan kepada kaedah Sistem Syura (musyawarah) yang didasarkan kepada Sunnah, maka rasanya tidak ada satu pun ‘karkun’ (da’i yang aktif di Tabligh) yang menolaknya. Tapi kalau politik itu dimaksudkan kepada Sistem Demokrasi Partai, maka mungkin sebagian yang setuju dan sebagian yang menolaknya. Sebenarnya jika kita perhatikan dengan teliti, Jamaah Tabligh ini adalah satu usaha yang berjalan bukan dengan kekuasaan, harta, pangkat, kedudukan maupun dukungan massa, tetapi merupakan satu usaha yang berjalan di atas ‘amalan’ untuk mengajak semua umat untuk beramal. Sebagaimana di dalam solat berjamaah semua jenis orang akan ikut serta. Ada orang cacat, ada yang sehat, ada yang hitam ada yang putih, ada alim, ada jahil, ada yang kaya ada juga yang miskin. Maknanya semua golongan masyarakat ikut serta di dalam solat berjamaah tersebut. Tidak ada yang namanya sholat jamaah itu khusus hanya untuk orang cacat saja, khusus untuk orang kaya saja, atau khusus untuk orang alim saja. Sesungguhnya jika dinamakan 'amalan' maka semuanya bisa terlibat.

Maka jika sekiranya Jamaah Tabligh ini menjadi badan politik atau partai politik maka sudah tentunya sukar untuk mengumpulkan semua golongan dalam masyarakat. Oleh karena merupakan ‘amalan’, maka mudah untuk mengumpulkan umat seperti juga amalan haji, dimana para jamaah berkumpul di Padang Arafah.. Jika kita lihat pada partai-partai politik, sesama partai pun terkadang sering bergaduh dan berantem. Sebab itu dalam Jamaah Tabligh ini tidak ada iuran bulanan, tahunan, perlembagaan, manifesto dan sebagainya. Yang ada hanyalah Usul Dakwah, dan usul dakwah ini adalah hampir sama dipraktikkan di seluruh dunia. Usul dakwah ini bolehlah diumpamakan seperti ‘kaifiat’ di dalam sesuatu amal.

Selain itu di dalam Jamaah Tabligh mengikut Sistem Syura. Bermula dari Markaz Utama sampai kepada negara, negeri, kawasan dan sampai kepada mahalah (masjid) dengan satu kepimpinan tanpa berdasarkan batas negara atau negeri. Cuma didalam urusan dakwah , bukan dalam urusan negara. Hanya itu saja bedanya.

Selain itu kita dapati bahawa ulama tidak sepakat di dalam mewajibkan penyertaan individu Islam di dalam Sistem Demokrasi Kepartaian sebagaimana yang ada di hari ini.. Malah ada ulama mengharamkan Sistem Demokrasi Kepartaian ini. Kata mereka Sistem Demokrasi Kepartaian yang diamalkan sekarang ini bertentangan dengan Sistem Syura yang ada di dalam Islam. Beberapa ulama terkenal yang menolak sistem ini antaranya

1. Syeikh Fathi Yakan sebagaimana di dalam kitab beliau “ Musykilatud Dakwah Wad Dai’yah” halaman : 132 -135.

2 Syeikh Abu Urwah Al-Lubnani melalui kitab beliau “Al-Abjadiyyat” halaman 101 -103 pada tajuk “Al Mabdaiyah Wal Marhaliyyah Fil A’malil Islami”.

3. Syeikh Abul Hassan Ali Nadwi Al Hassani pula menyatakan perkara yang sama di dalam beberapa kitab beliau antaranya “Ilal Islami Min Jadid” halaman 107 dan 161. Beliau ini juga menyatakan Kerajaan Islam (Politik Islam) bukanlah impian, bukan matlamat dan juga bukan merupakan tujuan kesibukan harian Nabi saw dan Para Sahabat rahum.

4. Perkara yang sama juga dipertegaskan oleh Mufti Washi Mazhar Pakistan di dalam kitab beliau “Al Baas Al Islami” Bil 1 Jld.34 cetakan Lakhnow, India. Beliau menjelaskan secara terperinci ta’rifan politik itu sendiri berdasarkan Sunnah. Beliau juga menyatakan mengundi dan pilihan raya adalah haram. Malah ada sebagian ulama membedakan antara Syura dan Demokrasi Kepartaian seperti berikut:

Perbedaan Antara Syura dan Demokrasi Kepartaian

Sebagian orang menganggap bahwa demokrasi adalah wujud praktik Sistem Syura dalam Islam. Ini adalah anggapan yang salah, perbedaan antara keduanya bagaikan timur dan barat. Di antara perbedaannya adalah:

1. Sistem Syura berasal dari Allah dan selalu berlandaskan di atas syariat sedangkan Sistem Demokrasi Kepartaian berlandaskan dukungan mayoritas walaupun yang mendukung adalah orang-orang fasiq bahkan orang-orang kafir.

2. Sistem Syura dilakukan pada perkara yang belum jelas ketentuannya dalam syariat, dan jika ada ketentuan syariat maka itulah yang ditetapkan. Adapun dalam Sistem Demokrasi Kepartaian perkara yang sudah jelas dalam syariat pun dapat diubah jika suara mayoritas menghendaki berbuat demikian, sehingga dapat menghalalkan yang haram dan sebaliknya.

3. Anggota Majelis Syura adalah kebanyakannya adalah para ulama dan yang memiliki sifat-sifat tertentu. Sedang Anggota Dewan Parlemen / Negeri dalam Sistem Demokrasi Kepartaian tidak ada ciri-ciri berkenaan. Ada yang berilmu agama, ada yang jahil, ada yang bijak ada yang tidak, ada yang menginginkan kebaikan rakyat, dan ada yang mementingkan diri sendiri, mereka inilah yang menentukan semua perancangan baik dalam dalam sudut agama atau pun dunia.

4. Dalam Sistem Syura, kebenaran tidak ditentukan dengan majoriti tapi dengan kesesuaian terhadap sumber hukum syariat. Sedangkan dalam Sistem Demokrasi Kepartaian, kebenaran adalah suara majoriti walaupun menentang syariat Allah yang jelas.

5. Sistem Syura adalah salah satu ciri-ciri keimanan, karena dengan Sisitem Syura kita mengamalkan ajaran Islam. Sedangkan Sistem Demokrasi Kepartaian bias menjadi wujud kekufuran kepada Allah, karena jika mayoritas memutuskan perkara kekufuran maka itulah keputusan yang perlu diikuti dan dituruti oleh semua orang.

6. Sistem Syura menghargai para ulama, sedangkan Sistem Demokrasi Kepartaian menghargai orang-orang kafir.

7. Sistem Syura membedakan antara orang yang shalih dan yang jahat, sedangkan demokrasi menyamakan antara keduanya.

8. Sistem Syura bukan merupakan kewajiban di setiap masa, bahkan hukumnya berbeda bersesuaian dengan keadaan. Sebaliknya Sistem Demokrasi Kepartaian merupakan sesuatu yang diwajibkan oleh Barat kepada pengamalnya dengan kewajiban yang melebihi kewajiban shalat lima waktu dan tidak mungkin keluar darinya.

9. Sistem Demokrasi Kepartaian jelas menolak Islam dan menuduh bahwa Islam lemah serta tidak mempunyai maslahat, sedangkan Sistem Syura tidak demikian.

( Tanwiruzh Zhulumat, hal. 21-36 dan Fiqih As-Siyasah Asy-Syar'iyyah hal. 61)

Walau bagaimana pun masih ada ulama yang membolehkan Sistem Demokrasi Kepartaian ini, antaranya Syeikh Yusuf Al Qardawi. Beliau membolehkan system demokrasi mirip dengan keadilan. Keadilan itu sendiri adalah tuntutan di dalam Islam. Perkara yang sama juga disetujui oleh Syeikh Yassin Hamas, juga beberapa ulama di Tanah Arab. Selain daripada itu banyak juga yang memberi alasan sebagai darurat. Namun hal itu disanggah oleh sebagian pihak khususnya “Hizbut Tahrir” melalui beberapa seri ‘pamphlet’ yang biasa diedarkan di masjid-masjid.

Namun dalam masalah ‘khilaf’ (perbedaan pendapat dalam Islam) antara yang berpendapat wajib perpolitik dan yang mengharamkan politik kepartaian, maka bolehlah kita kategorikan sebagai ‘ijtihad’. Masing-masing akan ada pahala walau pun tersalah di dalam ‘ijtihadnya’. Namun bila dikatakan ‘ijtihad’ maka yang berfahaman wajib berpolitik sepatutnya tidak menyalahkan atau mengutuk mereka yang mengharamkan berpolitik kepartaian. Sebagaimana Mazhab Hanafi mengatakan tidak perlu makmun membaca Fatihah dibelakang imam dalam solat berjamaah karena bacaan imam adalah bacaan makmum. Sedangkan Mazhab Syafie mewajibkan makmum membaca Fatihah. Masing-masing berlapang dada dengan pegangan masing-masing. Tidak pula saling mengutuk antara satu sama lain. Ini adalah karena masing-masing faham bahawa hssl itu adalah ‘ijtihad’ dan ‘khilaf’. Berlainan ditempat kita malah menjatuhkan hukum sesat dan sebagainya.

Wallahu’alam

Peringatan Untuk Karkun

Walau pun huraian di atas berdasarkan ‘platform’ Jamaah Tabligh namun kita diarahkan dan diminta oleh ‘Elders’ untuk menghormat semua Gerakan Islam, Organisasi Keislaman, ataupun kepada Partai Islam. Bersikaplah lemah lembut dan penghormatan yang tinggi serta akhlaq mulia. Jagalah mulut-mulut kita dari mencaci dan menghina mereka yang berfaham berlainan dengan kita.

Mohon maaf jika tersalah dan tersilap juga kepada teman-teman dari jamaah atau partai Islam sekiranya tulisan di atas menyinggung saudara semua. Teruskan dengan perjuangan yang saudara yakini. Doakan untuk saya yang hina ini.

[dipetik dari http://ikhwanulmuslimin89.blogspot.com/2012/05/politik-menurut-jamaah-tabligh.html]



Tuesday, August 6, 2013

Antara Surat-Menyurat Maulana Zakariyya al-Kandahlawi رحمه الله تعالى

Ketelitian Syeikhul-Hadith Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi di Dalam Meriwayatkan Hadis


Entri ini merupakan petikan sebahagian daripada penulisan ilmiah pelajar di bawah seliaan saya, A’ali Imran bin Jamal Mohamad, mengenai Syeikhul-Hadith Hadrat Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi dengan merujuk kepada kitab Aap Beetiautobiografi Maulana Muhammad Zakariyya sendiri. Saya kongsikan kerana nilai ilmu dan adab yang terkandung dalam petikan tersebut. Beberapa suntingan telah dibuat terhadapnya.

-------------------------

Sejak Hadrat Syeikh Muhammad Zakariyya mengajar hadis di dalam tahun 1340H (1922M), beliau dapati bahawa kesemua periwayatan sanad pengajaran hadis dan keizinan talian para masyaikh adalah melalui Musnid al-Hind Hadrat Hakim al-Islam Syeikh Shah Waliyullah ad-Dehlawi. Maka beliau telah mencatat seluruh rantaian-rantaian keizinan pengajaran hadis di India melalui hantaran surat-surat kepada semua madrasah, dengan tujuan; apakah terdapat sanad daripada Hadrat Syeikh Shah Waliyullah di dalam rantaian sanad mereka?

Akhirnya, beliau dapati tiada satu pun jawapan daripada madrasah-madrasah di India yang tidak mempunyai sanad Hadrat Syeikh Shah Waliyullah. Kesemuanya mempunyai hubungan talian yang sampai kepada Hadrat Syeikh Shah Waliyullah. Gurunya sendiri, iaitu Hadrat Maulana Khalil Ahmad juga mempunyai sanad daripada keluarga Hadrat Syeikh Shah Waliyullah dan para masyaikh di Mekah, sebagaimana diterangkan di dalam muqaddimah Bazl al-Majhud,Lami’ ad-Darari dan Awjaz al-Masalik. Dengan ini, Hadrat Syeikh selalu menamakan Hadrat Syeikh Shah Waliyullah sebagai Musnid al-Hind. (Aap Beeti 5. hlm. 154-155.)

Antara tiga kitab hadis yang dikarang oleh Syeikh Shah Waliyullah, iaitu;
-          pertama kitab al-Fadlul Mubin fi al-Musalsal min Hadithin Nabiyyil Amin,
-          yang kedua kitab ad-Durr at-Thamin fi Mubasysyaratin Nabiyyil Amin, dan
-          yang ketiga kitab an-Nawadir fi Ahadith Saiyyidil Awa‘ili wal Awakhir.
Dua daripada tiga kitab Syeikh Shah Waliyullah, iaitu kitab ad-Durrdan kitab an-Nawadir terdapat beberapa hadis yang diriwayatkan oleh sesetengah sahabat RA di dalamnya yang mana para ulama hadis mempunyai rasa keengganan yang berat menerima hadis-hadis yang dinukilkan. Keputusannya, Hadrat Syeikh mula ragu-ragu tentang keizinan untuk meriwayatkan hadis-hadis tersebut.

Justeru itu, di dalam tahun 1352H (1933M) Hadrat Syeikh telah menulis kira-kira 50 keping surat kepada kesemua para masyaikh, antaranya Syeikh al-Islam Hadrat Maulana Saiyyid Hussain Ahmad al-Madani, Hadrat Hakim Jamiluddin Naginwi (anak murid kepada Hadrat Maulana Abdul Rashid Ahmad Gangohi), Hadrat Maulana Mufti Kifayatullah, dan berbagai-bagai ulama yang lain bagi meminta pandangan mereka. Kebanyakan mereka menyatakan ketidak arifan mengenai kitab-kitab tersebut dan belum lagi bertemu pandangan-pandangan kritikal daripada kalangan muhaddithin. Dalam hal ini, Hadrat Syeikh juga menulis surat kepada Hakim al-Ummat Hadrat Maulana Asyraf ‘Ali Thanwi.

Berikut adalah ringkasan daripada kandungan surat Hadrat Syeikh kepada Hadrat Maulana Asyraf ‘Ali Thanwi:

“Kepada Hadrat Hakim al-Ummat yang dihormati Maulana Thanwi,
(semoga Allah SWT menjadikan bayangan berkatmu tetap selalu)

Ketiga-tiga risalah oleh Mujadid India Hadrat Shah Waliyullah mengandungi banyak hadis yang mana menurut peraturan kaedah para muhaddithin mengkritik menentanginya malah dianggap maudhu’, khususnya hadis yang diriwayatkan oleh Ratan Hindidan Ibnu Abi Dunya. Bagi Ratan Hindi, tidak ada bukti putus bahawa beliau adalah seorang sahabi dan di dalam Isabah terdapat suatu kritikan yang panjang menentanginya. Di dalam Lisanul Mizan, Ibnu Abi Dunya telah menyebut kenyataan dan istilah yang tidak selari.

Periwayatan hadis-hadis ini berlaku secara meluas sejak dari zaman Hadrat Shah Waliyullah. Saya telah menerima keizinan daripada Hadrat Saharanpuri untuk meriwayatkan hadis ini dan di atas desakan pelajar-pelajar, saya juga memberi keizinan terhadap banyak daripada hadis-hadis ini kepada mereka.

Dalam tahun ini, keraguan telah meningkat kepada saya bahawa menurut kaedah muhaddithin, meriwayatkan hadis-hadis sedemikian adalah penerusan meriwayatkan hadis palsu. Tetapi di sebalik dan hakikatnya ialah hadis-hadis itu wujud di dalam karya Hadrat Shah Waliyullah. Sedangkan kajian-kajian muhaddithin di dalam ilmu asma’ ar-rijal melarang meriwayatkan hadis ini.

Sekarang soalannya ialah; kajian siapakah yang lebih dipilih untuk diterima dan dapat dipergantungi? Malahan di Hijaz, hadis-hadis ini secara umumnya diriwayatkan. Jikalau keizinan tidak diberikan kepada para pelajar untuk menyampaikannya dan memindahkannya, maka terdapat bahaya hadis ini menjadi hilang kesemuanya setelah ia hidup selama 1300 tahun.

Jikalau keizinan diberikan pula, berkemungkinan termasuk ke dalam medan penyebaran hadis palsu.”

Berikut adalah ringkasan daripada kandungan surat jawapan Hadrat Maulana Asyraf ‘Ali Thanwi kepada Syeikh al-Hadith Hadrat Maulana Muhammad Zakariyya:

Saudara yang dihormati, assalamua’laikum.

Dengan pendekatanmu yang wara’ dan berhati-hati, kamu telah menjadikan perkara ini lebih mustahak daripadanya. Apapun, terdapat beberapa hadis, malahan di dalam Ibn Majah ada yang telah diisytiharkan palsu. Tetapi walaupun demikian, periwayatan hadis-hadis tersebut berterusan tanpa ada apa-apa bantahan.

Periwayatan hadis oleh saudara-saudara tua bukanlah bukti kesahihannya. Apa sahaja yang sampai kepada mereka, telah diriwayatkan oleh mereka. Meriwayatkan hadis merupakan satu perkara dan sama sekali berbeza dengan meletakkan tanda kesahihan dan betul terhadapnya. Walau bagaimanapun, meriwayatkan hadis yang sedemikian dengan menunjukkan penjelasan terhadap ketidak sahihannya yang samar adalah perlu. Dengan cara ini, periwayatan hadis-hadis palsu dibenarkan oleh pendapat sepakat para ulama.

Selain daripada ini, tidak ada apa-apa buat waktu ini di dalam fikiranku. Mungkinlah dengan merujuk perkara itu kepada ulama, banyaklah lagi kajian-kajian akan muncul mengenai perkara tersebut.

Wassalam,
Asyraf ‘Ali,
22 Rejab 1352 Hijri.

Begitulah serba sedikit perihal ketelitian dan kehalusan sifat yang ada pada Hadrat Syeikh sebelum dan sesudah meriwayatkan sesuatu hadis. Samada di dalam pengajian, kajian-kajian, mahupun karya-karyanya. Beliau sentiasa peka dan sangat memandang berat terhadap ketulenan ataupun kesahihan akan sesuatu perkara yang ingin disampaikan. Beliau tidak sekali-kali mengambil mudah di dalam setiap usaha-usahanya.

- tamat nukilan.