Hadith


Beramal dan Menyampaikan


Random Hadith Widget

Friday, February 28, 2014

Ya Badrotim - Rahmat Ekamatra




https://www.youtube.com/watch?v=cHOWxtE2NRg

Segala puji bagi Allah yang menjadikan sesetengah hamba-Nya mempunyai suara yang lunak merdu, yang jika digunakan untuk membesarkan Allah Subhanahu wa Taala dan memuji Rasul-Nya Sallallahu alaihi wa Sallam, tentunya boleh menambahkan lagi runtutan jiwa dan keasyikan ummat ini kepada Allah dan Rasul-Nya.

Semoga Allah menyebarkan taufiq dan petunjuk dan hidayah-Nya kepada kita semua, khususnya juga kepada golongan artis, penyanyi dan pelakon agar mereka menggunakan kelebihan yang Allah kurniakan kepada mereka untuk agama, melalui nasyid, qasidah, sholawat, zikir jihri, dan yang sepertinya. Amin.

Pembaharuan kepada kaum Haq

'Perbaharuilah iman kamu!'

'Akan datang pembaharu agama setiap abad...'

Kaum yang haq adalah yang paling berhak untuk mengalami proses pembaharuan, setiap masa dan keadaan dan tempat dan zaman.

Jika istilah 'kitab kuning' dimomokkan oleh pemomok dan si jahil sebagai buku agama lama tulisan jawi kuno yang disimpan dalam rak-rak buku buruk, maka seharusnya kita menukar istilah ini kepada 'kitab muktabar', 'kitab bersanad', atau seumpamanya, yang merujuk kepada kitab yang haq yang ditulis oleh ulama' haq dan dipelajari oleh kaum yang haq dari zaman berzaman.

Jika istilah 'pondok' disalahertikan oleh para pemfitnah sebagai tempat belajar agama yang senget bangunannya, menggunakan api pelita untuk mencahayakannya, dan beratapkan rumbia dan berdindingkan kayu yang dimakan anai-anai, maka rasanya sudah tiba masanya untuk kita menggunakan istilah pembaharuan yang menghilangkan penghinaan ini, seperti istilah 'Madrasah', 'Darul Ulum', dan seumpamanya.

Jika istilah 'Kaum Tua' membayangkan seolah-olah golongan yang haq ini dipimpin oleh ulama' yang beku pemikirannya, taksub sifatnya, jumud akalnya, tertutup terhadap perkembangan ilmu dan fatwa semasa dan sezaman, dan pelbagai bentuk hinaan yang lain, maka rasanya sudah sampai masanya istilah ini digantikan kepada istilah yang terkini seperti 'Kaum Haq', 'Golongan Ahlussunnah yang Sohih', 'Kaum Ulama' Bersanad', atau seumpamanya. Sedangkan kita semua sedia maklum bahawa golongan yang dipanggil 'Kaum Tua' inilah sebenarnya yang paling terkehadapan didalam mengeluarkan fatwa-fatwa baru yang sesuai dengan zaman berdasarkan disiplin ilmu fiqh, usul fiqh dan cabangan ilmu-ilmu lain yang diwarisi dari para pendahulu kita.

Istilah hanyalah istilah, kerana yang penting maksud istilah tersebut tercapai. Begitulah lebih-kurang sepertimana yang dinukilkan oleh Hujjatul Islam, Imam Ghazali Rahimahullah. Jika istilah sedia ada yang begitu berjasa kepada dunia Islam telah dihina sedemikian rupa sehingga mengubah persepsi masyarakat awam dari positif kepada negatif (kerana fitnah dan momokan golongan tertentu yang berkepentingan), maka tidaklah menjadi satu kesalahan rasanya untuk direvisikan dan ditukar istilah-istilah ini agar dapat terhembus nafas baru didalam usaha pembaharuan gerakan aliran tradisional Ahlussunnah wal Jamaah.

Bahkan, istilah tradisional dan tradisionalis itupun, mungkin boleh ditukar misalnya kepada 'aliran Salafussoleh yang Sohih', 'golongan Haq bersanad', atau seumpamanya yang mencerminkan kejernihan, kebenaran, kelurusan, ketelusan dan ketulusan para Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenar ini.

Usaha dakwah dan Tabligh sendiri menggalakkan penggunaan istilah 'Ahbab' merujuk kepada para pekerja yang yang berkhidmat untuk usaha agama ini, dan berusaha untuk tidak menggunakan istilah 'karkun', kerana bertujuan untuk mengelak dari persepsi eksklusiviti para pekerja dakwah ini, dan menjadikannya seperti sebuah persatuan atau pertubuhan. Padahal usaha ini adalah perintah Allah, Sunnah Rasul-Nya, amalan para sahabat, diwarisi oleh ulama' amilin turun temurun; usaha sebaik-baik ummat, untuk seluruh ummat, dan adalah milik ummat.

Maksud disini ialah, kita berusaha untuk menjadikan agama dan usaha agama ini mudah untuk diterima dan dihadamkan oleh masyarakat. Salah satu caranya ialah dengan menyesuaikan istilah-istilah sedia ada kepada istilah-istilah yang lebih mudah diterima berbanding istilah yang telah dirosakkan maknanya oleh pihak tertentu.

'Permudahkanlah, jangan dipersulitkan.'

Wallahu a'lam.

Bangunan baru Madrasah Miftahul Ulum Sri Petaling Kuala Lumpur

Thursday, February 27, 2014

Pandangan Beberapa Ulama Sunni Tentang Jamaah Tabligh



1. Al - Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz ( 1332 – 1391 H) ( Ayahanda Al Habib Umar bin Hafidz, ulama Hadhramaut pertama yang menerima usaha dakwah)

Murid beliau, Al – ‘Allamah As-Sayyid Abdul Qadir Al –Junaid menceritakan tentang beliau :
“ Beliau melaksanakan ibadah haji pada tahun 1368 H, ketika itu para ulama Haramain banyak yang berkumpul, beliau memanfaatkannya untuk meminta ijazah ilmiyah dari mereka. Setelah menunaikan kewajiban haji, beliau menuju Afrika Timur, Zanjabir dan Tanzania. Penduduk disana sangat antusias dengan kedatangan beliau.

Kemudian setelah itu , beberapa kali beliau menunaikan ibadah haji. Lantas memasuki India dan Pakistan dan ikut keluar di jalan Allah bersama Jama’ah Tabligh. Sebagian pemuka Jama’ah Tabligh senantiasa mengingat dan menyebut beliau hingga hari ini, hingga di India beliau terkenal sebagai tokoh ulama dari Hadramaut pertama kali menerima usaha dakwah yang penuh berkah ini.” ( http://safeena.org)

2. Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz (Pengasuh Ma’had Darul Musthafa, Tarim, Hadhramaut, Yaman)

Penanya :
“Apa pendapat Anda tentang Jama’ah Dakwah dan Tabligh yang tersebar di seluruh penjuru dunia yang sering mengadakan perjalanan ke berbagai Negara dalam rangka menyebarkan agama ?”.

JAWAB :
“Jamaah Da’wah dan Tabligh sebagaimana gerakan dakwah yang tersebar di kalangan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Secara umum, mereka sangat baik dalam aktifitas dan keadaannya. Kebanyakan ushul (ajara pokok) jama’ah tersebut didasarkan atas dasar yang shahih lagi kuat yaitu menyampaikan tentang Allah ta’ala dan mengajak kepada amal kebaikan. 

Meskipun ada perbedaan gerakan yang terjadi, itu hanyalah karena keikutsertaan orang – orang yang bukan termasuk di antara mereka atau orang yang tidak menjalankan dakwah sesuai dengan ushul dan dasar –dasar ajarannya, sehingga terjadi percampuran yang beraneka –rupa dan menyebabkan ketidakselarasan dalam fikih, pandangan, pemikiran dan akidah. Tapi Anda haruslah berprasangka baik terhadap mereka semua dan juga pandanglah kebaikan yang tampak jelas serta jangan Anda tafsiri dengan keburukan. 

Demikian juga jauhilah segala hal yang dilarang dan keburukan yang nyata. Manusia yang tinggal dalam satu rumah saja berbeda watak dan pribadinya, apalagi dalam suatu jama’ah yang berjumlah besar. Umumnya, kebaikan pasti akan tersebar di kalangan umat nabi Muhammad saw dan setiap jama’ah atau kelompok Islam tak lepas darinya. Semoga Allah menjadikan kami dan Anda sebagai Ahli kebaikan”.( http://www.alhabibomar.com )

3. Al Habib As – Sayyid Abu Al – Hasan ‘Ali An-Nadwi Al Hasani.

“Ini adalah sebuah pernyataan yang tidak berlebihan, seandainya dikatakan bahwa dewasa ini, di belantara dunia Islam bahwa usaha yang paling luas, paling kuat, paling bermanfaat dan mengatasi semua usaha, adalah usaha dakwah da Tabligh yang berpusat di Nizhamuddin , Delhi India.

Di mana pergerakan dan pengaruh usaha ini tidak terbatas di wilayah kecil saja atau Asia saja, akan tetapi telah menjagkau ke semua benua dan di seluruh Negara – Negara Islam ataupun Negara – Negara non – Islam.

sejara dakwah, pergerakan, dan perubahan dan maslahat yang cepat telah menunjukkan bahwa ketika usaha dakwah telah berjalan dengan cepat dan bertambah luas (terutama ketika telah muncul keuntungan dari kepemimpinan yang disebabkan oleh usaha dakwah ini), maka terlihatlah berbagai kelemahan dan tujuan – tujuan yang menyimpang termasuk mengabaikan tujuan yang utama, sehingga mengurangi manfaat usaha ini atau mnghapus pengaruhnya sama sekali. 

Namun demikian, usaha tabligh sampai sejauh ini (sepanjang pengetahuan dan yang disaksikan langsung oleh penulis, yaitu sayyid Abul hasan-, pen.) masih terpelihara dari cobaan – cobaan tersebut. Hal ini disebabkan karena dalam usaha ini terdapat semangat Itsar (lebih mendahulukan orang lain daripada diri sendiri.) semangat berkorban, semangat menghormati dan memuliakan islam dan orang – orang Isalam, bertawadhu, dan merendahkan diri, semangat memenuhi kewajiban – kewajiban agama ddengan semangat lebih meningkatkan lagi, kesibukan berdzikri kepada Allah, menahan diri dari kesia-siaan dan yang tidak berfaedah, serta melakukan perjalanan – perjalanan yang lama dan jauh seraya bersabar atas berbagai kesulitan semata- mata karena Allah, itu semua sudah menjadi amalan mereka yang biasa.” 
(Muqaddimah Kitab Muntakhab Ahadits)

4. Al Habib ‘Ali Al- Jufri
Suatu ketika dalam majelis ta’limnya habib ‘Ali Al- Jufri ditanya, “Bolehkah keluar di jalan Allah Ta’ala?”

Maka beliau menjawab dengan terheran – heran, “Anda bertanya, apakah boleh keluar di jalan Allah Ta’ala ???, Keluarlah ! semoga Allah melimpahkan keberkahan bagi Anda ! betapa umat hari ini sangat membutuhkan orang-orang yang bersedia keluar di jalan Allah dalam rangka dakwah ilallah. Keluarlah dan ajaklah kami ikut bersama anda, ajaklah kami di majelis ini, semoga Allah melimpahkan keberkahan bagi Anda!

Apakah tidak mengherankan seseorang ditanya bolehkah keluar intuk khidmat agama dan dakwah ilallah ?

Subhanallah! Mereka, umat di luar sana –semoga Allah memberikan hidayah bagi mereka- tidak shalat dan puasa apalagi berdakwah…. Mereka berkata, “Apa yang mereka (para da’i) inginkan ? mengerjakan petuah – petuah yang kita dengar, “Janganlah tertipu dunia, jangan sampai hati kalian lalai…???” atau ucapan mereka, “jangan kalian berdakwah! Jangan kalian berfatwa! (semoga Allah member hidayah bagi mereka)

Memang yang paling berani beratwa, paling berani masuk neraka, fatwa itu khusus bagi ulama, seseorang tidak boleh berfatwa kecuali jika memiliki keahlian atau mengutip dari para ulama yang memiliki keahlian, sedangkan dakwah adalah menjadi tugas setiap orang yang beriman. Allah Ta’al berfirman, : Katakanlah ; “inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf : 108)

Allah berfirman, “Aku dan orang-orang yang mengikutiku bukan aku dan para ulama, ahli ceramah, para pedagang…. Maka sesuai kadar hakikat ittiba’ (mengikuti) Nabi saw. Dan pemahaman terhadap metode dakwah dan perkara yang seyogyanya dijalankan, maka wajib bagi Anda untuk menjalankan dakwah karena itulah hakikat jalan Musthafa saw., sekarang ini amal tersebut sudah merupakan hal yang fardhu bukan lagi sunnah, karena sebagian umat tidak tahu apa yang wajib mereka ketahui dalam agama. Saya katakana pada kalian, “Ribuan, puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang yang seperti itu!....bukanlah berlebihan jika saya katakana bahwa jutaaan umat islam tidak baca atihah dengan benar, orang yang telah keluar untuk berdakwah tentunya bisa memahami ucapan ini…., Kami temukan sebuah kampong yang seluruh penduduknya tidak bisa baca fatihah dengan benar kecuali hanya 3 oang saja! Ingatlah wajib bagi orang yang tahu bacaan fatihah dan dia mampu untuk berangkat dan mengajari mereka, ingatlah wajib baginya keluar dari rumahnya dan mengajarkannya. Kita memohon ampunan dan ‘afiyah dari Allah ta’ala atas tindakan kita menghalangi dari jalan Allah ta’ala.”
( http://www.alhabibali.org/library/libray2.asp )

Sumber : 

Kitab “Jamaah Tabligh Sesat ? Para Kyai & Santri Menjawab” 
Halaman 156 - 162
Disusun oleh Team tabayyun Payaman. 
Diterbitkan oleh Balai Pustaka Upaya Ilmu Iman
Ponpes. Sirajul Mukhlasin Payaman, 
Payaman PO BOX 158 Magelang 56101 Magelang, Jawa Tengah

http://palangiran.blogspot.com/2014/02/pandangan-beberapa-ulama-sunni-tenang.html — with Hidayat Prima and 5 others.

[https://www.facebook.com/groups/mahodum/permalink/735388399829100/]




Tuesday, February 25, 2014

Hukum Menerima Atau Menolak Jamaah Tabligh Di Mesjid - Mesjid

Hukum Menerima Atau Menolak Jamaah Tabligh Di Mesjid - Mesjid

HASIL BAHTSU MASA’IL PENGURUS CABANG
NAHDLATUL ‘ULAMA KABUPATEN JEPARA

MUSHOHIH :
1. KH. Ahmad Kholil (Rois syuriyah) (kalinyamatan)
2. KH. Khumaidurrohman (Wakil Rois) (Jepara)
3. KH. Sya’toni (Mustasyar) (Bate Alit)
4. KH. Mahfudz Shidiq (Wakil Rois) (Kedung)
5. KH. Nafi’uddin Hamdan (Wakil Rois) (Welahan)
6. KH. Ubaidillah (Wakil Rois) (Keling)
7. KH. Kamil Ahmad (Wakil Rois) (Kalinyamatan)
8. KH. Muhsin Ali (Wakil Rois) (Kedung)

PERUMUS :
1. KH. Kholilurrohman (Ketua LBM) (Tahunan)
2. KH. Imam Abi Jamroh (Wakil Katib Syuriyah) (Tahunan)
3. KH. Mukhlish (Wakil Ketua LBM) (Welahan)
4. KH. Mundziri Jauhari (Wakil ketua LBM) (Welahan)
5. KH. Hadziq (Anggota LBM) (Welahan)
6. KH. Masduqi ridlwan (A’wan Syuriyah) (Kedung)
7. KH. Ahmad Roziqin (Katib Syuriyah) (Jepara)

JAMAAH TABLIGH

Deskripsi Masalah

Sering kita jumpai sekelompok orang (jamaa’ah) yang singgah di masjid – masjid ataupun musholla. Sebagian masyarakat menyebutnya Jamaah Tabligh, Khuruj, Jaulah, Jama’ah Kompor, Jama’ah jenggot, dan lain – lain. Di satu tempat mereka diterima dengan baik, dihormati dan dimuliakan seperti lazimnya menerima dan menghormati ilmu, namun di tempat yang lain ada yang menolak untuk singgah di masjid mereka, bahkan diusir dan dihina dengan dalih kecurigaan “jangan – jangan mereka kelompok teroris”, atau “membawa agama baru”, atau “akidahnya menyimpang”, atau “tidak sama denga kita” dan lain – lain.

Pertanyaan :
A. Bagaimana hukumnya menerima dan mempersilahkan mereka ketika singgah dan bertamu di masjid kita ?
B. Bagaimana hukumnya menolak dan mengusir mereka dengan berbagai alas an di atas ?
C. Bagaimana hukumnya masuk atau bergabung ke dalam organisasi keagamaan semisal : Jam’iyyah Tabligh, Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyah dan lain – lain ?

Jawaban :
A. Hukum menerima dan mempersilahkan mereka ketika singgah dan bertamu di masjid kita adalah SUNNAH selama mereka benar – benar memegang teguh ajaran – ajaran Al Qur’an dan As-Sunnah ala Ahlus sunnah wal Jamaah

Referensi :
1. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, henaklah memuliakan tamunya!” yaitu : karena memuliakan tamu merupakan akhlak para Nabi dan orang shalih serta etika Islam… sampai komentarnya…Abu Al-Laits bin sa’id telah mewajibkan menjamu tamu sehari semalam karena mengamalkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam : “malamnya tamu itu wajib bagi tiap muslim”. Sedanglan para pakar fikih umumnya mengartikannya sebagai sunah. Menjamu tamu merupakan termasuk akhlak mulia dan kebaikan agama. (Al Majaliss Saniyah, hal.45)

2. Firman allah Ta’ala : ”Baik yang bermukim di situ ( Masjid Al haram)” (QS. Al Hajj : 25) sampai penjelasannya, pengertiannya yaitu seorang yang mukim di masjid dan yang dating di sana, sama dalam masalah singgah di sana, sipa saja yang leih dulu menempati suatu tempat maka itu adalah haknya, dan orang lain tidak boleh mengusirnya.” (Tafsir As – Showy, Juz 3, hal. 120 )

B. Hukum menolak dan mengusir mereka dengan berbagai alasan di atas tidak dibenarkan (tidak boleh) selama mereka tidak menyimpang dari ajaran Al – Qur’an dan As- sunnah ala Ahlus Sunnah wal Jama’ah .

Referensi :
1. Firman Allah (“dan siapakah yang lebih aniaya”) artinya tidak ada yang lebih aniaya (daripada orang yang menghalang – halangi menyebut nama Allah dalam masjid – masjid –Nya”), dengan shalat dan bacaan tasbih. Firman-Nya : daripada orang yang menghalang – halangi, …sampai perkataannya…pengertiannya tidak ada yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang – halangin dzikir menyebut asma Allah di masjid – masjid – Nya. Tindakan menghalangi itu adakalanya dengan menguncinya, mengosongkan dari orang yang memakmurkannya, merobohkannya, memakan pendapatannya atau ceroboh dalam menunaikan hak – haknya. Yang dipandang adalah umumnya lafal bukan sebab yang khusus. (Tafsir Ash-Showy Juz 1 hal. 80 )

2. Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Rahmatullahi ‘alaihi berkata : “Hindarilah mencintai seseorang atau membencinya, kecuali setelah menimbang perbuatannya dengan Kitabullah dan sunnah, agar kalian tidak mencintai atau membencinya karena hawa nafsu!” (An Nurul Burhani hal. 55)

C. Hukum bergabung ke dalam organisasi keagamaan adalah boleh, selama tidak menyimpang dari faham Ahlussunnah wal jama’ah.

Penjelasan :
Jika seseorang yakin atau merasa tidak mampu menjaga agamanya dari hal – hal yang bisa merusak agamanya kecuali dengan masuk ke dalam organisasi tersebut, maka wajib baginya untuk ikut bergabung, selama organisasi itu menganut faham Ahlussunnah wal jama’ah.

Referensi :
Pertanyaan :
Sekarang ini telah Nampak kerusakan baik di darat maupun di laut, tersebar di kota maupun desa, kaum muslimin di uji dalam menjaga mereka dan tetap berada dalam hukum – hukum Allah.
“Apakah wajib atau tidak bagi tiap muslim di zaman ini untuk bergabung dengan suatu perkumpulan Ahlussunnah wal jama’ah agar bisa menunaikan kewajiban mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran beserta melaksanakan kewajibannya membantu iuran bulanan atau selainnya ?.”

JAWAB :
Siapa saja yakin atau menyangka dirinya tidak akan mampu menjaga agamanya dan menunaikan kewajiban mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran kecuali hanya dengan bergabung bersama perkumpulan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka wajib bergabung dengannya.
Pengarang Sullam taufiq berkata, “Wajib bagi tiap muslim untuk menjaga ke-islamannya serta menjaganya dari perkara yang bisa merusak atau membatalkannya.”
(Ahkamul Fuqoha’, Juz 2, hal. 96).

*** Lebih jelasnya hubungi Sekretarian NU Jepara di Jl. Pemuda No. 51 Jepara.
Telpon (0291) 591387, 596146

SUMBER :
Kitab “Jamaah Tabligh Sesat ? Para Kyai & Santri Menjawab”
Halaman 192 - 195
Disusun oleh Team tabayyun Payaman.
Diterbitkan oleh Balai Pustaka Upaya Ilmu Iman
Ponpes. Sirajul Mukhlasin Payaman,
Payaman PO BOX 158 Magelang 56101 Magelang, Jawa Tengah

http://palangiran.blogspot.com/2014/02/hukum-menerima-atau-menolak-jamaah.html — with Zuhdi Hanif and 4 others.

[dipetik dari 
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=791448227551614&set=gm.735116166522990&type=1&theater]   

Monday, February 24, 2014

Iman dari Yaman




[Hadith 40, susunan Mullah Ali Qari Rahimahullah, oleh Mufti Afzal Hoosen Elias, 'Ahadith Compilation', Zam-zam Publishers, nmusba.wordpress.com] 



Habib Umar al-Yamani Hafizhohullah

Makna Bid'ah menurut Syaikh Dr. Afifi al-Akiti (Hafizhohullah)


Syaikh Dr. Afifi al-Akiti al-Syafi'i Hafizhohullah menerangkan asal-usul do'a 'Ya amanal Kho'ifin...', dan kemudiannya (pada minit 24:00 ke atas) menerangkan pula secara ringkas mengenai makna bid'ah, hukum-hukum bid'ah yang lima (wajib, sunnat, harus, makruh, haram) dan hadith mengenai 'setiap bid'ah itu sesat...' itu sebenarnya merujuk kepada perkara aqidah sesat yang dibuat-buat oleh puak yang sesat, dan bukannya merujuk kepada amalan-amalan yang dianjurkan oleh ulama' salafussoleh walaupun tidak dilakukan oleh Baginda Nabi Sallallahu alaihi wa Sallam dan para sahabat Ridhwanallahi alaihim ajma'in.




Pemahaman yang benar dan tepat mengenai takrif bid'ah, seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Afifi, adalah sangat-sangat penting untuk dibincang dan dijelaskan kepada golongan awam hari ini. Ini kerana bertitik tolak dari kesalahfahaman  inilah, yang sering digembar-gemburkan oleh satu golongan, sehingga aplikasinya yang buruk menyebabkan begitu banyak amalan-amalan baik yang sebenarnya dibenarkan oleh syarak' telah disalahfahami dan dikaitkan sebagai bid'ah, sesat dan pengamalnya masuk neraka, na'uzubillahi minzalik.

Perkara ini di 'highlight'kan di ruangan ini, kerana dengan berhujahkan dalil dan dan faham yang salah mengenai bid'ah, maka amalan dan tertib dakwah seperti khuruj 3 hari setiap bulan, 40 hari dan 4 bulan setiap tahun, dan selainnya yang berkaitan dengan usaha dakwah dan tabligh yang suci murni ini, telah terkena tempiasnya dan turut di'bakulsampah' dan disesatkan oleh golongan yang tergelincir fahaman mereka mengenai istilah bid'ah yang sebenar.

Semoga pemahaman yang sahih mengenai makna bid'ah seperti yang difahami oleh golongan salafussoleh, ulama'-ulama' muktabar dan Ahlussunnah wal jamaah secara keseluruhannya, dapat disebarluaskan kepada segenap lapisan masyarakat kaum muslimin agar hilang segala rasa was-was dan syak terhadap amalan kaum muslimin zaman-berzaman yang dipandu dan dianjur oleh ulama' haq, yang terus kekal diamalkan sehingga ke hari ini.


Sunday, February 9, 2014

Rahasia Mengorbankan 1/10 hidup kita




Hadits yang menyatakan bergunanya kita mengorbankan 1/10 hidup kita dan kelebihan bagi orang-orang yang mengorbankan 1/10 masa hidupnya untuk ber'amar ma'ruf nahi mungkar

Hadit ini termaktub dalam sunan Turmudzi sbb :

حدثنا إبراهيم بن يعقوب الجوزجاني حدثنا نعيم بن حماد حدثنا سفيان بن عيينة عن ابي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال إنكم في زمان من ترك منكم عشر ما أمر به هلك ثم يأتي زمان من عمل منكم بعشر ما أمر به نجا قال أبو عيسى هذا حديث غريب لا نعرفه إلا من حديث نعيم بن حماد عن سفيان بن عيينة قال وفي الباب عن أبي ذر و أبي سعيد ضعيف


Akan tiba satu zaman, muncul orang-orang yang mengorbankan 1/10 daripada (hidupnya) untuk beramar ma'ruf nahi mungkar dan daripada manusia yang beramal dengan mengorbankan 1/10 hidupnya itu akan menuai kejayaan/keberhasilan

statusnya adalah Ghorib dan daripada jalannya Na'im bin hamid daripada Sufyan bi "uyainah, dan Dhoif ia itu daripada Abi Dzar dan abi Sa'id

namun hadit ini telah dihukumkan Hasan Ghorib (hadits hasan yang hanya punya satu riwayat) oleh Ibn Taimiyyah sbb :

َلِلتَّرْمِذِيِّ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَة رضي الله عنه عَنْ اَلنَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: إِنَّكُمْ فِي زَمَانٍ، مَنْ تَرَكَ مِنْكُمْ عُشْرَ مَا أُمِرَ بِهِ هَلَكَ، وَيَأْتِي عَلَى اَلنَّاسِ زَمَانٌ مَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ بِعُشْرِ مَا أُمِرَ بِهِ نَجَا وَقَالَ: حَسَنٌ غَرِيبٌ

dan dalam Sohihahnya atas Sunan Turmudzi, Al-Albani telah mengeluarkan Hadit itu dengan status Sohih, sbb :

حدثنا إبراهيم بن يعقوب الجوزجاني حدثنا نعيم بن حماد حدثنا سفيان بن عيينة عن ابي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال إنكم في زمان من ترك منكم عشر ما أمر به هلك ثم يأتي زمان من عمل منكم بعشر ما أمر به نجا (صححه الألباني في "صحيح سنن الترمذي" 2 / 508

jadi, setiap kita perlu untuk berkorban 1/10 daripada hidup untuk mengajak orang lain ta'at kepada Allah, karena kita termasuk ummat yang hidup di akhir zaman..


[dipetik dari http://anak8garut.blogspot.co.uk/2009/10/rahasia-mengorbankan-110-hidup-kita.html]



--------

Dan Allah bersumpah dengan masa, bahawa manusia semuanya dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal soleh, dan berpesan-pesan dengan kebenaran dan kesabaran.

Teringat dengan pesanan Masyaikh kita: Jika kamu tak luangkan masa untuk agama, maka masa tetap akan digunakan, tapi bukan untuk agama.

Kalam sufi: Jika kita tidak 'memotong' masa, maka masa akan 'memotong' kita.

Semoga kita termasuk dalam golongan yang mengguna dan melapangkan masa dengan sebanyak-banyaknya untuk agama dan usaha atas agama, Amin..



[gambar hiasan]

Saturday, February 8, 2014

Allah Pemberi Rezeki & Pemberi Ilmu



Tahun 2008, saya pernah bayan dalam bahasa arab di satu mesjid dekat Jami’atul Iman, Sonaa, ibukota Yaman. Selesai bayan, seorang anak muda mengajak saya bertemu dengan para dosennya.Kami duduk di dekat taman dan saya dikelilingi 3 orang, salah satunya bertitel Doktor Syariah. Seorang di antaranya berkata:

- ‘Tadi dalam bayan anda mengatakan semuanya datang dari Allah, segalanya milik Allah, sedikit-sedikit Allah. Nah, saya punya anak dan isteri yang tinggal di balik bukit sana (sambil menunjuk ke arah bukit). Kalau saya tak mengirim belanja atau makanan, apa yang mereka makan, apakah ada yang langsung dari Allah ?’

- Saya pun menjawab: ‘Pertanyaan anda merupakan siaran ulangan dari pertanyaan Nabi Zakaria as:

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Setiap kali Zakariyya datang ke mihrab, di situ dijumpainya makanan siap hidang, ia tanya :”Hai Maryam, dari mana makanan ini. Dijawab: Itu dari sisi Allah, Dia yang memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.[5]

Ada dua pelajaran, pertama; Pantaskah seorang Nabi bertanya tentang rezeki, padahal Nabi adalah guru tauhid, yang pasti sudah tahu semua itu datangnya dari Allah Swt. Kedua, yang ditanya seorang wanita (bukan Nabi, karena tidak ada wanita yang Nabi) dalam keadaan terkucil dilanda fitnah besar. Ternyata iman wanita itu mengagumkan, perhatikan, katanya:

‘Semua itu dari sisi Allah, Dia yang memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab’.

Bayangkan, wanita lemah dengan keluguannya dapat memberi tarbiyah (pelajaran) iman kepada seorang Nabi, bukankah Nabi itu professor iman ? Di sini Allah Swt memberi tarbiyah, bahwa orang pintar, ahli ilmu , bahkan seorang Nabi pun masih tetap harus belajar, dan kadang gurunya adalah orang awam atau yang lebih bodoh darinya.

Maka, seorang dari yang bertanya kepada saya menyatakan: ‘Sodaqta ya syeikh (anda benar bung)’.

Coba kita perhatikan lagi ayat ini :

;فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami .

Di sini jelas bahwa kisah Khidir yang orang biasa dan Musa as yang ulu al ‘Azmi tapi telah banyak bertanya dan itu sebagai bukti ketidaksabaran Musa as. Khidir telah memberi pelajaran sabar (sebagai wujud iman) kepada Musa as. Oleh sebab itu pula ayat tersebut menjelaskan “Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”, satu bukti bahwa ilmu tak selamanya dari guru atau ulama, Allah sendiri Maha Mampu memberikan ilmu langsung kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

(Ust. Abdurrahman Lubis)


[Gambar Hiasan]

[dipetik dari http://palangiran.blogspot.co.uk/2013/08/belajar-sama-orang-katanya-bodoh.html]

Thursday, February 6, 2014

Korban Emas Warisan Jadi Asbab Hidayah


Karghozari via group WA Tabligh

Satu jamaah eropa telah dihantar ke pakistan mereka buat tasykil satu jamaah pakistan cash ikut bersama mereka ke eropa.

Musyawarah markaz putuskan 1jamaah terbentuk dieropa. Amir yg ditunjuk tak siap uang. Ia pulang kerumah sedih, fikir bagaimana cara bisa penuhi takaza.

Buat amalan do'a, dan menangis. Istrinya tau kesedihan suaminya karna tak bisa penuhi takaza, maka istrinya katakan, " juallah gelang warisan saya ini untuk engkau berangkat wahai suamiku".

Suami terharu, istri faham mau korbankan harta warisan untuk takaza. Gelang dijual, satu jamaah akhirnya berangkat ke eropa.

Dieropa buat tasykil dan dakwah sungguh- sungguh. Orang- orang eropa terkesan dengan jamaah dan banyak yg dapat hidayah masuk islam (mualaf).

Lepas jamaah selesai para mualaf ucapkan terimakasih kepada jamaah yg menjadi asbab hidayah. Salah satu ahli jamaah katakan, "wahai saudara jangan berterimakasih kepada kami, tetapi kepada ALLAH sebab ALLAH beri hidayah kepada kalian, karna ada pengorbanan salah seorang istri dari kami, dia korban telah jual emas warisannya untuk suami keluar dijalan ALLAH.

Orang eropa kagum mendengarkannya, tiba dirumah dia ceritakan pada istrinya. Istrinya takjub, tersentuh dan menangis dengan pengorbanan wanita itu.

Istrinya katakan azam akan keluar masturoh ke pakistan sambil ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada wanita tersebut.

ALLAH izinkan mereka keluar masturoh dipakistan, mereka datang kemarkaz, saat hampir selesai program istrinya minta diantarkan untuk menemui wanita itu.

Mereka datang kekampungnya, masuk kerumahnya dan temui wanita itu.

Suasana haru, saling peluk, saling tangis, wanita eropa katakan: "wahai saudariku, asbab gelang yg kamu jual untuk suami kamu berangkat maka kami sekeluarga bebas dari neraka..

ALLAHUAKBAR!

Jadi harta yg digunakan dijalan ALLAH jadi asbab Hidayah dan pahalanya mengalir sampai hari kiamat.




[gambar hiasan]


[dipetik dari https://www.facebook.com/groups/mahodum/]



Ustaz Kiyai Dai Kondang Memuliakan Usaha Dakwah dan Tabligh



Kepesatan penduduk di bandar raya Indonesia memaksa rumah2 dibina mnjadi amat rapat. Ada seorang makcik, melihat kedatangan Jemaah Jalan Kaki ke Masjid yg bersebelahan dgn rumahnya. Jadi kebetulan di TV makcik dirumahnya, ada acara live rancangan sesi soal jawab agama bersama Ustaz Kiyai Dai Kondang, seorang selebriti dakwah paling terkenal masa kini. Seumpama Ust. Don atau UAI kita disini. Lalu makcik ni pun call rancangan tersebut dan dgn kuasa Allah, dlm jutaan rakyat Indonesia yg sedang cuba call, Allah izinkan panggilan dibuat makcik itu utk bercakap secara LIVE bersama Ustaz Kiyai Dai Kondang. Lantas terus si makcik itu bertanya..." Ya Ustodtz, bagaimana ini masjid di sebelah rumah sy ini di masuki satu jemaah dakwah laki2 yg bajunya kotor dan kusut masai... Malah berani mereka masak2 di masjid itu... Apa perlu sy buat? Laporkan kpd penguasa atau Ustodzt tolong ambil tindakan segera!"

Mendengar sahaja akan Ustaz Kiyai Dai Kondang..." Wahai Ibu yg amat ku sanjung lagi ku hormati...."air mata beliau jelas nampak gugur dan diseka beliau..." Jika Ibu lihat baju mereka kotor, ambillah dan basuhkan utk mereka... Jika Ibu lihat baju mereka kusut ambillah dan seterikakanlah... Jika Ibu lihat mereka memasak, Ibu ambil masakan terpaling istimewa dari rumah Ibu dan hidangkan kpd mereka..."" Sesungguhnya wahai Ibu ku sayang, Pekerjaan yg sedang mereka lakukan itu adalah Terlebih Mulia dari pekerjaan saya ini bahkan mereka itu sahaja jauh amat tinggi dari saya..."
Dan ini disaksikan oleh Allah secara live utk tontonan jutaan penduduk Indonesia waktu itu.

الحمدلله. .ماشاء الله. ..


[gambar hiasan]


[dipetik dari https://www.facebook.com/groups/mahodum/]