Hadith


Beramal dan Menyampaikan


Random Hadith Widget

Monday, September 7, 2009

Nishab Da'wah (Batas Wajibnya Da'wah)

Sesungguhnya Rasulullah SAW telah member batasan yentang keharusan berda’wah yaitu walaupun kita hanya mengetahui satu ayat. Siapa sahaja yang telah mengetahui walaupun hanya satu ayat maka ia wajib menyampaikannya kepada orang lain.

Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Alkitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang"
(Qs. Al Baqarah [2] ayat 159-160)

Kalimat ‘minal bayyinaati’ menunjukkan kepada sebahagian dari ayat-ayat al Quran yang jelas, yakni sebahagian dari al Quran baik satu ayat atau pun lebih. Ayat ini adalah dalil yang qath’I yang menunjukkan bahawa sesungguhnya batas kewajiban berda’wah adalah satu ayat. Adapun dalil dari as Sunnah adalah khutbah Nabi SAW pada waktu haji wada’ di hadapan para sahabat yang berjumlah kurang lebih 124,000:
"Wahai hamba-hamba Allah, laksanakanlah (apa-apa yang datang) dariku dan sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat! Semoga Allah memberikan kesenangan kepada orang yang telah mendengar perkataanku lalu ia memahami dan meyampaikannya sebagaimana adanya. Tidak sedikit orang yang menyampaikan lebih faham dari pada orang yang mendengar.”

Sabda Nabi SAW ini merupakan dalil yang pas bahawa sesungguhnya nisab (batas) wajibnya da’wah yaitu satu ayat. Oleh karena itu, siapa pun yang telah mengetahui ayat-ayat al Quran walaupun hanya satu ayat, maka wajiblah ia menyampaikannya kepada orang lain.

Ayat dibawah ini juga adalah dalil tentang hal itu:
“Tiada sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke dalam perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk member peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
(Qs at Taubah [9] ayat 122)

Ayat ini tidaklah bermaksud bahwa seseorang itu baru wajib melaksanakan da’wah jika telah menjadi seorang ‘alim. Faqih disini maksudnya adalah orang yang memahami ilmu masail (masalah-masalah fiqih), padahal dalam satu desa atau kampong satu orang faqih pun sudah cukup untuk memberikan fatwa mengenai perkara-perkara yang berkaitan dengan masalah fiqih ketika hal itu diperlukan. Memang mempelajari ilmu fiqih ini sangat penting bagi setiap umat, tetapi ia adalah fardhu kifayah. Jika ada salah seorang yang sudah memahaminya, maka gugurlah kewajipan atas yang lainnya. Akan tetapi da’wah adalah amal yang harus dipenuhi sesuai kemampuan yang sudah jelas pembatasannya adalah walaupun hanya mengetahui satu ayat. Jadi da’wah ini adalah fardhu ‘ain atas setiap orang Islam yang memahami (berakal sehat) dan setiap orang yang bashirahnya disinari oleh Allah (hatinya terang).

[Ditulis oleh Sa’ad bin Ibrahim Syilbi, ‘Dalil-dalil Da’wah & Tabligh’, diterjemah oleh Ust. Musthafa Sayani, Drs., terbitan Pustaka Ramadhan, m/s 48-49, ISBN 979-604-054-9]

No comments: