Fatwa-fatwa dan Pandangan Terkumpul dari Para Alim Ulama’ Seluruh Dunia Mengenai Kebenaran Usaha Dakwah dan Tabligh
Kandungan
1.
Fatwa
Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, Yaman
2. Fatwa Al Habib ‘Ali Al- Jufri, Yaman
3.
Fatwa Prof. Dr. Ali Jum’ah, Mesir
4.
Fatwa/Pandangan
Sayyid Abul Hasan ‘Ali Nadwi Al Hasani, India
5. Fatwa Mufti Ebrahim Desai, Afrika
Selatan
6. Fatwa Mufti Muhammad bin Adam, United Kingdom
7.
Fatwa Mufti Waseem Khan, Trinidad & Tobago
8.
Fatwa Syaikh Ibnu
Uthaimin, Arab Saudi
9.
Fatwa Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy, Arab Saudi
10. Fatwa Nahdhatul Ulama, Indonesia
11. Fatwa Mufti Kerajaan,
Brunei Darus Salam
12. Fatwa Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), Malaysia
12. Fatwa Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), Malaysia
13. Fatwa Majlis Fatwa Negeri, Sabah
14. Fatwa Mufti, Negeri Sembilan Darul Khusus
15. Fatwa
Kerajaan Negeri, Sarawak Darul Hana
[Nota: Himpunan fatwa-fatwa ini kebanyakannya dipetik dan dikumpul dari posting terdahulu didalam blog ini]
--------------------------------------------------------------
1. Fatwa Al Habib Umar
bin Muhammad bin Salim bin Hafidz
(Pengasuh Ma’had Darul Musthafa, Tarim,
Hadhramaut, Yaman)
Penanya :
“Apa pendapat Anda tentang Jama’ah Dakwah dan Tabligh yang tersebar di seluruh penjuru dunia yang sering mengadakan perjalanan ke berbagai Negara dalam rangka menyebarkan agama ?”.
JAWAB :
“Jamaah Da’wah dan Tabligh sebagaimana gerakan dakwah yang tersebar di kalangan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Secara umum, mereka sangat baik dalam aktifitas dan keadaannya. Kebanyakan ushul (ajara pokok) jama’ah tersebut didasarkan atas dasar yang shahih lagi kuat yaitu menyampaikan tentang Allah ta’ala dan mengajak kepada amal kebaikan.
Meskipun ada perbedaan gerakan yang terjadi, itu hanyalah karena keikutsertaan orang – orang yang bukan termasuk di antara mereka atau orang yang tidak menjalankan dakwah sesuai dengan ushul dan dasar –dasar ajarannya, sehingga terjadi percampuran yang beraneka rupa dan menyebabkan ketidakselarasan dalam fikih, pandangan, pemikiran dan akidah. Tapi Anda haruslah berprasangka baik terhadap mereka semua dan juga pandanglah kebaikan yang tampak jelas serta jangan Anda tafsiri dengan keburukan.
Demikian juga jauhilah segala hal yang dilarang dan keburukan yang nyata. Manusia yang tinggal dalam satu rumah saja berbeda watak dan pribadinya, apalagi dalam suatu jama’ah yang berjumlah besar. Umumnya, kebaikan pasti akan tersebar di kalangan umat nabi Muhammad saw dan setiap jama’ah atau kelompok Islam tak lepas darinya. Semoga Allah menjadikan kami dan Anda sebagai Ahli kebaikan”.
“Apa pendapat Anda tentang Jama’ah Dakwah dan Tabligh yang tersebar di seluruh penjuru dunia yang sering mengadakan perjalanan ke berbagai Negara dalam rangka menyebarkan agama ?”.
JAWAB :
“Jamaah Da’wah dan Tabligh sebagaimana gerakan dakwah yang tersebar di kalangan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Secara umum, mereka sangat baik dalam aktifitas dan keadaannya. Kebanyakan ushul (ajara pokok) jama’ah tersebut didasarkan atas dasar yang shahih lagi kuat yaitu menyampaikan tentang Allah ta’ala dan mengajak kepada amal kebaikan.
Meskipun ada perbedaan gerakan yang terjadi, itu hanyalah karena keikutsertaan orang – orang yang bukan termasuk di antara mereka atau orang yang tidak menjalankan dakwah sesuai dengan ushul dan dasar –dasar ajarannya, sehingga terjadi percampuran yang beraneka rupa dan menyebabkan ketidakselarasan dalam fikih, pandangan, pemikiran dan akidah. Tapi Anda haruslah berprasangka baik terhadap mereka semua dan juga pandanglah kebaikan yang tampak jelas serta jangan Anda tafsiri dengan keburukan.
Demikian juga jauhilah segala hal yang dilarang dan keburukan yang nyata. Manusia yang tinggal dalam satu rumah saja berbeda watak dan pribadinya, apalagi dalam suatu jama’ah yang berjumlah besar. Umumnya, kebaikan pasti akan tersebar di kalangan umat nabi Muhammad saw dan setiap jama’ah atau kelompok Islam tak lepas darinya. Semoga Allah menjadikan kami dan Anda sebagai Ahli kebaikan”.
2. Fatwa Al Habib ‘Ali
Al- Jufri
Suatu ketika dalam majelis ta’limnya habib ‘Ali Al- Jufri ditanya, “Bolehkah keluar di jalan Allah Ta’ala?”
Maka beliau menjawab dengan terheran – heran, “Anda bertanya, apakah boleh keluar di jalan Allah Ta’ala ???, Keluarlah ! semoga Allah melimpahkan keberkahan bagi Anda ! betapa umat hari ini sangat membutuhkan orang-orang yang bersedia keluar di jalan Allah dalam rangka dakwah ilallah. Keluarlah dan ajaklah kami ikut bersama anda, ajaklah kami di majelis ini, semoga Allah melimpahkan keberkahan bagi Anda!
Apakah tidak mengherankan seseorang ditanya bolehkah keluar intuk khidmat agama dan dakwah ilallah ?
Subhanallah! Mereka, umat di luar sana –semoga Allah memberikan hidayah bagi mereka- tidak shalat dan puasa apalagi berdakwah…. Mereka berkata, “Apa yang mereka (para da’i) inginkan ? mengerjakan petuah – petuah yang kita dengar, “Janganlah tertipu dunia, jangan sampai hati kalian lalai…???” atau ucapan mereka, “jangan kalian berdakwah! Jangan kalian berfatwa! (semoga Allah memberi hidayah bagi mereka)
Memang yang paling berani beratwa, paling berani masuk neraka, fatwa itu khusus bagi ulama, seseorang tidak boleh berfatwa kecuali jika memiliki keahlian atau mengutip dari para ulama yang memiliki keahlian, sedangkan dakwah adalah menjadi tugas setiap orang yang beriman. Allah Ta’al berfirman, : Katakanlah ; “inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf : 108)
Allah berfirman, “Aku dan orang-orang yang mengikutiku bukan aku dan para ulama, ahli ceramah, para pedagang…. Maka sesuai kadar hakikat ittiba’ (mengikuti) Nabi saw. Dan pemahaman terhadap metode dakwah dan perkara yang seyogyanya dijalankan, maka wajib bagi Anda untuk menjalankan dakwah karena itulah hakikat jalan Musthafa saw., sekarang ini amal tersebut sudah merupakan hal yang fardhu bukan lagi sunnah, karena sebagian umat tidak tahu apa yang wajib mereka ketahui dalam agama. Saya katakana pada kalian, “Ribuan, puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang yang seperti itu!....bukanlah berlebihan jika saya katakana bahwa jutaaan umat islam tidak baca atihah dengan benar, orang yang telah keluar untuk berdakwah tentunya bisa memahami ucapan ini…., Kami temukan sebuah kampong yang seluruh penduduknya tidak bisa baca fatihah dengan benar kecuali hanya 3 oang saja! Ingatlah wajib bagi orang yang tahu bacaan fatihah dan dia mampu untuk berangkat dan mengajari mereka, ingatlah wajib baginya keluar dari rumahnya dan mengajarkannya. Kita memohon ampunan dan ‘afiyah dari Allah ta’ala atas tindakan kita menghalangi dari jalan Allah Ta’ala.”
3.
Fatwa Prof. Dr. Ali
Jum’ah
(Mufti Agung Mesir)
Pertanyaan:
Apa hukum khuruj yang dilakukan oleh kelompok Jamaah Tabligh? Apakah perbuatan itu termasuk bid’ah ?
Apa hukum khuruj yang dilakukan oleh kelompok Jamaah Tabligh? Apakah perbuatan itu termasuk bid’ah ?
Jawaban:
Mufti Agung Mesir, Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad:
Khuruj yang dilakukan oleh Jamaah Tablig adalah perbuatan yang boleh dilakukan bagi orang yang mampu untuk berdakwah dengan sikap lembut, penuh hikmah dan mampu memberi nasihat dengan baik serta bersikap ramah dan sopan kepada orang-orang. Selain itu, orang tersebut juga harus mengetahui dengan baik apa yang dia sampaikan kepada orang-orang, tidak menerlantarkan keluarganya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.
Mufti Agung Mesir, Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad:
Khuruj yang dilakukan oleh Jamaah Tablig adalah perbuatan yang boleh dilakukan bagi orang yang mampu untuk berdakwah dengan sikap lembut, penuh hikmah dan mampu memberi nasihat dengan baik serta bersikap ramah dan sopan kepada orang-orang. Selain itu, orang tersebut juga harus mengetahui dengan baik apa yang dia sampaikan kepada orang-orang, tidak menerlantarkan keluarganya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.
Adapun penetapan masa khuruj selama 4 hari, 40 hari dan lain sebagainya,
hanyalah merupakan masalah teknis murni yang tidak ada hubungannya dengan
masalah bid’ah. Ini selama pelakunya tidak meyakini bahwa penetapan jumlah hari
itu adalah sesuatu yang disyariatkan.
4.
Fatwa/Pandangan Al Habib As – Sayyid Abu Al – Hasan ‘Ali
An-Nadwi Al Hasani
(Pengasas Nadwatul Ulama’ Lucknow India)
“Ini adalah sebuah pernyataan yang tidak berlebihan, seandainya dikatakan bahwa dewasa ini, di belantara dunia Islam bahwa usaha yang paling luas, paling kuat, paling bermanfaat dan mengatasi semua usaha, adalah usaha dakwah da Tabligh yang berpusat di Nizhamuddin, Delhi India.
Di mana pergerakan dan pengaruh usaha ini tidak terbatas di wilayah kecil saja atau Asia saja, akan tetapi telah menjagkau ke semua benua dan di seluruh Negara – Negara Islam ataupun Negara – Negara non – Islam.
sejarah dakwah, pergerakan, dan perubahan dan maslahat yang cepat telah menunjukkan bahwa ketika usaha dakwah telah berjalan dengan cepat dan bertambah luas (terutama ketika telah muncul keuntungan dari kepemimpinan yang disebabkan oleh usaha dakwah ini), maka terlihatlah berbagai kelemahan dan tujuan – tujuan yang menyimpang termasuk mengabaikan tujuan yang utama, sehingga mengurangi manfaat usaha ini atau mnghapus pengaruhnya sama sekali.
Namun demikian, usaha tabligh sampai sejauh ini (sepanjang pengetahuan dan yang disaksikan langsung oleh penulis, yaitu sayyid Abul hasan-, pen.) masih terpelihara dari cobaan – cobaan tersebut. Hal ini disebabkan karena dalam usaha ini terdapat semangat Itsar (lebih mendahulukan orang lain daripada diri sendiri.) semangat berkorban, semangat menghormati dan memuliakan islam dan orang – orang Isalam, bertawadhu, dan merendahkan diri, semangat memenuhi kewajiban – kewajiban agama ddengan semangat lebih meningkatkan lagi, kesibukan berdzikri kepada Allah, menahan diri dari kesia-siaan dan yang tidak berfaedah, serta melakukan perjalanan – perjalanan yang lama dan jauh seraya bersabar atas berbagai kesulitan semata- mata karena Allah, itu semua sudah menjadi amalan mereka yang biasa.”
(Muqaddimah Kitab Muntakhab Ahadits)
5. Fatwa Mufti Ebrahim
Desai
(Darul Ifta,
Madrasah In’aamiyyah, Camperdown, South Africa)
Allah Taala menyatakan bahwa salah satu alasan bagi umat ini yang berjudul sebagai Ummat yang terbaik, adalah praktek ‘memerintahkan yang baik dan mencegah kejahatan’
Nabi (shallallahu alayhi wasallam) menyatakan, “Apabila diantara kalian
melihat kemungkaran, maka ia harus mengubahnya dengan tangannya Dan jika ia
tidak mampu melakukannya maka ia harus mengubah dengan lidahnya.. Dan jika ia
tidak dapat melakukannya dengan lidahnya, maka dia setidaknya harus meyakini
bahwa itu adalah kemungkaran Dan ini adalah selemah-lemahnya Imaan.. ”
(Mishkat)
Hadhrat Nuúmaan bin Basheer (Radhiallaahu anhu) mengatakan bahwa Rasulullah (shallallahu alayhi wasallam) memberikan contoh orang berlayar di sebuah kapal memiliki dek atas dan dek bawah. Orang-orang dari dek bawah membutuhkan air dan air permintaan dari orang-orang di dek atas. Orang-orang dari dek atas menolak air sehingga orang-orang dari dek lebih rendah memutuskan untuk membuat lubang di lantai kapal dan mendapatkan air dari laut. Rasulullah (shallallahu alayhi wasallam) bersabda, “Jika orang-orang dari dek atas tidak berhenti orang-orang di bagian bawah dari membuat lubang, kapal akan tenggelam dan semua orang bepergian akan tenggelam.” (Mishkat vol 2 hal.. 436)
Demikian pula, jika orang tidak melarang kejahatan dan dosa dalam masyarakat, seluruh masyarakat – yang tidak bersalah dan jahat – sama akan menderita.
Hadhrat Abu Hurairah (Radhiallaahu anhu) menyatakan bahwa Rasulullah
(shallallahu alayhi wasallam) bersabda, “Perintahkan manusia berbuat kebaikan
dan melarang kejahatan atau Allah akan mengirim menerima hukuman yang akan
menghancurkan semua orang.” (Ibid)
Kutipan di atas Al-Quran dan Ahaadith Rasulullah (shallallahu alayhi
wasallam) jelas bahwa memerintahkan yang baik dan melarang kejahatan adalah
menekankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Setiap orang harus melakukan perintah
ini. Semua para nabi (Álayhimus salam) mengikuti jejak nabi masing-masing dan
setelah kematian Nabi mereka, mereka melakukan misi yang sama.
Para Sahaaba Rasulullah (Radhiallaahu anhum) menghabiskan seluruh hidup
mereka dalam memerintahkan yang baik dan melarang kejahatan. Karena tidak ada
Nabi untuk datang, setiap ummat Rasulullah (shallallahu alayhi wasallam) adalah
wakil Nabi dan memiliki untuk membawa pada misi Nabi. Orang-orang Tabligh
Jamaah mengorbankan waktu, kekayaan dan kenyamanan untuk menjalani kesulitan
dan kesulitan untuk pergi di jalan Allah – untuk melaksanakan Sunnah Nabi –
memerintahkan yang baik dan melarang jahat.
Sejauh yang Jamaat Tabligh yang bersangkutan, itu adalah pandangan kami
yang sederhana bahwa mereka bertindak atas perintah Allah Taala dan memenuhi
kewajiban dari Syariah. Jamaat menganjurkan ketaatan pada Sunnah dan agar semua
orang mengikuti syariah. Tujuan dari perorangan mengambil bagian dalam
pekerjaan mulia Tabligh adalah, pertama, untuk mereformasi diri sendiri dan
menyelamatkan manusia dari api neraka. Keberhasilan luar biasa dari Jamaat ini
terutama karena manifestasi dari enam poin yang melibatkan pemurnian Naffs dan
entitas dari Tauhid.
‘Tashkeel’ Kata secara harfiah berarti ‘untuk membentuk’. Dalam
terminologi Tabligh, artinya mendesak orang untuk memberikan waktu, untuk
keluar di jalan Allah untuk diri reformasi dan menyebarkan baik selama beberapa
hari 3, 7, 40, 4 bulan, 1 tahun, dll jumlah hari juga tidak wajib, hanya
disarankan seperti disarankan agar seseorang mempelajari pertolongan pertama,
misalnya berfungsi satu bulan sebagai practicals.
Sementara ia tidak akan menjadi ahli dalam kedokteran, ia akan tahu
hal-hal dasar yang harus dilakukan dalam keadaan darurat. Demikian pula,
seseorang akan keluar selama 3 hari, 40 hari, 4 bulan, dll tidak menjadi
seorang ahli syariah, tetapi ia akan belajar persyaratan dasar Syariah. Semakin
banyak waktu yang dia berikan, semakin dia akan belajar dan menyempurnakan
dirinya sendiri. Kerangka waktu bukan kriteria menurut syariah.
dan Allah Ta’ala Tahu yang Terbaik
dan Allah Ta’ala Tahu yang Terbaik
6. Fatwa Mufti Muhammad bin Adam
(Darul
Iftaa, Leicester, England)
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang,
Memerintahkan kebaikan dan melarang kejahatan adalah tanggung jawab dari umat Islam (al-Fardh Kifayah). Allah Swt mengatakan: “Kalian adalah Ummat yang terbaik , yang dikeluarkan untuk umat manusia, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran.” (QS. Ali Imran, V: 110).
Ini tanggung jawab bersama umat Islam memerlukan upaya terorganisir, dan ini adalah apa yang Jama’ah Tabligh telah lakukan. Bagaimana bisa seseorang dihukum untuk melaksanakan tanggung jawab yang Allah SWT telah menetapkan atasnya?
Perlu dicatat bahwa meskipun metode yang Jama’ah Tabligh untuk penggunaan Dakwah mereka tidak lazim dalam konteks penuh pada masa Rasulullah (Allah memberkatinya & memberinya kedamaian), namun tidak akan dianggap sebagai suatu inovasi (bid’ah).
Memerintahkan kebaikan dan melarang kejahatan adalah tanggung jawab dari umat Islam (al-Fardh Kifayah). Allah Swt mengatakan: “Kalian adalah Ummat yang terbaik , yang dikeluarkan untuk umat manusia, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran.” (QS. Ali Imran, V: 110).
Ini tanggung jawab bersama umat Islam memerlukan upaya terorganisir, dan ini adalah apa yang Jama’ah Tabligh telah lakukan. Bagaimana bisa seseorang dihukum untuk melaksanakan tanggung jawab yang Allah SWT telah menetapkan atasnya?
Perlu dicatat bahwa meskipun metode yang Jama’ah Tabligh untuk penggunaan Dakwah mereka tidak lazim dalam konteks penuh pada masa Rasulullah (Allah memberkatinya & memberinya kedamaian), namun tidak akan dianggap sebagai suatu inovasi (bid’ah).
Syariah belum ditentukan metode khusus untuk pekerjaan Dakwah. Tanggung
jawab Dakwah akan dibuang dengan menggunakan metode apapun, apakah ini adalah
dengan mengajarkan ilmu agama kepada murid , menulis buku, mengundang
orang-orang Islam, datang ke rumah orang-orang Islam dan memanggil mereka ke
Masjid itu (seperti yang Jama’ah Tabligh lakukan) atau cara lainnya.
Mereka yang berasal dari Arab Saudi yang mengkritik kelompok ini biasanya tidak menyadari realitas Tabligh Jama’ah. Ini harus dikatakan kepada mereka: jika pekerjaan ini adalah salah, maka Anda harus menutup universitas Islam di Makkah dan Madinah dan semua perbuatan da’wah yang lainnya , dikarenakan banyak cara yang tidak lazim sebagaimana pada zaman Rasul Allah (Allah memberkatinya & memberinya kedamaian).
Kesimpulannya, tidak ada yang salah dengan kerja Jama’ah Tabligh secara umum. Orang harus didorong untuk bergabung dan berpartisipasi dalam kerja yang menguntungkan ini. Kerja kebathilan sangat aktif dan kerja Jama’ah ini telah dianggap penting dan al-Hamdulillah Jama’ah ini secara keseluruhan telah melakukan tanggung jawab da’wah dengan sangat baik
Jika ada kesalahan yang dilakukan orang yang terlibat dalam pekerjaan ini (seperti yang memang ada beberapa orang yang melakukannya), itu harus dikoreksi oleh para ulama dengan kebijaksanaan, wawasan, kelembutan dan kesopanan.
Dan Allah tahu yang terbaik
[Mufti] Muhammad bin Adam
Darul Iftaa
Leicester, England
7. Fatwa Mufti Waseem
Khan (Darul Uloom Trinidad and Tobago)
Mengenai banyak diskusi tentang Dawah dan Tabligh atau Jamaah Tabligh, banyak cendekiawan dan lainnya seperti Dr Zakir Naik dan ulama lainnya mengkritik dan mengatakan itu adalah bidah untuk berpartisipasi dalam Dawah dan Tabligh, dari mana mereka mendapatkan pandangan-pandangan seperti ini ? Mereka mengatakan Jamaah Tabligh tidak berdasarkan Quran dan Sunnah. Apa pendapat Anda tentang masalah ini?
Upaya Jamaat Tabligh adalah salah satu yang sangat mulia yang telah
sangat berhasil dan telah memperoleh penerimaan luas oleh ribuan Ulama besar
dunia, dari permulaan hingga saat ini.
Pekerjaan ini hanya mengingatkan umat Islam tentang iman mereka dan
menanamkan dalam diri mereka, keseriusan berlatih Islam. Pekerjaan Tabligh
tidak memberitakan hal apapun yang bertentangan dengan ajaran Quran dan Sunnah,
dan menyebarkan pesan Islam yang sebenarnya. Pekerjaan yang membawa pesan
tentang bagaimana seorang Muslim dapat meraih sukses di dunia ini dan
berikutnya, dan mendesak umat Islam untuk berpegang teguh kepada Sunnah Nabi
(SA).
Pembicaraan, pidato dan nasihat diberikan, didasarkan pada Iman dan
berjuang di jalan Allah, sehingga pesan Islam dapat mencapai rumah-rumah setiap
orang Muslim. Jika survei diambil hari ini, akan terlihat bahwa Jamaah Tabligh
adalah melakukan upaya seperti apa yang telah Nabi (SA) dan para sahabat buat.
Saudara-saudara yang terlibat dalam Dawah dan Tabligh berupaya dengan susah
payah dan menghabiskan uang mereka untuk bepergian ke tempat yang jauh dalam
rangka menyebarkan pesan Islam. Mereka tidak meminta apa pun. Waktu mereka
banyak dihabiskan dalam masjid.
Mereka yang berbicara buruk tentang pekerjaan mulia ini, karena
ketidaktahuan mereka tentang apa yang terjadi di dalam pekerjaan Tabligh, atau
mereka salah informasi, atau ada kemungkinan bahwa mereka mungkin tidak
menyukainya tanpa alasan sama sekali.
Alhamdulillah, melalui berkat-berkat yang Allah Telah diberikan kepada
Usaha Da’wah dan Tabligh puluhan ribu Muslim telah berubah, dan telah mengubah
perjalanan hidup mereka ke arah yang benar. Ribuan (orang muslim) yang tidak
pernah melakukan shalat sudah mulai melakukan itu, dan juga melakukan tugas
lain sebagai Muslim. Pada usaha ini, sebuah kebangkitan besar telah terjadi,
dan Muslim sekarang menjadi lebih sadar akan agama mereka.
Kita melihat setiap hari, bahwa sementara ada banyak umat Islam yang tinggal di sekitar Masjid, hanya sangat sedikit yang datang untuk shalat berjamaah. Mayoritas tinggal di rumah, sementara banyak bahkan mungkin tidak melakukan shalat sama sekali. Hal ini karena keadaan, kita menemukan bahwa saat ini, masjid masih banyak kosong, terkunci, kotor, menyedihkan dan tanpa pengawasan. Banyak Muslim tampaknya telah kehilangan semangat untuk menghadiri rumah Allah.
Kita jarang melihat orang lain yang mengunjungi orang-orang Muslim yang
tidak menghadiri masjid atau lemah dalam agama mereka. Untuk menambah ini, kita
juga menemukan beberapa kali, misionaris Kristen datang ke berbagai tempat,
mengajak orang-orang Muslim untuk Perang Salib. Setiap minggu, kita menemukan
bahwa misionaris Kristen mengunjungi rumah-rumah semua orang, termasuk
rumah-rumah umat Islam, untuk menyebarkan agama mereka.
Sementara ketika semua ini berlangsung, kita menemukan bahwa tidak
banyak yang dapat dilakukan, (pada kenyataannya, di banyak tempat, tidak ada
yang dilakukan) untuk membawa umat Islam ke masjid, dan untuk mendatangi mereka
dalam upaya untuk memperkuat mereka Imaan dan Islam. Dalam situasi ‘ingin’,
kita menemukan bahwa sebagian besar waktu, itu adalah Jamaah Tabligh yang telah
datang untuk menghidupkan kembali semangat Islam di kalangan umat Islam.
Jadi, inti dari penjelasan ini, adalah bahwa pekerjaan Tabligh adalah
upaya yang sangat penting dan mulia yang didasarkan pada ajaran Al-Qur’an dan
Sunnah Nabi (SA).
Dan Allah tahu yang terbaik.
Mufti Waseem Khan
8.
Fatwa Syaikh Ibnu Uthaimin
Terjemahan
bebas:
Soalan:
Saya telah mula memberi komitmen sejak akhir-akhir ini, segala puji bagi Allah. Di kawasan kami terdapat Jamaah Tabligh, yang keluar selama tiga puluh hari atau lebih. Masyarakat berlainan pendapat terhadap mereka. Ada yang berkata, jangan keluar bersama mereka, sebab keluarnya mereka itu adalah bid’ah dan mereka mempunyai beberapa idea yang salah. Ada pula yang menasihati saya untuk keluar bersama mereka. Apakah pandangan yang benar tentang perkara ini? Patutkah saya keluar bersama mereka atau tidak?
Jawapan:
Segala puji bagi Allah. Kita sudah pun membincangkan mengenai kumpulan ini dan sebahagian dari pro dan kontra mereka. Syaikh Ibn Uthaimeen (semoga Allah mengasihinya) telah ditanya tentang perkara ini dan beliau berkata: Kebiasaannya didalam setiap isu terdapat dua ekstrim dan satu jalan pertengahan. Ada orang yang begitu memuji kumpulan ini dan menggalakkan (orang) untuk keluar bersama mereka; yang lain pula begitu mengkondem mereka dan memberi amaran mengenai mereka lebih dari mereka memberi amaran kepada anda tentang singa. Dan ada orang yang mengambil jalan tengah diantara dua ekstrim ini.
Saya berpendapat ada beberapa kebaikan didalam kumpulan ini; mereka mengajak orang lain kepada Islam dan mempunyai pengaruh yang nyata yang para pendakwah lain tidak memilikinya. Ramai orang kafir telah menjadi orang beriman di tangan mereka, dan ramai ahli maksiat telah diberi petunjuk oleh Allah melalui mereka.
Tanpa diragukan, mereka adalah orang-orang yang baik, tapi saya fikir dikalangan mereka yang berada di Saudi tidak pergi ke Pakistan atau negara-negara lain, dan kita tidak tahu apa-apa mengenai aqidah mereka yang di negara lain ataupun manhaj (metodologi) mereka. Tapi tiada apa-apa yang salah dengan manhaj yang diikuti oleh sahabat-sahabat kita di Saudi ini.
Berkenaan dengan membataskan dakwah selama tiga atau empat hari, atau dua atau empat atau enam bulan, atau dua tahun, tiada bukti syar’i mengenainya. Tapi mereka berpendapat bahawa ini adalah mengenai organisasi kumpulan. Jika ada orang pergi untuk tiga hari, dan mengetahui yang dia terbatas didalam tiga hari ini, dia akan memfokuskan mindanya dan melupakan perkara-perkara keduniaan (selama tempoh tersebut). Ini adalah perkara organisasi, dan bukannya perbuatan ibadah atau perkara syari’ah.
Saya berpendapat, semoga Allah merahmati anda, sekiranya anda mempunyai peluang untuk menuntut ilmu maka perbuatan itu lebih digalakkan, sebab menuntut ilmu adalah baik dan masyarakat hari ini sangat memerlukan para ulama’ yang mempunyai pengetahuan Sunnah dan mahir didalam ilmu pengetahuan. Jika anda tidak berpeluang untuk menuntut ilmu, dan anda keluar bersama mereka untuk menyucikan diri, maka tiada kesalahan berbuat demikian. Ramai orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah di tangan mereka.
[Al-Baab al-Maftooh, no. 10, P. 304]
Soalan:
Saya telah mula memberi komitmen sejak akhir-akhir ini, segala puji bagi Allah. Di kawasan kami terdapat Jamaah Tabligh, yang keluar selama tiga puluh hari atau lebih. Masyarakat berlainan pendapat terhadap mereka. Ada yang berkata, jangan keluar bersama mereka, sebab keluarnya mereka itu adalah bid’ah dan mereka mempunyai beberapa idea yang salah. Ada pula yang menasihati saya untuk keluar bersama mereka. Apakah pandangan yang benar tentang perkara ini? Patutkah saya keluar bersama mereka atau tidak?
Jawapan:
Segala puji bagi Allah. Kita sudah pun membincangkan mengenai kumpulan ini dan sebahagian dari pro dan kontra mereka. Syaikh Ibn Uthaimeen (semoga Allah mengasihinya) telah ditanya tentang perkara ini dan beliau berkata: Kebiasaannya didalam setiap isu terdapat dua ekstrim dan satu jalan pertengahan. Ada orang yang begitu memuji kumpulan ini dan menggalakkan (orang) untuk keluar bersama mereka; yang lain pula begitu mengkondem mereka dan memberi amaran mengenai mereka lebih dari mereka memberi amaran kepada anda tentang singa. Dan ada orang yang mengambil jalan tengah diantara dua ekstrim ini.
Saya berpendapat ada beberapa kebaikan didalam kumpulan ini; mereka mengajak orang lain kepada Islam dan mempunyai pengaruh yang nyata yang para pendakwah lain tidak memilikinya. Ramai orang kafir telah menjadi orang beriman di tangan mereka, dan ramai ahli maksiat telah diberi petunjuk oleh Allah melalui mereka.
Tanpa diragukan, mereka adalah orang-orang yang baik, tapi saya fikir dikalangan mereka yang berada di Saudi tidak pergi ke Pakistan atau negara-negara lain, dan kita tidak tahu apa-apa mengenai aqidah mereka yang di negara lain ataupun manhaj (metodologi) mereka. Tapi tiada apa-apa yang salah dengan manhaj yang diikuti oleh sahabat-sahabat kita di Saudi ini.
Berkenaan dengan membataskan dakwah selama tiga atau empat hari, atau dua atau empat atau enam bulan, atau dua tahun, tiada bukti syar’i mengenainya. Tapi mereka berpendapat bahawa ini adalah mengenai organisasi kumpulan. Jika ada orang pergi untuk tiga hari, dan mengetahui yang dia terbatas didalam tiga hari ini, dia akan memfokuskan mindanya dan melupakan perkara-perkara keduniaan (selama tempoh tersebut). Ini adalah perkara organisasi, dan bukannya perbuatan ibadah atau perkara syari’ah.
Saya berpendapat, semoga Allah merahmati anda, sekiranya anda mempunyai peluang untuk menuntut ilmu maka perbuatan itu lebih digalakkan, sebab menuntut ilmu adalah baik dan masyarakat hari ini sangat memerlukan para ulama’ yang mempunyai pengetahuan Sunnah dan mahir didalam ilmu pengetahuan. Jika anda tidak berpeluang untuk menuntut ilmu, dan anda keluar bersama mereka untuk menyucikan diri, maka tiada kesalahan berbuat demikian. Ramai orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah di tangan mereka.
[Al-Baab al-Maftooh, no. 10, P. 304]
9.
Fatwa
Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy
(Guru Besar di Masjid Nabawi)
Mereka
berkata: Orang-orang Tabligh membuat bida’ah berupa keluar di jalan Allah
secara berjemaah dan membatasi masa keluar 3 hari, 40 hari dan 4 bulan.
Kami
katakan: Sesungguhnya keluar untuk memperbaiki diri adalah seperti keluar untuk
menuntut ilmu dan hidayah. Juga seperti keluar untuk mendakwah manusia kepada
Allah dan mengajar mereka hal-hal yang bermenafaat di dunia dan akhirat. Semuanya
itu adalah keluar di Jalan Allah, apabila di landasi niat yang benar dan untuk
mengapai redho Allah Ta’ala, bukan untuk memperolehi harta dan penghormatan
atau untuk hiburan, permainan dan kebatilan. Adalah termasuk kelakuan bodoh
atau pura-pura bodoh apabila ada orang yang mengingkari keluarnya Jemaah
Tabligh untuk kepentingan hidayah bagi manusia, mengajar mereka, memperbaiki
diri mereka dan mendidik rohani mereka. Padahal Rasulullah (sallalaahu alayhi
wasalam) bersabda, “Satu petang atau satu pagi keluar di jalan Allah, lebih
baik daripada mendapatkan dunia dan segala isinya. Juga sabda Rasulullah
(sallalaahu alayhi wasalam), “Barangsaiapa mendatangi masjid ini, semata-mata
untuk kebaikan yang ia ajarkan atau ia pelajari, laksana mujahid fi sabilillah.”
Dan banyak lagi hadith sahih dan hassan yang mengajarkan dan memberi semangat
untuk keluar di Jalan Allah. Alangkah ajaibnya perkataan mereka bahawa
keluarnya Jemaah Tabligh adalah bida’ah! Dan lebih ajaib lagi mereka berhujah
terhadap “keluar fi sabilillah secara berjemaah adalah bida’ah” dengan jangkaan
mereka bahawa Rasulullah (sallalaahu alayhi wasalam) mengirimkan Mu'az
(radiyalaahu anhu) ke Yaman sendirian saja dan tidak berjemaah. Mereka lupa
atau tidak tahu bahawa Rasulullah (sallalaahu alayhi wasalam) tidak mengirimkan
Mu'az (radiyalaahu anhu) sendirian tetapi mengirimkan Abu Musa Al Asy’ary
(radiyalaahu anhu) bersamanya. Baginda (sallalaahu alayhi wasalam) bersabda
kepada keduanya, “Gembirakanlah mereka dan jangan kalian buat mereka lari. Mudahkan
mereka dan jangan kalian persulit. Bertolong-tolonglah kalian dan jangan
berselisih.” Juga beliau mengirimkan Ali bin Abi Talib dan Khalid bin Sa’id bin
al Ash (radiyalaahu anhuma). Bersama mereka baginda (sallalaahu alayhi wasalam)
mengirimkan rombongan besar untuk dakwah, ta’leem dan memutuskan perkara
diantara manusia.
Tentang
pembatasan masa keluar yang mereka katakan sebagai Bidaah, adalah peraturan
dakwah sebagaimana peraturan sekolah dan universiti yang mengenal batasan masa
belajar dan kerehatan, untuk menyiapkan bekal dan perbelanjaan selama masa
keluar. Apakah dengan demikian, orang-orang Tabligh dianggap membuat bida’ah
kerena mereka mengatur hari-hari untuk kepentingan dan khuruj fi sabilillah
(keluar di jalan Allah)? Subhanallah!
Mereka
yang mengatakan demikian seperti yang dikatakan di dalam syair “Pandangan
ridho/senang selalu tumpul terhadap setiap aib, sedang pandangan benci selalu
membongkar keburukan.”
Apakah
yang menyebabkan kemarahan kalian, wahai hamba-hamba Allah!? Seorang hamba Allah,
mendakwah manusia pada Allah Ta’ala, kemudian dia mendapat keredhaan untuk
dirinya dan saudara-saudaranya yang ia dakwah. Jiwa mereka menjadi suci, hati
mereka menjadi bersih dan akhlak mereka menjadi mulia disebabkan mereka selalu
mengucapkan kata-kata yang baik dan melakukan amal-amal yang soleh. Apakah yang
menyebabkan kalian marah, wahai hamba-hamba Allah!? Semoga Allah sentiasa
menjaga kita. Kami tidak dapat mengatakan bahawa dalam Jemaah Tabligh ada
sesuatu yang dapat di anggap sebagai penghalang manusia dari Jalan Allah.
Alhamdulillah.
[Ditulis
oleh Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy, Guru Besar di Masjid Nabawi dan
Universiti Madinah Al-Munawarrah, dipetik dari buku “Menyingkap Tabir
Kesalahfahaman Terhadap Jemaah Tabligh]
10. Fatwa
Nahdhatul Ulama Indonesia
Hukum Menerima Atau Menolak Jamaah Tabligh Di Mesjid - Mesjid
HASIL BAHTSU MASA’IL PENGURUS CABANG
NAHDLATUL ‘ULAMA KABUPATEN JEPARA
MUSHOHIH :
1. KH. Ahmad Kholil (Rois syuriyah) (kalinyamatan)
2. KH. Khumaidurrohman (Wakil Rois) (Jepara)
3. KH. Sya’toni (Mustasyar) (Bate Alit)
4. KH. Mahfudz Shidiq (Wakil Rois) (Kedung)
5. KH. Nafi’uddin Hamdan (Wakil Rois) (Welahan)
6. KH. Ubaidillah (Wakil Rois) (Keling)
7. KH. Kamil Ahmad (Wakil Rois) (Kalinyamatan)
8. KH. Muhsin Ali (Wakil Rois) (Kedung)
PERUMUS :
1. KH. Kholilurrohman (Ketua LBM) (Tahunan)
2. KH. Imam Abi Jamroh (Wakil Katib Syuriyah) (Tahunan)
3. KH. Mukhlish (Wakil Ketua LBM) (Welahan)
4. KH. Mundziri Jauhari (Wakil ketua LBM) (Welahan)
5. KH. Hadziq (Anggota LBM) (Welahan)
6. KH. Masduqi ridlwan (A’wan Syuriyah) (Kedung)
7. KH. Ahmad Roziqin (Katib Syuriyah) (Jepara)
JAMAAH TABLIGH
Deskripsi Masalah
Sering kita jumpai sekelompok orang (jamaa’ah) yang singgah di masjid – masjid ataupun musholla. Sebagian masyarakat menyebutnya Jamaah Tabligh, Khuruj, Jaulah, Jama’ah Kompor, Jama’ah jenggot, dan lain – lain. Di satu tempat mereka diterima dengan baik, dihormati dan dimuliakan seperti lazimnya menerima dan menghormati ilmu, namun di tempat yang lain ada yang menolak untuk singgah di masjid mereka, bahkan diusir dan dihina dengan dalih kecurigaan “jangan – jangan mereka kelompok teroris”, atau “membawa agama baru”, atau “akidahnya menyimpang”, atau “tidak sama denga kita” dan lain – lain.
Pertanyaan :
A. Bagaimana hukumnya menerima dan mempersilahkan mereka ketika singgah dan bertamu di masjid kita ?
B. Bagaimana hukumnya menolak dan mengusir mereka dengan berbagai alas an di atas ?
C. Bagaimana hukumnya masuk atau bergabung ke dalam organisasi keagamaan semisal : Jam’iyyah Tabligh, Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyah dan lain – lain ?
Jawaban :
A. Hukum menerima dan mempersilahkan mereka ketika singgah dan bertamu di masjid kita adalah SUNNAH selama mereka benar – benar memegang teguh ajaran – ajaran Al Qur’an dan As-Sunnah ala Ahlus sunnah wal Jamaah
Referensi :
1. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, henaklah memuliakan tamunya!” yaitu : karena memuliakan tamu merupakan akhlak para Nabi dan orang shalih serta etika Islam… sampai komentarnya…Abu Al-Laits bin sa’id telah mewajibkan menjamu tamu sehari semalam karena mengamalkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam : “malamnya tamu itu wajib bagi tiap muslim”. Sedanglan para pakar fikih umumnya mengartikannya sebagai sunah. Menjamu tamu merupakan termasuk akhlak mulia dan kebaikan agama. (Al Majaliss Saniyah, hal.45)
2. Firman allah Ta’ala : ”Baik yang bermukim di situ ( Masjid Al haram)” (QS. Al Hajj : 25) sampai penjelasannya, pengertiannya yaitu seorang yang mukim di masjid dan yang dating di sana, sama dalam masalah singgah di sana, sipa saja yang leih dulu menempati suatu tempat maka itu adalah haknya, dan orang lain tidak boleh mengusirnya.” (Tafsir As – Showy, Juz 3, hal. 120 )
B. Hukum menolak dan mengusir mereka dengan berbagai alasan di atas tidak dibenarkan (tidak boleh) selama mereka tidak menyimpang dari ajaran Al – Qur’an dan As- sunnah ala Ahlus Sunnah wal Jama’ah .
Referensi :
1. Firman Allah (“dan siapakah yang lebih aniaya”) artinya tidak ada yang lebih aniaya (daripada orang yang menghalang – halangi menyebut nama Allah dalam masjid – masjid –Nya”), dengan shalat dan bacaan tasbih. Firman-Nya : daripada orang yang menghalang – halangi, …sampai perkataannya…pengertiannya tidak ada yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang – halangin dzikir menyebut asma Allah di masjid – masjid – Nya. Tindakan menghalangi itu adakalanya dengan menguncinya, mengosongkan dari orang yang memakmurkannya, merobohkannya, memakan pendapatannya atau ceroboh dalam menunaikan hak – haknya. Yang dipandang adalah umumnya lafal bukan sebab yang khusus. (Tafsir Ash-Showy Juz 1 hal. 80 )
2. Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Rahmatullahi ‘alaihi berkata : “Hindarilah mencintai seseorang atau membencinya, kecuali setelah menimbang perbuatannya dengan Kitabullah dan sunnah, agar kalian tidak mencintai atau membencinya karena hawa nafsu!” (An Nurul Burhani hal. 55)
C. Hukum bergabung ke dalam organisasi keagamaan adalah boleh, selama tidak menyimpang dari faham Ahlussunnah wal jama’ah.
Penjelasan :
Jika seseorang yakin atau merasa tidak mampu menjaga agamanya dari hal – hal yang bisa merusak agamanya kecuali dengan masuk ke dalam organisasi tersebut, maka wajib baginya untuk ikut bergabung, selama organisasi itu menganut faham Ahlussunnah wal jama’ah.
Referensi :
Pertanyaan :
Sekarang ini telah Nampak kerusakan baik di darat maupun di laut, tersebar di kota maupun desa, kaum muslimin di uji dalam menjaga mereka dan tetap berada dalam hukum – hukum Allah.
“Apakah wajib atau tidak bagi tiap muslim di zaman ini untuk bergabung dengan suatu perkumpulan Ahlussunnah wal jama’ah agar bisa menunaikan kewajiban mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran beserta melaksanakan kewajibannya membantu iuran bulanan atau selainnya ?.”
JAWAB :
Siapa saja yakin atau menyangka dirinya tidak akan mampu menjaga agamanya dan menunaikan kewajiban mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran kecuali hanya dengan bergabung bersama perkumpulan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka wajib bergabung dengannya.
Pengarang Sullam taufiq berkata, “Wajib bagi tiap muslim untuk menjaga ke-islamannya serta menjaganya dari perkara yang bisa merusak atau membatalkannya.”
(Ahkamul Fuqoha’, Juz 2, hal. 96).
*** Lebih jelasnya hubungi Sekretarian NU Jepara di Jl. Pemuda No. 51 Jepara.
Telpon (0291) 591387, 596146
SUMBER :
Kitab “Jamaah Tabligh Sesat ? Para Kyai & Santri Menjawab”
Halaman 192 - 195
Disusun oleh Team tabayyun Payaman.
Diterbitkan oleh Balai Pustaka Upaya Ilmu Iman
Ponpes. Sirajul Mukhlasin Payaman,
Payaman PO BOX 158 Magelang 56101 Magelang, Jawa Tengah
[http://palangiran.blogspot.com/2014/02/hukum-menerima-atau-menolak-jamaah.html]
HASIL BAHTSU MASA’IL PENGURUS CABANG
NAHDLATUL ‘ULAMA KABUPATEN JEPARA
MUSHOHIH :
1. KH. Ahmad Kholil (Rois syuriyah) (kalinyamatan)
2. KH. Khumaidurrohman (Wakil Rois) (Jepara)
3. KH. Sya’toni (Mustasyar) (Bate Alit)
4. KH. Mahfudz Shidiq (Wakil Rois) (Kedung)
5. KH. Nafi’uddin Hamdan (Wakil Rois) (Welahan)
6. KH. Ubaidillah (Wakil Rois) (Keling)
7. KH. Kamil Ahmad (Wakil Rois) (Kalinyamatan)
8. KH. Muhsin Ali (Wakil Rois) (Kedung)
PERUMUS :
1. KH. Kholilurrohman (Ketua LBM) (Tahunan)
2. KH. Imam Abi Jamroh (Wakil Katib Syuriyah) (Tahunan)
3. KH. Mukhlish (Wakil Ketua LBM) (Welahan)
4. KH. Mundziri Jauhari (Wakil ketua LBM) (Welahan)
5. KH. Hadziq (Anggota LBM) (Welahan)
6. KH. Masduqi ridlwan (A’wan Syuriyah) (Kedung)
7. KH. Ahmad Roziqin (Katib Syuriyah) (Jepara)
JAMAAH TABLIGH
Deskripsi Masalah
Sering kita jumpai sekelompok orang (jamaa’ah) yang singgah di masjid – masjid ataupun musholla. Sebagian masyarakat menyebutnya Jamaah Tabligh, Khuruj, Jaulah, Jama’ah Kompor, Jama’ah jenggot, dan lain – lain. Di satu tempat mereka diterima dengan baik, dihormati dan dimuliakan seperti lazimnya menerima dan menghormati ilmu, namun di tempat yang lain ada yang menolak untuk singgah di masjid mereka, bahkan diusir dan dihina dengan dalih kecurigaan “jangan – jangan mereka kelompok teroris”, atau “membawa agama baru”, atau “akidahnya menyimpang”, atau “tidak sama denga kita” dan lain – lain.
Pertanyaan :
A. Bagaimana hukumnya menerima dan mempersilahkan mereka ketika singgah dan bertamu di masjid kita ?
B. Bagaimana hukumnya menolak dan mengusir mereka dengan berbagai alas an di atas ?
C. Bagaimana hukumnya masuk atau bergabung ke dalam organisasi keagamaan semisal : Jam’iyyah Tabligh, Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyah dan lain – lain ?
Jawaban :
A. Hukum menerima dan mempersilahkan mereka ketika singgah dan bertamu di masjid kita adalah SUNNAH selama mereka benar – benar memegang teguh ajaran – ajaran Al Qur’an dan As-Sunnah ala Ahlus sunnah wal Jamaah
Referensi :
1. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, henaklah memuliakan tamunya!” yaitu : karena memuliakan tamu merupakan akhlak para Nabi dan orang shalih serta etika Islam… sampai komentarnya…Abu Al-Laits bin sa’id telah mewajibkan menjamu tamu sehari semalam karena mengamalkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam : “malamnya tamu itu wajib bagi tiap muslim”. Sedanglan para pakar fikih umumnya mengartikannya sebagai sunah. Menjamu tamu merupakan termasuk akhlak mulia dan kebaikan agama. (Al Majaliss Saniyah, hal.45)
2. Firman allah Ta’ala : ”Baik yang bermukim di situ ( Masjid Al haram)” (QS. Al Hajj : 25) sampai penjelasannya, pengertiannya yaitu seorang yang mukim di masjid dan yang dating di sana, sama dalam masalah singgah di sana, sipa saja yang leih dulu menempati suatu tempat maka itu adalah haknya, dan orang lain tidak boleh mengusirnya.” (Tafsir As – Showy, Juz 3, hal. 120 )
B. Hukum menolak dan mengusir mereka dengan berbagai alasan di atas tidak dibenarkan (tidak boleh) selama mereka tidak menyimpang dari ajaran Al – Qur’an dan As- sunnah ala Ahlus Sunnah wal Jama’ah .
Referensi :
1. Firman Allah (“dan siapakah yang lebih aniaya”) artinya tidak ada yang lebih aniaya (daripada orang yang menghalang – halangi menyebut nama Allah dalam masjid – masjid –Nya”), dengan shalat dan bacaan tasbih. Firman-Nya : daripada orang yang menghalang – halangi, …sampai perkataannya…pengertiannya tidak ada yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang – halangin dzikir menyebut asma Allah di masjid – masjid – Nya. Tindakan menghalangi itu adakalanya dengan menguncinya, mengosongkan dari orang yang memakmurkannya, merobohkannya, memakan pendapatannya atau ceroboh dalam menunaikan hak – haknya. Yang dipandang adalah umumnya lafal bukan sebab yang khusus. (Tafsir Ash-Showy Juz 1 hal. 80 )
2. Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Rahmatullahi ‘alaihi berkata : “Hindarilah mencintai seseorang atau membencinya, kecuali setelah menimbang perbuatannya dengan Kitabullah dan sunnah, agar kalian tidak mencintai atau membencinya karena hawa nafsu!” (An Nurul Burhani hal. 55)
C. Hukum bergabung ke dalam organisasi keagamaan adalah boleh, selama tidak menyimpang dari faham Ahlussunnah wal jama’ah.
Penjelasan :
Jika seseorang yakin atau merasa tidak mampu menjaga agamanya dari hal – hal yang bisa merusak agamanya kecuali dengan masuk ke dalam organisasi tersebut, maka wajib baginya untuk ikut bergabung, selama organisasi itu menganut faham Ahlussunnah wal jama’ah.
Referensi :
Pertanyaan :
Sekarang ini telah Nampak kerusakan baik di darat maupun di laut, tersebar di kota maupun desa, kaum muslimin di uji dalam menjaga mereka dan tetap berada dalam hukum – hukum Allah.
“Apakah wajib atau tidak bagi tiap muslim di zaman ini untuk bergabung dengan suatu perkumpulan Ahlussunnah wal jama’ah agar bisa menunaikan kewajiban mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran beserta melaksanakan kewajibannya membantu iuran bulanan atau selainnya ?.”
JAWAB :
Siapa saja yakin atau menyangka dirinya tidak akan mampu menjaga agamanya dan menunaikan kewajiban mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran kecuali hanya dengan bergabung bersama perkumpulan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka wajib bergabung dengannya.
Pengarang Sullam taufiq berkata, “Wajib bagi tiap muslim untuk menjaga ke-islamannya serta menjaganya dari perkara yang bisa merusak atau membatalkannya.”
(Ahkamul Fuqoha’, Juz 2, hal. 96).
*** Lebih jelasnya hubungi Sekretarian NU Jepara di Jl. Pemuda No. 51 Jepara.
Telpon (0291) 591387, 596146
SUMBER :
Kitab “Jamaah Tabligh Sesat ? Para Kyai & Santri Menjawab”
Halaman 192 - 195
Disusun oleh Team tabayyun Payaman.
Diterbitkan oleh Balai Pustaka Upaya Ilmu Iman
Ponpes. Sirajul Mukhlasin Payaman,
Payaman PO BOX 158 Magelang 56101 Magelang, Jawa Tengah
[http://palangiran.blogspot.com/2014/02/hukum-menerima-atau-menolak-jamaah.html]
11.
Fatwa Mufti Kerajaan Brunei
'Adalah menjadi niat
Jabatan Mufti Kerajaan supaya fatwa-fatwa yang difatwakan oleh Mufti Kerajaan
Negara Brunei Darussalam akan disebarkan seluas yang mungkin hatta melimpasi
sempadan negeri. Saya mempunyai keyakinan bahawa buku ini besar manfaatnya
kepada umat Islam kerana di samping memberikan jawapan hukum Islam kepada
pertanyaan dan kemusykilan agama, Fatwa Mufti Kerajaan jua mempunyai ciri
menyebarkan ilmu pengetahuan Islam yang menjadi latar belakang fatwa yang
difatwakan itu. Dengan ciri yang demikian, umat Islam akan menghayati hukum dan
doktrin Islam yang disampaikan dalam buku ini dengan lebih mendalam.'
Soalan 1:
Dengan hormat dimaklumkan bahawa Majlis Ugama Islam, Negara Brunei Darussalam telah menerima satu laporan penyiasatan sulit kegiatan Jemaah Tabligh di Negara Brunei Darussalam daripada Nahagian Penyiasatan dan Pendakwaan Jabatan Hal Ehwal Syara'iah, Kementerian Hal Ehwal Ugama, Negara Brunei Darussalam.
Di dalam laporan berkenaan telah dinyatakan beberapa perkara yang berhubung dengan Jemaah Tabligh iaitu dari segi sejarah kedudukan dan perkembangannya, organisasi pentadbirannya, prinsip, amalan, tujuan dan pandangan-pandangan daripada institusi-institusi keagamaan, masyarakat dan pengikut-pengikutnya.
Oleh yang demikian, bagi maksud tersebut di atas, dipohonkan fatwa mengenai kegiatan jemaah tersebut khususnya di Negara Brunei Darussalam pada kadar yang segera mengenainya.
Jawapan:
Saya telah baca laporan penyiasatan sulit kegiatan Jemaah Tabligh di Negara Brunei Darussalam. Laporan mengandungi sejarah kedudukan dan perkembangannya, organisasi pentadbirannya, prinsip, amalan, tujuan dan pandangan-pandangan daripada isntitusi-institusi keugamaan, masyarakat dan pengikut-pengikutnya.
Untuk lebih menjelaskan kedudukan Jemaah Tabligh ini, maka elok dinukil semula tulisan dan fatwa bekas Mufti Kerajaan Brunei Darussalam, Yang Dimuliakan Pehin Datu Seri Maharaja Dato Seri Utama Dr. Haji Awang Ismail bin Omar Abdul Aziz Rahimahullah, yang bertajuk : “KUMPULAN DAKWAH INDIA DAN TUJUAN MEREKA.” Beliau antara lain menulis:
“Ahli Dakwah dan Tabligh dari India, dipelopori dan dipimpin oleh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Faqih Al-Syeikh Muhammad Ilyas bin Muhammad Ismail Al-Kandahlawi yang mati tahun 1363 Hijriah (1943 Masihi) yang diambilnya dari ajaran Allah, sehingga dia mati tahun 1965 Masihi (1385 Hijriah), kemudian dipimpin oleh Al-Syeikh Al-Fadhil Muhammad In’am Al-Hasan Ibn Al-Syeikh Al-Haj Ikram Al-Hasan yang berjalan hingga tahun 1973 Masihi (1393 Hijriah) menurut keterangan yang ditulis oleh Al-Syeikh Shadruddin ‘Amir Al-Anshari dalam buku bernama Al-Syeikh Muhammad Ilyas wa Da’watuhu Al-Diniyyah yang diterbitkan pada tahun 1394 Hijriah.
Asas Dakwah dan Tabligh
Adalah Al-‘Allamah Al-Syeikh Muhammad Ilyas mengasaskan dakwah dan tabligh yang dipimpin olehnya ada tujuh perkara:
(i) Kalimah Thayyibah iaitu: La illaha illallah Muhammadur Rasulullah
(ii) Mendirikan sembahyang fardhu dan sunat.
(iii) Mengaji ilmu dan berzikir dan berwirid.
(iv) Memuliakan dan menghormatkan tiap-tiap orang Islam.
(v) Ikhlas dan jujur dalam segala gerak geri.
(vi) Ke arah tenaga pada mengajak manusia pada jalan Allah (sabilillah).
(vii) Berusaha pada meninggalkan perkara yang tiada kena mengena pada menyampaikan pada enam tujuan itu.
Tujuh perkara itu dilaksanakan oleh Al-‘Allamah Muhammad Ilyas dengan cara amal dengan tiada dia menulis di dalam kitab, kerana dakwah dan tabligh yang dipimpinnya itu berdasarkan amal dan perbuatan dan dicuba dan perlaksanaan bukan dengan cakap-cakap dan tulisan-tulisan dan pidato-pidato dan mengarang buku-buku dan kitab dan menyiarkan siaran dan majalah-majalah dan akhbar-akhbar. Tetapi pengikut-pengikutnya telah menulis cara melaksanakan tujuh perkara itu.
Bagaimana Cara Berdakwah
Cara menjalankan dakwah itu iaitu berhimpun sekumpulan orang dengan nama Allah dan kerana Allah dalam satu-satu masjid Allah, dan kumpulan itu mengangkat seorang daripada mereka seorang ketua, yang bertanggungjawab akan kerehatan orang-orang kumpulannya itu, mereka taat pada perintahnya yang bukan dalam perkara maksiat dan dosa, kemudian berjalan dan keluar ke mana-mana tempat sekurang-kurangnya dua kali seminggu, sebelum masuk waktu mana-mana sembahyang, tujuan keluar itu ialah berjumpa dengan orang-orang Islam, dan mengajak mereka, supaya berhimpun dan mendengar kata-kata mereka.
Apabila orang-orang sudah berhimpun di masjid, mereka mengingatkan peranan agama Islam dan tujuan beragama dan mustahak beragama, dan mengajak mereka dengan segala hormat bersama berdakwah.
Apabila orang-orang daripada mereka yang hadir telah bersedia berdakwah, maka mereka menyusun satu kumpulan, kerana keluar pergi menjalankan dakwah, maka kumpulan itu pergi keluar menuju pada tempat-tempat orang-orang yang telah biasa menjalankan kerja-kerja dakwah, supaya kumpulan itu bekerja di bawah pimpinan mereka. Apabila orang-orang itu telah berlatih dan telah belajar cara berdakwah, maka mereka pergi keluar ke tempat-tempat yang dekat atau tempat-tempat yang jauh, menurut kemampuan masing-masing kumpulan itu, kerana mengajak dan menyeru orang-orang Islam dan memimpin mereka supaya berbuat sebagaimana dibuat oleh kumpulan yang tersebut tadi.
Tiap-tiap orang keluar berdakwah itu di atas belanjanya sendiri, berazam dengan belanja itu dia benar-benar beradab dengan Allah dan rasulNya dan dengan dirinya serta dengan sekalian manusia, berlumba-lumba berbuat benar dan bersih hati, serta memelihara benar-benar akan perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta mengambil kira akan melazimkan dzikrullah dan membaca Al-Qur’an Al-Karim.
Dalam masa keluar dakwah itu, dikehendaki masing-masing ahli dakwah itu menjaga masa dengan betul dan tepat, maka janganlah dia menghabiskan masa dengan perkara yang tiada kena mengena dengan peranan mereka, dan hendaklah mereka mengambil perhatian dengan empat perkara yang di bawah ini:
Pertama: Dakwah dan Tabligh yang khas dan caranya iaitu menghantar setengah-setengah orang dari kumpulan itu keluar dan berhubung dengan penduduk yang terkenal di kampung atau negeri tiu, dan menerangkan kepada mereka akan tujuan berdakwah dengan keadan hormat dan sopan santun, minta mereka menolong dan hadir ke majlis dakwah itu.
Kedua: Dakwah Am dan caranya ialah setengah-setengah daripad akumpulan itu keluar dan berhubung dengan orang-orang ramai daripada umat Islam di dalam pasar-pasar dan kampung-kampung, dan mengajak mereka dengan keadaan beradab dan sopan santun dan lemah lembut dan mengajak mereka hadir dan mendengar, dan lebih afdhal dan lebih baik berhimpun di masjid, dan apabila berhimpun orang-orang ramai itu, maka dakwah ditujukan kepada mereka, dan mengajak mereka dengan lemah lembut dan bersungguh-sungguh supaya mereka mengosongkan diri dari kerja-kerja mereka, akan satu bahagian masa bagi berdakwah dan tabligh dan apabila ada setengah-setengah daripada mereka telah bersedia, maka diangkat dan disusun satu jemaah atau kumpulan mengikut cara-cara yang telah lalu itu.
Ketiga: Mengajar dan caranya hendaklah orang-orang kumpulan itu duduk dengan beradab dan hormat pada tiap-tiap hari, pada muzakarah dan membaca dan memahamkan hadits-hadits dan ayat-ayat Al-Qur’an yang memberi gembira dan riang hati bagi mengerjakan ibadat-ibadat, dan pada berperangai dengan perangai yang mulia, iaitu seorang daripada mereka membaca akan hadits-hadits yang berhubung dengan kelebihan beribadat dan berperangai yang mulia, dan orang-orang lain dalam kumpulan itu mendengar dan beradab yang munasabah dengan kemuliaan sabda-sabda dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, ditentukan sedikit masa itu bagi membaca Al-Qur’an Al-Karim, dan bagi muzakarah akan doa-doa yang ma’tsurah (yang datang daripada Rasulullah), dan membaca surah-surah Al-Qur’an Al-Karim supaya dapat belajar oleh orang-orang yang tiada tahu akan perkara-perkara yang tersebut itu.
Selain dari itu, maka tiap-tiap orang daripada kumpulan itu berusaha pada menunaikan sembahyang-sembahyang fardhu dan sembahyang sunat dengan khusyu’ hati dan merendah diri kepada Allah demi sedikit-sedikit sehingga penuh khusyu’ dan merendah diri itu.
Keempat: Hendaklah tiap-tiap seorang dari kumpulan itu menampakkan dirinya sebagai contoh yang lengkap dari perangai yang baik, dan sebagai ikutan kepada kawan-kawannya pada memberi kemudahan kepada mereka, dan dia sentiasa bersedia berkhidmat kepada lain-lain orang, dengan tiada tamak akan mendapat balasan, dengan membuat kerja-kerja yang mesti dibuat seperti membeli perkara-perkara yang dihajatkan dan menyediakan makanan dan membasuh alat dan perabot yang mesti dengan bergilir-gilir.
Tujuan Dari Dakwah Dan Tabligh
Tujuan utama dari usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan itu semuanya, sebagaimana kata Al-‘Allamah Al-Syeikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi Rahimahullahu Ta’ala, pengganti dakwah bagi ayahnya Al-‘Allamah Syeikh Muhammad Ilyas itu, ialah menghidupkan sunnah Rasulullah dan berusaha melaksanakan cara-cara Rasulullah berdakwah dan cara hidup Rasulullah dalam semua lapangan kegiatan hidup manusia, iaitu menghidupkan keyakinan iman, dan membaharukan keyakinan iman dan mendirikan dan mengerjakan ibadat-ibadat, menurut caranya yang betul menepati kegiatan Rasulullah, dan membiasakan diri berperangai dengan perangai Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wassalam, dan melaksanakan perangai Rasulullah itu pada bermuamalah dan berurusan dengan manusia, serta mengadakan majlis-majlis zikir dan wirid dan ratib dan majlis-majlis mengajar dan mengkaji bagi mencapai tujuan-tujuan yang tersebut itu.
Bila kumpulan itu kembali dari pelayaran dan dari perjalanan dan dari menyampaikan dakwah dan tabligh itu dan masing-masing orang dari sesuatu kumpulan tadi itu kembali ke rumah masing-masing, maka sayugialah masing-masing itu dengan dirinya sendiri menjalankan dan menunaikan kerja-kerja yang tersebut tadi, di dalam tempat kediamannya dan dia berusaha bersama-sama dengan kawan-kawannya mengembara dan keluar bertemu dengan orang-orang Islam sekurang-kurangnya dua kali seminggu, sekali di kampung tempat kediamannya, dan sekali di kampung lain, dan orang-orang kumpulan itu hendaklah berhimpun sekali pada satu malam dalam seminggu dan bermalam bersama-sama dengan beribadat dan berzikir.
Kerahan Tenaga Keluar Pada Jalan Allah (Sabilillah)
Firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Hendaklah satu kumpulan dari tiap-tiap satu suku kaum daripada umat Islam keluar mengangkat senjata memerangi musuh-musuh Allah, dan hendaklah kumpulan yang tinggal yang tiada keluar pergi perang itu, belajar dan memahamkan agama Islam, dan hendaklah mereka memberi ingat dan mengajar akan kumpulan yang keluar pergi perang itu, apabila mereka kembali ke kampung tempat mereka diam itu, setelah selesai peperangan itu, moga-moga mereka takutkan Allah dengan mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.” (Surah Al-Taubah: 122)
Firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Jika kiranya kamu tiada keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berjihad dan berperang pada sabilillah, nescaya Allah akan mengazabkan kamu dengan azab yang amat pedih dan Allah Ta’ala gantikan kamu dengan kaum dan bangsa yang lain daripada kamu pergi keluar berjihad pada sabilillah bersama-sama Rasulullah.” (Surah Al-Taubah: 39)
Firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Hendaklah satu kumpulan dan satu jemaah dan satu pasukan daripada kamu (umat Islam) mengajak manusia pada agama Islam, dan mereka menyuruh orang berbuat perkara ma’ruf yang digemarkan oleh agama, dan mereka menegah orang daripada melakukan perkara mungkar larangan Allah, maka orang-orang yang berbuat begitu, keluar mengajak orang dan menegah orang, adalah mereka orang yang beruntung.” (Surah Ali ‘Imran: 104)
Firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Tiada siapa yang lebih elok perkataannya daripada orang yang mengajak menyeru orang pada mentauhidkan Allah, dan dia orang beramal dengan amal salih, kemudian dia berkata saya adalah daripada golongan orang-orang Islam.” (Surah Fushshilat: 33)
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
Maksudnya: “Barangsiapa melalui satu jalan dengan tujuan mencari sesuatu ilmu, nescaya Allah Ta’ala memudahkan baginya akan jalan menuju ke Syurga.” (Hadits riwayat Muslim)
Bersabda Rasulullah:
Maksudnya: “Barangsiapa keluar menuntut ilmu, maka dia berjihad pada jalan Allah sehingga dia kembali ke tempat tinggalnya.” (Hadits riwayat Tirmidzi)
Tujuan keluar pada sabilillah itu, ialah melapangkan masa dari kerja-kerja sehari-hari, kerana berlatih dan berusaha pada menyelaraskan hidup sehari-hari itu dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengajak dan menyeru orang lain berlatih dan berusaha, sebagaimana saya kata dahulu dari ini, bahawa kita tiada dapat lapang dari kerja-kerja hidup manusia sepanjang umur kita, kerana perkara itu tada dapat dilaksanakan, tetapi kita boleh dengan tiada payah berbuat apa-apa sekadar kita lapangkan masa umur kita beberapa bulan dalam setahun, atau beberapa hari dalam sebulan, sebagaimana kita lapangkan masa kita bagi makan angin dan bersiar-siar dan berehat, dalam masa itu kita dapat membersihkan diri kita, dan dapat berdakwah mengajak saudara-saudara kita umat Islam, bagi membersihkan diri semata-mata kerana Allah, dan kita berusaha dan bekerja dalam masa lapang yang diuntukkan itu, pada tiap-tiap detik dan second kerana mengikut akan tauladan yang baik dari perjalanan hidup Rasulullah, dan kita berusaha bertaubat, beribadat, memuji Tuhan, ruku’ dan sujud, menyuruh orang berbuat baik, dan menegah orang dari melakukan mungkar dan kejahatan, dan derhaka kepada Allah dan kita menjaga sempadan-sempadan hukum larangan Allah supaya jangan kita limpasi akannya.
Adalah keluar dari melakukan sesuatu pada jalan Allah dan pada sabilillah itu, adalah ia suatu jihad, kerana jihad pada sabilillah dan jalan Allah itu tiada tertentu sahaja menghadap musuh dengan senjata dan kekuatan dan tenaga, tetapi jihad pada sabilillah itu juga dengan jalan berdakwah dan mengajak orang pada menghayati kitab Allah dan sunnah Rasulullah, dan berpegang teguh dengan keduanya dan sentiasa melazimkan keduanya itu.
Percubaan dan pengalaman tetapi menunjukkan bahawa keluar kumpulan-kumpulan kerana berdakwah dan tabligh dan menyampaikan dalam perkara yang berhubung meneruskan dakwah pada sabilillah dan jalan Allah itu, apabila dibuat pada tiap-tiap tahun dalam masa empat puluh hari, adalah ia sebaik-baik jalan bagi mencapai maksud yang dituju itu, sekurang-kurangnya kita berhimpun sehari dalam seminggu dalam mana-mana satu masjid Allah dan kita berlatih dan berusaha pada melakukan enam perkara yang tersebut di atas tadi.
Ini kita naqalkan dari kitab Al-Syeikh Muhammad Ilyas wa Da’watuhu Al-Diniyyah.
Dakwah Al-‘Allamah Al-Syeikh Muhammad Ilyas itu ialah dakwah yang berlaku pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kerana tiada pada masa itu kitab-kitab dan siaran-siaran dan tiada sekolah-sekolah menurut pengertian zaman sekarang ini, tetapi cara-cara baharu yang direka oleh orang-orang sekarang ialah mengikut hajat-hajat zaman sekarang, dan orang-orang lupa akan jalan dakwah yang asal pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam iaitu memberi penerangan dengan disertakan dengan laksanaan.
Saya berpendapat jalan yang direka oleh Al-‘Allamah Al-Syeikh Muhammad Ilyas itu adalah satu jalan yang lebih baik dan lebih berkesan supaya orang-orang Islam dapat menghayati perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kerana ia dakwah dan amal.” Tamat katanya.
Beberapa Pandangan Tentang Jemaah Tabligh
Yang agak menarik perhatian ialah beberapa pandangan daripada institusi-institusi keagamaan. Pandangan-pandangan itu kelihatannya berbeza-beza pada isi dan pendekatannya. Ada yang mensifatkan ajaran Tabligh itu serupa dengan ajaran Gautama Budha dari India kerana pendakwah-pendakwahnya gemar berdakwah secara mengembara dari rumah ke rumah dan kampung ke kampung menyerupai cara Budha menjalankan dakwahnya.
Bagaimanapun ini adalah satu pendapat. Ia hanya semata-mata pendapat. Apabila ada satu pendapat, maka pendapat lain juga mungkin ada banyak lagi. Di antara pendapat-pendapat itu, misalnya ialah jawapan kepada pendapat tadi, bahawa tidaklah tepat menyamakan Jemaah Tabligh dengan gerakan Budha hanya kerana Jemaah ini menggalakkan dakwah bergerak. Adalah dakwah dan tabligh itu memanglah biasanya bergerak, bukan tahan-tahan. Bukankah pengembang-pengembang Islam dari dahulu kala lagi adalah pengembara-pengembara yang berjalan jauh? Jika tidak, masakan Islam boleh sampai ke China, sampai ke India, ke Afrika, ke Eropah dan juga hatta kepada kita sendiri?
Dikatakan juga kebangkitan dakwah Tabligh berlaku setelah gagalnya kegiatan Qadiani. Kalau ini benar, juga tidak ada negatifnya. Qadiani telah disifatkan oleh sejarah dan sarjana-sarjana Islam sebagai tajaan penjajah untuk melemahkan kebangkitan Islam dan umat Islam di India, supaya pecah tidak dapat melawan penjajah itu. Qadiani membuang jihad dalam apa pun bentuknya, sedangkan gerakan Tabligh ini bergerak dilingkungan majoriti Budha/Hidnu, yang tentunya mestilah menguntungkan Islam.
Seorang ulama Arab Saudi yang masyhur masa ini, Al-Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, iaitu pakar penyelidik ilmiah, fatwa dan dakwah dalam kenyataannya kerana menjawab pertanyaan yang dikemukakan kepadanya tentang Jemaah Tabligh ini, telah berkata antara lain:
“Pendapat orang adalah berbeza, ada yang memuji ada yang mengeji. Tetapi kami telah mengenal pasti mengenai mereka itu dari saudara-saudara kita yang boleh dipercayai dari ahli Najd dan dari mereka yang sentiasa bersahabat dengan mereka yang bermusafir ke India dan Pakistan. Ahli Najd dan mereka yang mengikuti bersamanya tidak pernah menyebut bahawa kegiatan yang dijalankan oleh dakwah Tabligh bertentangan dengan syara’ ... dan mereka telah melihat ramai dari mereka yang mengikut Jemaah Tabligh itu keadaannya bertambah baik sama ada dari segi amalan agamanya, akhlak dan bekerj akeras untuk memenuhi keperluan akhirat. Dengan itu saya berpendapat tidak ada apa-apa halangan keluar dengan bersama-sama mereka berdakwah di jalan Allah, bahkan seharusnya bagi ahli-ahli ilmu, ahli-ahli aqidah dan cerdik pandai sepatutnya turut serta bersama-sama mereka dan membantu mereka memenuhi kekurangan yang didapati pada mereka. Bersama-sama surat ini disertakan sebuah kitab yang dikarang oleh Al-Syeikh Muhammad bin Ibrahim Al-Syeikh yang memuji Jemaah Tabligh dan memberi galakan kepada alim ulama dan cerdik pandai Islam menolong memberi sokongan terhadap kerja-kerja dakwah yang dijalankan oleh Jemaah Tabligh dan jangan menghalang mereka. Tugas pendakwah itu ialah memberi ingatan, galakan ke arah membaiki aqidah dan berpegang dengan Al-Qur’an dan Sunnah dan memberi amaran terhadap kerja-kerja bid’ah dan khurafat dan hingga kahir perkara tersebut dalam kitab itu, dan saya sertakan bersama ini satu lapopran yang ditulis oleh saudara-saudara yang kita boleh percayai iaitu Al-Syeikh Mohd. Amin bin Ali, Dekan Fakulti Hadits dan Pengajaran Islam di Jami’ah Islamiyyah, Madinah Al-Munawwarah.
Laporan ini ditulis oleh Al-Syeikh ini, apabila beliau bersama Al-Syeikh Abdul Kadir Murad yang telah dihantar oleh Jami’ah Islamiyah untuk menghadiri Muktamar Tahunan di Pakistan. Ringkasan laporan itu ialah beliau memuji usaha Jemaah Tabligh dan kerja-kerja Dakwah mereka serta menyeru supaya turut serta dalam kerja dakwah itu dan sentiasa mengikut perjumpaan dan sentiasa mengadakan hubungan dengan mereka.
Saya berdoa semoga kita semua mendapat keredhaan Allah dan kejayaan. Semoga mendapat manfaat dari usaha mereka itu sesungguhnya Allah itu Maha mendengar dan sentiasa berada di sisi kita.” Tamat katanya.
Berbangkit dari kenyataan dan fatwa Al-Syeikh Abdul Aziz bin Baz ini, ada pihak yang mengulas seolah-olah fatwa itu tidak boleh diterima kerana Al-Syeikh Abdul Aziz adalah pendukung pergerakan Wahabi. Pergerakan Wahabi memang tidak cocok dengan amalan orang-orang Melayu. Banyak amalan yang diamalkan oleh orang-orang Melayu ditentang oleh pergerakan Wahabi, seperti amalan berwirid dan berzikir selepas sembahyang, amalan bertalqin di atas kubur dan lain-lain, sehingga pergerakan Wahabi mengatakan amalan-amalan itu syirik atau khurafat menyalahi syara’. Tamat kata pengulas itu.
Pendapat kita, kenyataan dan fatwa Al-Syeikh Abdul Aziz itu adalah bebas, tidak dikongkong oleh aliran Wahabiah atau berdasarkan pendirian orang-orang Wahabi. Perkara ini secara tidak disedari turut dibenarkan sendiri oleh pengulas apabila dia menyebut orang-orang Wahabi itu menentang amalan-amalan seperti berwirid dan bertalqin dan lain-lain. Kalau benar Al-Syeikh Abdul Aziz menjawab bersandarkan fahaman Wahabiah yang menentang wirid dan zikir, tentulah dia tidak seterbuka dan sekuat itu menyatakan persetujuan dan sokongan dengan pergerakan Jemaah Tabligh itu, kerana di antara perkara-perkara yang sangat dihayati menjadi amalan Jemaah Tabligh itu ialah ibadat dan zikir-zikir sunat dan doa-doa. Mereka menganjurkan ini pagi dan petang.
Cahaya Islam Memancar Daripada Jemaah
Dalam sejarah umat Islam, pada awal-awalnya membuktikan, bahawa cahaya Islam itu memancar daripada jemaah. Cuba kita lihat dan amati rumah Dar Al-Arqam yang terletak di kaki bukit Safa di Makkah di zaman Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu, di sinilah tempat lahir dan memancarnya cahaya Islam dan iman dan telah keluar ahli cerdik pandai, pemimpin-pemimpin, panglima-panglima dan pendakwah-pendakwah yang menjadi tauladan kepada umat Islam dari zaman ke zaman sampailah ke hari kita ini. Dari sinilah tercetusnya amanah, sifat jujur, ikhlas dan sabar, cekal hati dan kuat jiwa serta semangat untuk melihat Islam itu berkembang dan tersebar melalui jihad dan dakwah.
Cetusan dan tampias daripada Rumah Al-Arqam inilah sehingga kita umat Islam dapat berbangga memiliki panglima-panglima dan pendakwah-pendakwah seperti ‘Uqbah bin Nafi’, Qutaibah Al-Bahili dan lain-lain lagi. ‘Uqbah pernah berdiri di pantai Atlantik di akhir tanah Maghribi dengan berkata sambil kudanya mengharungi air masin:
Ertinya: “Ya Allah Tuhan Nabi Muhammad, kiranya tiadalah lautan ini, nescaya hamba buka dunia ini pada melaungkan kalimat Tuhan hamba ( Laa illaha illallah) Ya Allah, mohon saksikan doa hamba ini.”
Qutaibah Al-Bahili pula telah menjelajah sampai ke negeri-negeri Timur Jauh, dan dia bersumpah hendak meneroka Negeri China, lalu seorang daripada pengikutnya telah memberi ingat kerana kasihan kepadanya, dengan berkata:
Ertinya: “Tuan telah menjelajah dalam negeri Turki wahai Qutaibah, sedangkan keadaan masa itu bergelora, sekali mara dan sekali kecewa.”
Qutaibah menjawab dengan semangat dan keimanan:
Ertinya: “Dengan penuh percaya kepada pertolongan Allah kepada saya, saya akan menjelajah dan apabila sampai tempoh, tiadalah berguna segala kelengkapan.”
Melihat ini, maka pengikutnya itu pun berkata:
Ertinya: “Silalah tuan maju mengikut suka tuan, wahai Qutaibah. Azam tuan tidak dapat dipatahkan melainkan Allah jua.”
Inilah gambaran panglima-panglima dan pendakwah-pendakwah Islam pada zaman dahulu, dan kita pun juga tergambar, bahawa inilah juga sifat-sifat dan perilaku pendakwah-pendakwah yang membawa Islam ke rantau ini ke Tanah Aceh, Sumatera, Semenanjung Tanah Melayu, Pulau Jawa, Borneo, Brunei, Sulawesi dan pulau-pulau Maluku. Mereka itu dengan semangat dan cekal hati serta bertawakal serta berpegang dan percaya dengan janji-janji Allah untuk menolong mereka, maka mereka pun (pendakwah-pendakwah) daripada Tanah Arab melalui Pakistan dan India itu berhasil memikat hati raja-raja sampai kepada rakyat-rakyat mereka untuk menerima Islam dengan redha hati, bukanlah dipaksa. Padahal pendakwah-pendakwah datang tidak dengan membawa bala tentera dan bekalan-bekalan yang cukup sempurna, bukan seperti kaum penjajah Eropah dan Jepun yang cukup dengan alat kelengkapan dan senjata mereka. Pendakwah-pendakwah itu menawan hati raja-raja dan rakyat hanya dengan sifat-sifat yang baik, budi bahasa yang luhur dan tingkah laku muslim yang sempurna, cara hidup, ibadat dan taqwa, sehingga dengan mudahnya raja-raja dan penduduk-penduduk itu menerima Islam.
Berbanding penjajah-penjajah seperti Sepanyol, Portugis, Inggeris, Belanda, Amerika, Perancis dan Jepun yang datang ke rantau ini atau lain-lain rantau dengan cukup kelengkapan dan senjata, cukup dengan bekalan dan tentera dan armada-armada, tetapi raja-raja dan pengikut-pengikut mereka itu tidak mahu tunduk begitu sahaja, bahkan raja-raja melakukan perlawanan apabila penjajah-penjajah itu mula menunjukkan belang mereka.
Inilah perbezaan asasi di antara pendatang-pendatang yang dipanggil pendakwah, dan pendatang-pendatang yang bernama penjajah tadi.
Pendakwah-pendakwah itu adalah ahli-ahli pengorbanan yang membelanjakan harta-harta mereka untuk kebajikan dan kebenaran, sedangkan orang lain itu berbelanja untuk kebatilan dan kezaliman. Pendakwah-pendakwah sentiasa menjaga dan memelihara nama baik serta kehormatan manusia, sedangkan orang lain datang dengan tangan yang berlumuran darah, menjadi perampas hak dan pencabul kehormatan wanita-wanita dan perempuan-perempuan yang tidak berdosa.
Pendakwah-pendakwah itu dengan iman telah bermaal dan berusaha untuk membetulkan dunia, beristiqamah membela agama dan dunia, serta menghimpunkan agama dan dunia itu untuk mencapati kehidupan yang mulia, yang bermaruah dan selamat dunia akhirat.
Jika inilah tujuan sebenar pendakwah-pendakwah, dari dahulu sampai sekarang, maka tujuan itu adalah tujuan yang betul semata-mata untuk mendapatkan keredhaan Allah jua.
Soalan 1:
Dengan hormat dimaklumkan bahawa Majlis Ugama Islam, Negara Brunei Darussalam telah menerima satu laporan penyiasatan sulit kegiatan Jemaah Tabligh di Negara Brunei Darussalam daripada Nahagian Penyiasatan dan Pendakwaan Jabatan Hal Ehwal Syara'iah, Kementerian Hal Ehwal Ugama, Negara Brunei Darussalam.
Di dalam laporan berkenaan telah dinyatakan beberapa perkara yang berhubung dengan Jemaah Tabligh iaitu dari segi sejarah kedudukan dan perkembangannya, organisasi pentadbirannya, prinsip, amalan, tujuan dan pandangan-pandangan daripada institusi-institusi keagamaan, masyarakat dan pengikut-pengikutnya.
Oleh yang demikian, bagi maksud tersebut di atas, dipohonkan fatwa mengenai kegiatan jemaah tersebut khususnya di Negara Brunei Darussalam pada kadar yang segera mengenainya.
Jawapan:
Saya telah baca laporan penyiasatan sulit kegiatan Jemaah Tabligh di Negara Brunei Darussalam. Laporan mengandungi sejarah kedudukan dan perkembangannya, organisasi pentadbirannya, prinsip, amalan, tujuan dan pandangan-pandangan daripada isntitusi-institusi keugamaan, masyarakat dan pengikut-pengikutnya.
Untuk lebih menjelaskan kedudukan Jemaah Tabligh ini, maka elok dinukil semula tulisan dan fatwa bekas Mufti Kerajaan Brunei Darussalam, Yang Dimuliakan Pehin Datu Seri Maharaja Dato Seri Utama Dr. Haji Awang Ismail bin Omar Abdul Aziz Rahimahullah, yang bertajuk : “KUMPULAN DAKWAH INDIA DAN TUJUAN MEREKA.” Beliau antara lain menulis:
“Ahli Dakwah dan Tabligh dari India, dipelopori dan dipimpin oleh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Faqih Al-Syeikh Muhammad Ilyas bin Muhammad Ismail Al-Kandahlawi yang mati tahun 1363 Hijriah (1943 Masihi) yang diambilnya dari ajaran Allah, sehingga dia mati tahun 1965 Masihi (1385 Hijriah), kemudian dipimpin oleh Al-Syeikh Al-Fadhil Muhammad In’am Al-Hasan Ibn Al-Syeikh Al-Haj Ikram Al-Hasan yang berjalan hingga tahun 1973 Masihi (1393 Hijriah) menurut keterangan yang ditulis oleh Al-Syeikh Shadruddin ‘Amir Al-Anshari dalam buku bernama Al-Syeikh Muhammad Ilyas wa Da’watuhu Al-Diniyyah yang diterbitkan pada tahun 1394 Hijriah.
Asas Dakwah dan Tabligh
Adalah Al-‘Allamah Al-Syeikh Muhammad Ilyas mengasaskan dakwah dan tabligh yang dipimpin olehnya ada tujuh perkara:
(i) Kalimah Thayyibah iaitu: La illaha illallah Muhammadur Rasulullah
(ii) Mendirikan sembahyang fardhu dan sunat.
(iii) Mengaji ilmu dan berzikir dan berwirid.
(iv) Memuliakan dan menghormatkan tiap-tiap orang Islam.
(v) Ikhlas dan jujur dalam segala gerak geri.
(vi) Ke arah tenaga pada mengajak manusia pada jalan Allah (sabilillah).
(vii) Berusaha pada meninggalkan perkara yang tiada kena mengena pada menyampaikan pada enam tujuan itu.
Tujuh perkara itu dilaksanakan oleh Al-‘Allamah Muhammad Ilyas dengan cara amal dengan tiada dia menulis di dalam kitab, kerana dakwah dan tabligh yang dipimpinnya itu berdasarkan amal dan perbuatan dan dicuba dan perlaksanaan bukan dengan cakap-cakap dan tulisan-tulisan dan pidato-pidato dan mengarang buku-buku dan kitab dan menyiarkan siaran dan majalah-majalah dan akhbar-akhbar. Tetapi pengikut-pengikutnya telah menulis cara melaksanakan tujuh perkara itu.
Bagaimana Cara Berdakwah
Cara menjalankan dakwah itu iaitu berhimpun sekumpulan orang dengan nama Allah dan kerana Allah dalam satu-satu masjid Allah, dan kumpulan itu mengangkat seorang daripada mereka seorang ketua, yang bertanggungjawab akan kerehatan orang-orang kumpulannya itu, mereka taat pada perintahnya yang bukan dalam perkara maksiat dan dosa, kemudian berjalan dan keluar ke mana-mana tempat sekurang-kurangnya dua kali seminggu, sebelum masuk waktu mana-mana sembahyang, tujuan keluar itu ialah berjumpa dengan orang-orang Islam, dan mengajak mereka, supaya berhimpun dan mendengar kata-kata mereka.
Apabila orang-orang sudah berhimpun di masjid, mereka mengingatkan peranan agama Islam dan tujuan beragama dan mustahak beragama, dan mengajak mereka dengan segala hormat bersama berdakwah.
Apabila orang-orang daripada mereka yang hadir telah bersedia berdakwah, maka mereka menyusun satu kumpulan, kerana keluar pergi menjalankan dakwah, maka kumpulan itu pergi keluar menuju pada tempat-tempat orang-orang yang telah biasa menjalankan kerja-kerja dakwah, supaya kumpulan itu bekerja di bawah pimpinan mereka. Apabila orang-orang itu telah berlatih dan telah belajar cara berdakwah, maka mereka pergi keluar ke tempat-tempat yang dekat atau tempat-tempat yang jauh, menurut kemampuan masing-masing kumpulan itu, kerana mengajak dan menyeru orang-orang Islam dan memimpin mereka supaya berbuat sebagaimana dibuat oleh kumpulan yang tersebut tadi.
Tiap-tiap orang keluar berdakwah itu di atas belanjanya sendiri, berazam dengan belanja itu dia benar-benar beradab dengan Allah dan rasulNya dan dengan dirinya serta dengan sekalian manusia, berlumba-lumba berbuat benar dan bersih hati, serta memelihara benar-benar akan perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta mengambil kira akan melazimkan dzikrullah dan membaca Al-Qur’an Al-Karim.
Dalam masa keluar dakwah itu, dikehendaki masing-masing ahli dakwah itu menjaga masa dengan betul dan tepat, maka janganlah dia menghabiskan masa dengan perkara yang tiada kena mengena dengan peranan mereka, dan hendaklah mereka mengambil perhatian dengan empat perkara yang di bawah ini:
Pertama: Dakwah dan Tabligh yang khas dan caranya iaitu menghantar setengah-setengah orang dari kumpulan itu keluar dan berhubung dengan penduduk yang terkenal di kampung atau negeri tiu, dan menerangkan kepada mereka akan tujuan berdakwah dengan keadan hormat dan sopan santun, minta mereka menolong dan hadir ke majlis dakwah itu.
Kedua: Dakwah Am dan caranya ialah setengah-setengah daripad akumpulan itu keluar dan berhubung dengan orang-orang ramai daripada umat Islam di dalam pasar-pasar dan kampung-kampung, dan mengajak mereka dengan keadaan beradab dan sopan santun dan lemah lembut dan mengajak mereka hadir dan mendengar, dan lebih afdhal dan lebih baik berhimpun di masjid, dan apabila berhimpun orang-orang ramai itu, maka dakwah ditujukan kepada mereka, dan mengajak mereka dengan lemah lembut dan bersungguh-sungguh supaya mereka mengosongkan diri dari kerja-kerja mereka, akan satu bahagian masa bagi berdakwah dan tabligh dan apabila ada setengah-setengah daripada mereka telah bersedia, maka diangkat dan disusun satu jemaah atau kumpulan mengikut cara-cara yang telah lalu itu.
Ketiga: Mengajar dan caranya hendaklah orang-orang kumpulan itu duduk dengan beradab dan hormat pada tiap-tiap hari, pada muzakarah dan membaca dan memahamkan hadits-hadits dan ayat-ayat Al-Qur’an yang memberi gembira dan riang hati bagi mengerjakan ibadat-ibadat, dan pada berperangai dengan perangai yang mulia, iaitu seorang daripada mereka membaca akan hadits-hadits yang berhubung dengan kelebihan beribadat dan berperangai yang mulia, dan orang-orang lain dalam kumpulan itu mendengar dan beradab yang munasabah dengan kemuliaan sabda-sabda dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, ditentukan sedikit masa itu bagi membaca Al-Qur’an Al-Karim, dan bagi muzakarah akan doa-doa yang ma’tsurah (yang datang daripada Rasulullah), dan membaca surah-surah Al-Qur’an Al-Karim supaya dapat belajar oleh orang-orang yang tiada tahu akan perkara-perkara yang tersebut itu.
Selain dari itu, maka tiap-tiap orang daripada kumpulan itu berusaha pada menunaikan sembahyang-sembahyang fardhu dan sembahyang sunat dengan khusyu’ hati dan merendah diri kepada Allah demi sedikit-sedikit sehingga penuh khusyu’ dan merendah diri itu.
Keempat: Hendaklah tiap-tiap seorang dari kumpulan itu menampakkan dirinya sebagai contoh yang lengkap dari perangai yang baik, dan sebagai ikutan kepada kawan-kawannya pada memberi kemudahan kepada mereka, dan dia sentiasa bersedia berkhidmat kepada lain-lain orang, dengan tiada tamak akan mendapat balasan, dengan membuat kerja-kerja yang mesti dibuat seperti membeli perkara-perkara yang dihajatkan dan menyediakan makanan dan membasuh alat dan perabot yang mesti dengan bergilir-gilir.
Tujuan Dari Dakwah Dan Tabligh
Tujuan utama dari usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan itu semuanya, sebagaimana kata Al-‘Allamah Al-Syeikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi Rahimahullahu Ta’ala, pengganti dakwah bagi ayahnya Al-‘Allamah Syeikh Muhammad Ilyas itu, ialah menghidupkan sunnah Rasulullah dan berusaha melaksanakan cara-cara Rasulullah berdakwah dan cara hidup Rasulullah dalam semua lapangan kegiatan hidup manusia, iaitu menghidupkan keyakinan iman, dan membaharukan keyakinan iman dan mendirikan dan mengerjakan ibadat-ibadat, menurut caranya yang betul menepati kegiatan Rasulullah, dan membiasakan diri berperangai dengan perangai Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wassalam, dan melaksanakan perangai Rasulullah itu pada bermuamalah dan berurusan dengan manusia, serta mengadakan majlis-majlis zikir dan wirid dan ratib dan majlis-majlis mengajar dan mengkaji bagi mencapai tujuan-tujuan yang tersebut itu.
Bila kumpulan itu kembali dari pelayaran dan dari perjalanan dan dari menyampaikan dakwah dan tabligh itu dan masing-masing orang dari sesuatu kumpulan tadi itu kembali ke rumah masing-masing, maka sayugialah masing-masing itu dengan dirinya sendiri menjalankan dan menunaikan kerja-kerja yang tersebut tadi, di dalam tempat kediamannya dan dia berusaha bersama-sama dengan kawan-kawannya mengembara dan keluar bertemu dengan orang-orang Islam sekurang-kurangnya dua kali seminggu, sekali di kampung tempat kediamannya, dan sekali di kampung lain, dan orang-orang kumpulan itu hendaklah berhimpun sekali pada satu malam dalam seminggu dan bermalam bersama-sama dengan beribadat dan berzikir.
Kerahan Tenaga Keluar Pada Jalan Allah (Sabilillah)
Firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Hendaklah satu kumpulan dari tiap-tiap satu suku kaum daripada umat Islam keluar mengangkat senjata memerangi musuh-musuh Allah, dan hendaklah kumpulan yang tinggal yang tiada keluar pergi perang itu, belajar dan memahamkan agama Islam, dan hendaklah mereka memberi ingat dan mengajar akan kumpulan yang keluar pergi perang itu, apabila mereka kembali ke kampung tempat mereka diam itu, setelah selesai peperangan itu, moga-moga mereka takutkan Allah dengan mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.” (Surah Al-Taubah: 122)
Firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Jika kiranya kamu tiada keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berjihad dan berperang pada sabilillah, nescaya Allah akan mengazabkan kamu dengan azab yang amat pedih dan Allah Ta’ala gantikan kamu dengan kaum dan bangsa yang lain daripada kamu pergi keluar berjihad pada sabilillah bersama-sama Rasulullah.” (Surah Al-Taubah: 39)
Firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Hendaklah satu kumpulan dan satu jemaah dan satu pasukan daripada kamu (umat Islam) mengajak manusia pada agama Islam, dan mereka menyuruh orang berbuat perkara ma’ruf yang digemarkan oleh agama, dan mereka menegah orang daripada melakukan perkara mungkar larangan Allah, maka orang-orang yang berbuat begitu, keluar mengajak orang dan menegah orang, adalah mereka orang yang beruntung.” (Surah Ali ‘Imran: 104)
Firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Tiada siapa yang lebih elok perkataannya daripada orang yang mengajak menyeru orang pada mentauhidkan Allah, dan dia orang beramal dengan amal salih, kemudian dia berkata saya adalah daripada golongan orang-orang Islam.” (Surah Fushshilat: 33)
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
Maksudnya: “Barangsiapa melalui satu jalan dengan tujuan mencari sesuatu ilmu, nescaya Allah Ta’ala memudahkan baginya akan jalan menuju ke Syurga.” (Hadits riwayat Muslim)
Bersabda Rasulullah:
Maksudnya: “Barangsiapa keluar menuntut ilmu, maka dia berjihad pada jalan Allah sehingga dia kembali ke tempat tinggalnya.” (Hadits riwayat Tirmidzi)
Tujuan keluar pada sabilillah itu, ialah melapangkan masa dari kerja-kerja sehari-hari, kerana berlatih dan berusaha pada menyelaraskan hidup sehari-hari itu dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengajak dan menyeru orang lain berlatih dan berusaha, sebagaimana saya kata dahulu dari ini, bahawa kita tiada dapat lapang dari kerja-kerja hidup manusia sepanjang umur kita, kerana perkara itu tada dapat dilaksanakan, tetapi kita boleh dengan tiada payah berbuat apa-apa sekadar kita lapangkan masa umur kita beberapa bulan dalam setahun, atau beberapa hari dalam sebulan, sebagaimana kita lapangkan masa kita bagi makan angin dan bersiar-siar dan berehat, dalam masa itu kita dapat membersihkan diri kita, dan dapat berdakwah mengajak saudara-saudara kita umat Islam, bagi membersihkan diri semata-mata kerana Allah, dan kita berusaha dan bekerja dalam masa lapang yang diuntukkan itu, pada tiap-tiap detik dan second kerana mengikut akan tauladan yang baik dari perjalanan hidup Rasulullah, dan kita berusaha bertaubat, beribadat, memuji Tuhan, ruku’ dan sujud, menyuruh orang berbuat baik, dan menegah orang dari melakukan mungkar dan kejahatan, dan derhaka kepada Allah dan kita menjaga sempadan-sempadan hukum larangan Allah supaya jangan kita limpasi akannya.
Adalah keluar dari melakukan sesuatu pada jalan Allah dan pada sabilillah itu, adalah ia suatu jihad, kerana jihad pada sabilillah dan jalan Allah itu tiada tertentu sahaja menghadap musuh dengan senjata dan kekuatan dan tenaga, tetapi jihad pada sabilillah itu juga dengan jalan berdakwah dan mengajak orang pada menghayati kitab Allah dan sunnah Rasulullah, dan berpegang teguh dengan keduanya dan sentiasa melazimkan keduanya itu.
Percubaan dan pengalaman tetapi menunjukkan bahawa keluar kumpulan-kumpulan kerana berdakwah dan tabligh dan menyampaikan dalam perkara yang berhubung meneruskan dakwah pada sabilillah dan jalan Allah itu, apabila dibuat pada tiap-tiap tahun dalam masa empat puluh hari, adalah ia sebaik-baik jalan bagi mencapai maksud yang dituju itu, sekurang-kurangnya kita berhimpun sehari dalam seminggu dalam mana-mana satu masjid Allah dan kita berlatih dan berusaha pada melakukan enam perkara yang tersebut di atas tadi.
Ini kita naqalkan dari kitab Al-Syeikh Muhammad Ilyas wa Da’watuhu Al-Diniyyah.
Dakwah Al-‘Allamah Al-Syeikh Muhammad Ilyas itu ialah dakwah yang berlaku pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kerana tiada pada masa itu kitab-kitab dan siaran-siaran dan tiada sekolah-sekolah menurut pengertian zaman sekarang ini, tetapi cara-cara baharu yang direka oleh orang-orang sekarang ialah mengikut hajat-hajat zaman sekarang, dan orang-orang lupa akan jalan dakwah yang asal pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam iaitu memberi penerangan dengan disertakan dengan laksanaan.
Saya berpendapat jalan yang direka oleh Al-‘Allamah Al-Syeikh Muhammad Ilyas itu adalah satu jalan yang lebih baik dan lebih berkesan supaya orang-orang Islam dapat menghayati perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kerana ia dakwah dan amal.” Tamat katanya.
Beberapa Pandangan Tentang Jemaah Tabligh
Yang agak menarik perhatian ialah beberapa pandangan daripada institusi-institusi keagamaan. Pandangan-pandangan itu kelihatannya berbeza-beza pada isi dan pendekatannya. Ada yang mensifatkan ajaran Tabligh itu serupa dengan ajaran Gautama Budha dari India kerana pendakwah-pendakwahnya gemar berdakwah secara mengembara dari rumah ke rumah dan kampung ke kampung menyerupai cara Budha menjalankan dakwahnya.
Bagaimanapun ini adalah satu pendapat. Ia hanya semata-mata pendapat. Apabila ada satu pendapat, maka pendapat lain juga mungkin ada banyak lagi. Di antara pendapat-pendapat itu, misalnya ialah jawapan kepada pendapat tadi, bahawa tidaklah tepat menyamakan Jemaah Tabligh dengan gerakan Budha hanya kerana Jemaah ini menggalakkan dakwah bergerak. Adalah dakwah dan tabligh itu memanglah biasanya bergerak, bukan tahan-tahan. Bukankah pengembang-pengembang Islam dari dahulu kala lagi adalah pengembara-pengembara yang berjalan jauh? Jika tidak, masakan Islam boleh sampai ke China, sampai ke India, ke Afrika, ke Eropah dan juga hatta kepada kita sendiri?
Dikatakan juga kebangkitan dakwah Tabligh berlaku setelah gagalnya kegiatan Qadiani. Kalau ini benar, juga tidak ada negatifnya. Qadiani telah disifatkan oleh sejarah dan sarjana-sarjana Islam sebagai tajaan penjajah untuk melemahkan kebangkitan Islam dan umat Islam di India, supaya pecah tidak dapat melawan penjajah itu. Qadiani membuang jihad dalam apa pun bentuknya, sedangkan gerakan Tabligh ini bergerak dilingkungan majoriti Budha/Hidnu, yang tentunya mestilah menguntungkan Islam.
Seorang ulama Arab Saudi yang masyhur masa ini, Al-Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, iaitu pakar penyelidik ilmiah, fatwa dan dakwah dalam kenyataannya kerana menjawab pertanyaan yang dikemukakan kepadanya tentang Jemaah Tabligh ini, telah berkata antara lain:
“Pendapat orang adalah berbeza, ada yang memuji ada yang mengeji. Tetapi kami telah mengenal pasti mengenai mereka itu dari saudara-saudara kita yang boleh dipercayai dari ahli Najd dan dari mereka yang sentiasa bersahabat dengan mereka yang bermusafir ke India dan Pakistan. Ahli Najd dan mereka yang mengikuti bersamanya tidak pernah menyebut bahawa kegiatan yang dijalankan oleh dakwah Tabligh bertentangan dengan syara’ ... dan mereka telah melihat ramai dari mereka yang mengikut Jemaah Tabligh itu keadaannya bertambah baik sama ada dari segi amalan agamanya, akhlak dan bekerj akeras untuk memenuhi keperluan akhirat. Dengan itu saya berpendapat tidak ada apa-apa halangan keluar dengan bersama-sama mereka berdakwah di jalan Allah, bahkan seharusnya bagi ahli-ahli ilmu, ahli-ahli aqidah dan cerdik pandai sepatutnya turut serta bersama-sama mereka dan membantu mereka memenuhi kekurangan yang didapati pada mereka. Bersama-sama surat ini disertakan sebuah kitab yang dikarang oleh Al-Syeikh Muhammad bin Ibrahim Al-Syeikh yang memuji Jemaah Tabligh dan memberi galakan kepada alim ulama dan cerdik pandai Islam menolong memberi sokongan terhadap kerja-kerja dakwah yang dijalankan oleh Jemaah Tabligh dan jangan menghalang mereka. Tugas pendakwah itu ialah memberi ingatan, galakan ke arah membaiki aqidah dan berpegang dengan Al-Qur’an dan Sunnah dan memberi amaran terhadap kerja-kerja bid’ah dan khurafat dan hingga kahir perkara tersebut dalam kitab itu, dan saya sertakan bersama ini satu lapopran yang ditulis oleh saudara-saudara yang kita boleh percayai iaitu Al-Syeikh Mohd. Amin bin Ali, Dekan Fakulti Hadits dan Pengajaran Islam di Jami’ah Islamiyyah, Madinah Al-Munawwarah.
Laporan ini ditulis oleh Al-Syeikh ini, apabila beliau bersama Al-Syeikh Abdul Kadir Murad yang telah dihantar oleh Jami’ah Islamiyah untuk menghadiri Muktamar Tahunan di Pakistan. Ringkasan laporan itu ialah beliau memuji usaha Jemaah Tabligh dan kerja-kerja Dakwah mereka serta menyeru supaya turut serta dalam kerja dakwah itu dan sentiasa mengikut perjumpaan dan sentiasa mengadakan hubungan dengan mereka.
Saya berdoa semoga kita semua mendapat keredhaan Allah dan kejayaan. Semoga mendapat manfaat dari usaha mereka itu sesungguhnya Allah itu Maha mendengar dan sentiasa berada di sisi kita.” Tamat katanya.
Berbangkit dari kenyataan dan fatwa Al-Syeikh Abdul Aziz bin Baz ini, ada pihak yang mengulas seolah-olah fatwa itu tidak boleh diterima kerana Al-Syeikh Abdul Aziz adalah pendukung pergerakan Wahabi. Pergerakan Wahabi memang tidak cocok dengan amalan orang-orang Melayu. Banyak amalan yang diamalkan oleh orang-orang Melayu ditentang oleh pergerakan Wahabi, seperti amalan berwirid dan berzikir selepas sembahyang, amalan bertalqin di atas kubur dan lain-lain, sehingga pergerakan Wahabi mengatakan amalan-amalan itu syirik atau khurafat menyalahi syara’. Tamat kata pengulas itu.
Pendapat kita, kenyataan dan fatwa Al-Syeikh Abdul Aziz itu adalah bebas, tidak dikongkong oleh aliran Wahabiah atau berdasarkan pendirian orang-orang Wahabi. Perkara ini secara tidak disedari turut dibenarkan sendiri oleh pengulas apabila dia menyebut orang-orang Wahabi itu menentang amalan-amalan seperti berwirid dan bertalqin dan lain-lain. Kalau benar Al-Syeikh Abdul Aziz menjawab bersandarkan fahaman Wahabiah yang menentang wirid dan zikir, tentulah dia tidak seterbuka dan sekuat itu menyatakan persetujuan dan sokongan dengan pergerakan Jemaah Tabligh itu, kerana di antara perkara-perkara yang sangat dihayati menjadi amalan Jemaah Tabligh itu ialah ibadat dan zikir-zikir sunat dan doa-doa. Mereka menganjurkan ini pagi dan petang.
Cahaya Islam Memancar Daripada Jemaah
Dalam sejarah umat Islam, pada awal-awalnya membuktikan, bahawa cahaya Islam itu memancar daripada jemaah. Cuba kita lihat dan amati rumah Dar Al-Arqam yang terletak di kaki bukit Safa di Makkah di zaman Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu, di sinilah tempat lahir dan memancarnya cahaya Islam dan iman dan telah keluar ahli cerdik pandai, pemimpin-pemimpin, panglima-panglima dan pendakwah-pendakwah yang menjadi tauladan kepada umat Islam dari zaman ke zaman sampailah ke hari kita ini. Dari sinilah tercetusnya amanah, sifat jujur, ikhlas dan sabar, cekal hati dan kuat jiwa serta semangat untuk melihat Islam itu berkembang dan tersebar melalui jihad dan dakwah.
Cetusan dan tampias daripada Rumah Al-Arqam inilah sehingga kita umat Islam dapat berbangga memiliki panglima-panglima dan pendakwah-pendakwah seperti ‘Uqbah bin Nafi’, Qutaibah Al-Bahili dan lain-lain lagi. ‘Uqbah pernah berdiri di pantai Atlantik di akhir tanah Maghribi dengan berkata sambil kudanya mengharungi air masin:
Ertinya: “Ya Allah Tuhan Nabi Muhammad, kiranya tiadalah lautan ini, nescaya hamba buka dunia ini pada melaungkan kalimat Tuhan hamba ( Laa illaha illallah) Ya Allah, mohon saksikan doa hamba ini.”
Qutaibah Al-Bahili pula telah menjelajah sampai ke negeri-negeri Timur Jauh, dan dia bersumpah hendak meneroka Negeri China, lalu seorang daripada pengikutnya telah memberi ingat kerana kasihan kepadanya, dengan berkata:
Ertinya: “Tuan telah menjelajah dalam negeri Turki wahai Qutaibah, sedangkan keadaan masa itu bergelora, sekali mara dan sekali kecewa.”
Qutaibah menjawab dengan semangat dan keimanan:
Ertinya: “Dengan penuh percaya kepada pertolongan Allah kepada saya, saya akan menjelajah dan apabila sampai tempoh, tiadalah berguna segala kelengkapan.”
Melihat ini, maka pengikutnya itu pun berkata:
Ertinya: “Silalah tuan maju mengikut suka tuan, wahai Qutaibah. Azam tuan tidak dapat dipatahkan melainkan Allah jua.”
Inilah gambaran panglima-panglima dan pendakwah-pendakwah Islam pada zaman dahulu, dan kita pun juga tergambar, bahawa inilah juga sifat-sifat dan perilaku pendakwah-pendakwah yang membawa Islam ke rantau ini ke Tanah Aceh, Sumatera, Semenanjung Tanah Melayu, Pulau Jawa, Borneo, Brunei, Sulawesi dan pulau-pulau Maluku. Mereka itu dengan semangat dan cekal hati serta bertawakal serta berpegang dan percaya dengan janji-janji Allah untuk menolong mereka, maka mereka pun (pendakwah-pendakwah) daripada Tanah Arab melalui Pakistan dan India itu berhasil memikat hati raja-raja sampai kepada rakyat-rakyat mereka untuk menerima Islam dengan redha hati, bukanlah dipaksa. Padahal pendakwah-pendakwah datang tidak dengan membawa bala tentera dan bekalan-bekalan yang cukup sempurna, bukan seperti kaum penjajah Eropah dan Jepun yang cukup dengan alat kelengkapan dan senjata mereka. Pendakwah-pendakwah itu menawan hati raja-raja dan rakyat hanya dengan sifat-sifat yang baik, budi bahasa yang luhur dan tingkah laku muslim yang sempurna, cara hidup, ibadat dan taqwa, sehingga dengan mudahnya raja-raja dan penduduk-penduduk itu menerima Islam.
Berbanding penjajah-penjajah seperti Sepanyol, Portugis, Inggeris, Belanda, Amerika, Perancis dan Jepun yang datang ke rantau ini atau lain-lain rantau dengan cukup kelengkapan dan senjata, cukup dengan bekalan dan tentera dan armada-armada, tetapi raja-raja dan pengikut-pengikut mereka itu tidak mahu tunduk begitu sahaja, bahkan raja-raja melakukan perlawanan apabila penjajah-penjajah itu mula menunjukkan belang mereka.
Inilah perbezaan asasi di antara pendatang-pendatang yang dipanggil pendakwah, dan pendatang-pendatang yang bernama penjajah tadi.
Pendakwah-pendakwah itu adalah ahli-ahli pengorbanan yang membelanjakan harta-harta mereka untuk kebajikan dan kebenaran, sedangkan orang lain itu berbelanja untuk kebatilan dan kezaliman. Pendakwah-pendakwah sentiasa menjaga dan memelihara nama baik serta kehormatan manusia, sedangkan orang lain datang dengan tangan yang berlumuran darah, menjadi perampas hak dan pencabul kehormatan wanita-wanita dan perempuan-perempuan yang tidak berdosa.
Pendakwah-pendakwah itu dengan iman telah bermaal dan berusaha untuk membetulkan dunia, beristiqamah membela agama dan dunia, serta menghimpunkan agama dan dunia itu untuk mencapati kehidupan yang mulia, yang bermaruah dan selamat dunia akhirat.
Jika inilah tujuan sebenar pendakwah-pendakwah, dari dahulu sampai sekarang, maka tujuan itu adalah tujuan yang betul semata-mata untuk mendapatkan keredhaan Allah jua.
Berusaha dan berjihad dengan dakwah ini, orang-orang yang
beriman tidaklah mengambil kira sama ada mereka disukai ataupun tidak. Yang
utama bagi mereka ialah Allah dan RasulNya lebih berhak disukakan (dicari
keredhaanNya) dari yang lain-lain. Inilah matlamat orang-orang beriman
satu-satunya.
Firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Allah dan RasulNya itu lebih berhak dan lebih utama mereka dapatkan keredhaannya, jika benar mereka orang-orang beriman.” (Surah Al-Taubah: 62)
Panduan Kepada Pendakwah
Apa yang disebutkan di atas ini merupakan cara-cara umum yang mesti ada kepada pendakwah-pendakwah. Yang lebih-lebih lagi penting dan mustahak, hendaklah mereka itu betul-betul meniru dan menyalin sifat-sifat dan kelakuan-kelakuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai yang ditegaskan oleh Al-Qur’an bahawa Baginda itu adalah Uswah Hasanah (contoh terbaik), di antaranya:
(i) Tauladan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang terunggul dan teratas sekali dalam beribadat.
Daripada sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu ‘anhu katanya: “ Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu bangun tidur pada malam hari lalu Baginda sembahyang tahajjud sehingga bengkak kedua tapak kaki Baginda. Manakala orang berkata: “Bukankah Tuan telah diampunkan segala dosa-dosa Tuan yang terdahulu dan akan datang?”
Baginda menjawab:
Maksudnya: “Tidakkah patut aku menjadi hamba yang sentiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah?” (Hadits riwayat Bukhari)
Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan daripada sahabat ‘Alqamah, katanya:
“Saya telah bertanya kepada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha: “Adakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu menentukan satu-satu ibadat pada siang dan malam?” (beribadat lebih pada setengah-setengah ketika). Sayyidatina ‘Aisyah menjawab: “Tidak, bahkan amal ibadat Rasulullah itu terus menerus tiada putus. Mana ada seorang kamu yang berupaya membuatnya seperti berupaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membuatnya.” (Shahih Muslim: Bab: Fadhilah Al-‘Amal Al-Da’im).
Banyak beribadat tidak menghalang kemajuan
Benar pun dalam riwayat di atas menegaskan betapa ibadat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu tidak mampu untuk diikut bulat-bulat oleh sesiapa pun, namun konsep mengikut Sunnah Rasul itu tetaplah digalakkan dan terus kekal. Sebab itulah ulama berkata: “Sila kamu (wahai pemuda dan pemudi) ambil tauladan dalam ibadat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (lihat fatwa bekas Mufti Kerajaan Brunei, Pehin Datu Seri Maharaja Dato Seri Utama Dr. Haji Ismail bin Omar Abdul Aziz Rahimahullah, bilangan (36) dlm. MKB/13/1967).
Banyak dan tekun beribadat itu adalah sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sifat sahabat-sahabat dan sifat orang-orang mukmin yang salih. Ia bukanlah sifat melampau.
Sifat melampau itu adalah sebaliknya iaitu mengabaikan ibadat kepada Allah, zalim kepada diri sendiri, derhaka dan menentang perintah-perintah Allah dan RasulNya. Inilah dia sifat melampau yang sebenar-benarnya.
Banyak dan tekun serta kuat beribadat itu tidaklah menghalang untuk maju. Cuba kita ingati, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah penghulu ibadat, raja ibadat yakni yang paling puncak dan teratas sekali dalam beribadat. Begitu juga sahabat-sahabat dan pengikut-pengikut yang datang kemudian. Dan kita telah pun membaca sejarah seorang khalifah Islam yang sangat kuat beribadat, yang zuhud dan adil, Khalifah ‘Umar bin Abdul Aziz. Di dalam masa Baginda itu memerintah, negeri menjadi makmur, aman dan sejahtera, sehingga kerana kemakmuran melimpah-limpah itu, sampai untuk mencari fakir miskin yang hendak diberikan zakat pun adalah susah.
Keadaan inilah, lebih-lebih lagi terakam di dalam peri hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam pada Baginda itu tekun dan menyeluruh dalam ibadat, pada ketika yang sama, Baginda juga menjalankan kerja-kerja dan tugas-tugas dunia, kerja-kerja dakwah, kerja-kerja jihad. Baginda mengatur tentera, mengarah dan memerintahkannya mara berjuang melawan musuh. Baginda juga mengirim utusan-utusan kepada pemuka-pemuka pada zaman itu untuk mengajak mereka supaya menerima Islam. Baginda memilih dan mengirim pegawai-pegawai untuk memungut zakat, fai’ dan jizyah dan membahagi-bahagikan harta-harta tersebut. Baginda juga selaku mursyid menerangkan hukum-hukum Allah kepada manusia, menghuraikan tujuan-tujuan ayat yang ringkas dan sulit. Baginda juga adalah hakim dan imam sembahyang.
Dari contoh-contoh ini nyatalah, bahawa bukanlah kerana banyak beribadat, seperti banyak ke masjid, banyak sembahyang dan banyak berzikir dan lain-lain itu yang membawa jumud dan mundur serta miskin.
Kita turut tumpang hairan, bahawa masa-masa yang digunakan untuk beribadat, berdakwah, berzikir dan lain-lain amal salih itu sering sahaja kita ungkit-ungkit, kita hitung-hitung dan kira dengan amat cermat dan cerewet sekali. Tetapi waktu-waktu yang terbuang begitu sahaja, tidak pula kita suka mengungkit dan apatah lagi menyesalinya.
Umpamanya berapa banyak sudah masa kita kerana makan angin, melancong, berpelesiran, bersukan sampai dua tiga macam jenis sukan (kadang-kadang terjejas waktu sembahyang), menonton televisyen sampai berjam-jam setiap hari dan lain-lain lagi. Ini semua jarang kita timbulkan dan perinci. Padahal ruginya bukan kepalang, bukan rugi masa semata-mata, bahkan muflis pahala.
Maha Benar Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berfirman:
Tafsirnya: “Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani. Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar.” (Surah Al-‘Ashr)
Apa yang dimaksudkan dengan kerugian di sini ialah dari segi penggunaan masa itu, padahal ia berlalu bersama umur kita. Semua manusia di dalam kerugian bila ia digunakan di jalan yang sia-sia, sekalipun perkara yang harus, masih juga tetap rugi kerana tidak dapat menjadi bekal di akhirat, apatah lagi terang-terang maksiat kecuali akan terlepas daripada kerugian itu ialah mereka yang benar-benar beriman dan beramal salih, iaitu mereka yang diistilahkan oleh Al-Baidhawi sebagai orang-orang yang membeli akhirat dengan dunia.
Mereka itulah orang-orang yang akan beruntung dan berjaya mencapai kehidupan kekal abadi dan bahagia. Mereka berpesan-pesan mengingatkan dengan tutur kata dan perbuatan yang benar serta bersabar menahan diri daripada maksiat. Inilah panduan dan cara menggunakan masa supaya tidak rugi itu.
(ii) Tauladan dari zuhud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
Berkata sahabat, Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan: “Tidur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas tikar, kemudian Baginda bangun daripada tidurnya itu dan (telah nampak bagi kami) berbekas di sebelah badan Rasulullah. Maka kami pun berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kami jadikan satu alas atau bantal yang lembut di antara Tuan dengan tikar itu?”
Bersabda Rasulullah:
Maksudnya: “Saya tiada berhajat akan dunia. Tiadalah saya dengan dunia itu melainkan umpama orang belayar berteduh di bawah suatu pohon, kemudian dia bergerak meninggalkan pohon itu.” (Hadits riwayat Tirmidzi)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa:
Maksudnya: “Ya Allah, jadikanlah kehidupan keluarga Muhammad itu secukupnya dengan tiada lebih dari hajat.”
Itulah gambaran keadaan zuhud Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, setinggi-tinggi martabat zuhud, sebagai menyahut perintah Allah dalam Al-Qur’an, dan Al-Qur’an itu ialah akhlak Baginda.
Firman Allah:
Tafsirnya: “Janganlah kamu panjangkan pandangan kamu kepada dunia dan perhiasannya yang telah Kami berikan kepada orang-orang kafir berupa kesenangan dengannya, kerana Kami hendak mencuba mereka atau memberi azab kepada mereka di akhirat dan kesenangan itu, dan apa pun pemberian Tuhan kami di akhirat itu lebih baik dari dunia yang diberikan kepada mereka dan lebih kekal.” (Surah Thaha: 131)
Janganlah salah faham dengan zuhud Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai melarang dari kehidupan dunia dan dari rezeki-rezeki yang halal. Kerana Baginda juga bangun menegur sikap dan pendirian setengah sahabat yang mengharamkan atas diri mereka berkahwin, makan daging, tiada berbuka puasa dan mengambil apa-apa yang patut dari kehidupan dunia ini.
Dan kita jangan salah faham menyangka zuhud Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam itu membawa kepada papa dan sengsara. Sebenarnya, jika Baginda itu mahu mewah, nescaya datang dunia kepada Baginda. Tetapi Baginda ingin mendidik dan membawa umat Islam hidup sederhana dan berpada, kerana takut nanti umat Islam akan kecewa, lengah daripada berdakwah, daripada berjihad dan daripada beribadat. Kerana apabila lebih mewah dan lebih senang dan lebih kenyang itu boleh membawa lengah dan mundur dari bekerja menegakkan kalimah Allah, dan Baginda juga takut dengan sebab mewah hidup dunia ini akan membinasakan umat Islam sebagaimana perkara ini biasa berlaku kepada umat-umat yang terdahulu.
Cuba kita perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim ini, bahawa sahabat, Abu ‘Ubaidah Radhiallahu ‘anhu telah datang daripada wilayah Bahrain dengan membawa harta. Orang-orang Anshar pun keluar beramai-ramai untuk mengalu-alukan sahabat ini, iaitu waktunya selepas sembahyang Subuh. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun tersenyum melihat mereka, kemudian bersabda:
Maksudnya: “Saya fikir kamu telah dengar Abu ‘Ubaidah datang membawa sesuatu daripada Bahrain?” Sahabat-sahabat menjawab: “Benar, wahai Rasulullah.” Baginda seterusnya bersabda: “Maka bergembiralah kamu, dan bercita-citalah dengan apa yang kamu inginkan itu. Demi Allah, bukan papa yang saya takutkan atas kamu, tetapi yang saya takutkan ke atas kamu ialah dunia ini terbuka untuk kamu, sebagaimana dunia itu terbuka kepada umat-umat sebelum kamu. Maka kemudian kamu pun berlumba-lumba mencari kemewahan dunia, sebagaimana mereka berlumba merebutnya. Maka kamu pun binasalah sebagaimana mereka (umat-umat dahulu kala itu) binasa.”
(Kisah umat-umat ini tersebut dalam Al-Qur’an)
Suatu jawapan kepada musuh-musuh
Sikap zuhud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini juga sebenarnya menjadi jawapan kepada orang-orang yang sakit hati kepada Islam yang sentiasa mengintai-intai untuk melancarkan tohmah dan tuduhan kepada Nabi dan agama Islam dengan berbagai-bagai tohmah dan tuduhan. Mereka itu ialah orang-orang Munafiq, Nasrani dan yahudi dan Orientalis-orientalis. Dengan sifat zuhud Nabi itu menjelaskan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah orangnya yang tamakkan dunia, yang mengajak dan membawa manusia kepada Islam kerana hendakkan harta, untuk mengumpulkan harta, hendak bersenang-senang dan bermewah-mewah atas nama agama, tidak seperti perbuatan dan ajaran pemimpin-pemimpin ajaran-ajaran salah dan sesat dari dahulu sampai sekarang, yang mencari dan mengharapkan pengaruh serta harta atas nama agama. Tetapi Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah semata-mata bertujuan membawa dan menyampaikan risalah Allah dan ingin berjumpa dengan Allah dalam keadaan tiada membawa hart benda dunia, melainkan cukup Baginda itu makan, minum dan berpakaian menutup aurat, dan apa-apa yang tinggal di rumah menjadi sedekah.
Inilah juga sunnah nabi-nabi yang terdahulu.
Firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Wahai kaumku, aku tidak minta kepada kamu sebarang harta benda sebagai upah menjalankan dakwah. Aku tidaklah mengharapkan melainkan daripada Allah semata-mata.” (Surah Hud: 29)
Kerana itu tidak hairan ramai sahabat-sahabat yang kaya raya akhirnya memilih hidup miskin atau cukup-cukup, dan demikian juga orang-orang yang terkebelakang kemudian turut memasuki alam zuhud itu semata-mata didorong oleh keinginan mahu bertabarruk dengan sunnah atau perjalanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Perkara ini tidak akan pupus dan habis walaupun di tengah-tengah kempen keduniaan yang sehebat mana sekalipun, kerana sunnah dan millah nabi itu adalah cahaya yang sentiasa bersinar dan abadi yang tidak akan hapus dan padam, walau segiat dan sekuat mana pun usaha hendak memadamkannya.
Firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Mereka itu berusaha hendak memadamkan cahaya Allah (agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) dengan mulut-mulut mereka (dengan berbagai-bagai tohmah, propaganda dan kempen-kempen), sedang Allah tidak berkenan, tetapi sebaliknya akan tetap menyempurnakan cahayaNya itu, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya.” (Surah Al-Taubah: 32)
Mengambil daripada alasan ini, jika kita dapati dan lihat ada orang-orang perseorangan atau kumpulan yang suka memasuki kehidupan zuhud itu (zuhud yang ada persamaan dengan zuhud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat serta pengikut-pengikut yang datang kemudian), maka sayugialah jangan ganggu mereka itu, kerana mengganggu orang yang ingin berdamping dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah amat buruk akibatnya di sisi Allah Ta’ala.
(iii) Tauladan dari tawadhu’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
Bagi pendakwah-pendakwah dan belia-belia patutlah mencontohi tawadhu’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Walaupun Baginda itu Nabi dan Rasul yang utama, namun tawadhu’ Baginda tetap unggul. Apabila bertemu dengan para sahabat, Bagindalah yang mendahului memberi salam, dan apabila bercakap dengan mereka itu, Baginda akan mendengarnya dengan bersungguh-sungguh dengan tiada mengira sama ada muda atau tua. Apabila berjabat tangan, Baginda pula yang akhir menarik tangannya. Apabila Baginda ke pasar dan mengangkat barang-barang, Baginda akan mengangkatnya sendiri.
Baginda bersabda:
Maksudnya: “Saya lebih utama mengangkatnya sendiri (barang-barang itu).”
Baginda sekali-kali tidak membesarkan diri. Baginda juga menampal baju, membaiki selipar, menolong kerja rumah, sama-sama membuat masjid dan menggali parit pertahanan. Baginda bersifat lemah lembut, menyampaikan hajat orang dhaif dan fakir, dan makan bersama khadam.
Allah Ta’ala yang mengajar Baginda demikian itu, sebagaimana firmanNya:
Tafsirnya: “Rendahkanlah sayapmu (berlemah lembut dan merendah dirilah) kepada pengikut-pengikutmu dari kalangan orang-orang yang beriman.”
Sifat tawadhu’ merendah diri yang ada pada Rasulullah ini patut dan mustahak diikut oleh para pendakwah, pemimpin-pemimpin dan pegawai-pegawai, kerana dengan sifat-sifat begitu lebih membawa tunduk dan patuh serta setia, dan lebih cepat diterima oleh masyarakat yang didakwah atau dipimpin itu. Kerana itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berjaya, dan tidak ada seorang setelah beriman dan menjadi pengikut Baginda yang menentang balik atau derhaka, melainkan semuanya kekal patuh dan bertambah-tambah taat setia mereka itu kepada Baginda. Inilah hikmat dan rahsia sifat tawadhu’ itu yang menjadi pakaian nabi-nabi ‘Alaihimushshalatu wassalam serta pengikut-pengikut mereka.
Tidaklah seperti hari ini, kesetiaan orang terhadap pemimpin tidak tahan lama, kerana orang-orang apabila lama berkuasa dan menjadi pemimpin itu, semakin nipislah sifat tawadhu’ mereka, ini menjadikan orang benci dan timbulnya nafsu melawan terhadap mereka. Sebagai contohnya cuba kita lihat keadaan pemimpin-pemimpin dunia yang sering bertukar ganti, ada setengahnya itu yang dibunuh, atau diguling, atau dihalau, atau paling biasa ditentang dengan undi dan lain-lain lagi cara. Berbeza dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tiadalah terlintas bagi orang-orang yang beriman untuk melawan dan menentang Baginda. Demikian juga sahabat-sahabat yang datang kemudian yang mengikut jejak langkah Baginda, sama sahaja mendapat sokongan dan dokongan ikhlas daripada umat Islam, dan jika ada pun sahabat-sahabat yang syahid dibunuh, itu bukanlah atas nama penderhakaan dan penentangan daripada kalangan muslimin, tetapi dari musuh-musuh di luar Islam dan di luar iman terhadap Allah Ta’ala.
(iv) Tauladan dari sabar dan pemaaf Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
Tidak perlu bagi dibincang mengenai sifat sabar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia sudah jelas dan memadai bila menyebutnya secara umum sahaja, iaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu memang seteguh-teguh dan sesabar-sabar orang. Baginda sanggup bersabar dari segala tekanan dan ancaman musuh. Musuh-musuh itu tidak pernah berhenti dari mencari jalan atau membuat rancangan-rancangan jahat untuk menyakiti Baginda, bahkan untuk mengusir Baginda daripada Makkah, dan malahan kemuncak dari rancangan jahat mereka itu ialah hendak membunuh Baginda. Namun Baginda tetapi sabar dan tidak pernah mengubah sedikit pun pendirian Baginda untuk meninggikan Kalimah Allah.
Walaupun Baginda pernah disakiti dan dipakat-pakat untuk dibunuh, namun apabila Baginda dapat masuk ke Makkah dan menawan semula Makkah, sedang tokoh-tokoh musuh yang memusuhi Baginda kini sudah berada di bawah tangan Baginda, maka sekiranya Baginda mahu membalas dengan menimpakan sebarang pembalasan, perkara ini boleh sahaja dibuat. Tetapi Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah sekali-kali berpendirian begitu, sebaliknya Baginda tetap berbuat baik dan memaafkan mereka. Cubalah dibandingkan pula dengan pemerintah-pemerintah dalam dunia ini, mereka itu lebih cepat membalas dendam dan menganiaya musuh-musuh mereka apabila ada peluang. Tidak seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Baginda mengampunkan musuh-musuh Baginda dan menjamin keamanan mereka itu. Baginda bersabda kepada musuh-musuh yang ditawan:
Maksudnya: “Apa kamu fikir yang patut saya lakukan dengan kamu?”
Mereka menjawab:
Maksudnya: “Kebajikan. Kerana Tuan saudara kami yang baik, dan anak saudara lelaki kami yang baik.”
Sabda Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
Maksudnya: “Pergilah kamu semua, kamu bebas sekarang daripada tawanan.”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Baihaqi.
Muamalah dengan pengikut-pengikut
Cara bergaul atau muamalah Nabi kita Sayyidina Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sahabat-sahabat Baginda, itulah dia sebenar-benar cara dakwah dan pendidikan yang terbaik, yang patut ditiru dan diamalkan oleh kita sekarang. Baginda tidak pernah menjatuhkan air muka seseorang, walau ada kesalahan dan silap orang itu. Contohnya satu riwayat oleh Imam Muslim, bahawa sahabat, Mu’awiyah bin Al-Hakam Al-Sulami telah berkata: “Suatu hari ketika saya sembahyang bersama-sama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba seseorang telah bersin. Saya pun berkata kepadanya: “Yarhamukallah” sedang sahabat-sahabat lain memandang kepada saya.” Kata saya: “Mati ibuku! Mengapakah kamu menoleh kepada saya/” (Mendengar itu) mereka menepuk paha saya (dengan tujuan untuk mententeramkan saya). Manakala saya lihat mereka ini menyuruh saya diam, maka saya pun diam. Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selesai sembahyang, demi sesungguhnya belum pernah saya melihat seorang guru, baik sebelum mahu pun sesudah Rasulullah, yang lebih pandai mengajar, dan demi Allah, tiadalah Baginda itu menengking dan memukul saya, serta tiada juga memaki hamun. Hanya Baginda bersabda:
Maksudnya: “Bahawa ini sembahyang tiada harus padanya sesuatu dari kata-kata manusia. Hanyalah sembahyang itu tasbih, takbir dan membaca Al-Qur’an." (Hadits riwayat Muslim)
Lihatlah betapa cantiknya contoh ini, betapa itulah caranya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melayan dan bermuamalah dengan sahabat-sahabat Baginda.
Semua ini terbentuk dan terjadi dengan bimbingan dan ajaran Allah sendiri kepada Baginda.
Firman Allah:
Tafsirnya: “Maka dengan rahmat dan kasihan belas daripada Allah kepada engkau wahai Muhammad, engkau pun bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutmu), dan sekiranya engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka itu lari dan jauh daripadamu. Oleh itu maafkanlah mereka dan pohonlah ampun untuk mereka, dan juga bermesyuaratlah dengan mereka (dalam perkara urusan perang dan lain-lain). Kemudian apabila engkau telah berazam setelah mendapat fikiran daripada mereka, maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang bertawakkal kepadaNya.” (Surah Ali ‘Imran: 159)
(v) Tauladan dari sikap teguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
Seperti juga diterangkan awal-awal tadi bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat teruk menempuh berbagai kesulitan dan kesusahan dalam menjalankan tabligh dan dakwah, namun Baginda tiada sekali-kali undur dan tawar hati. Hanya Baginda itu berdoa memohonkan pertolongan, seperti satu contoh doa yang amat indah ini:
Maksudnya: “Ya Allah, aku mengadu lemah kekuatanku, kurang dayaku, hina aku di mata orang, wahai Tuhan Yang Maha Mengasihani lebih dari segala orang yang pengasihani. Engkau Tuhan orang-orang yang lemah, Engkaulah Tuhanku, kepada siapakah Tuhan hendak menyerahkan aku? Kepada orang yang jauh yang bencikan aku, atau kepada seteru yang menguasai perkaraku? Kiranya tidak ada murka kepadaku, maka aku tidaklah peduli, tetapi yang penting itu ialah redha dan ‘afiat Tuhan terhadapku adalah maha luas dan terbuka, aku berlindung dengan cahaya nurMu yang mulia, yang dengannya menerangi kegelapan, dan sempurna segala urusan dunia dan akhirat, (dan menjauhkan) dari turun murkaMu ke atasku, aku mohon redhaMu. Tiadalah aku berdaya menolak mudarat dan bencana, dan tiadalah aku kuasa mendatangkan kebajikan melainkan dengan limpah perkenan dan qudrah kuasaMu jua.”
(Al-Targhib wa Al-Tarhib li Al-Mundziri)
Dari isi doa itu teringat dan tergambarlah kita lebih jelas lagi betapa penderitaan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu bukan kepalang. Baginda pernah dilontar dengan batu dan dicurahkan tanah di atas kepala Baginda yang mulia. Bapa saudara Baginda, Abu Thalib hampir-hampir membiarkan Baginda dan menyuruh Baginda supaya berhenti daripada berdakwah menyiarkan Islam, kerana tidak sanggup melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diperlakukan begitu buruk dan ganas oleh kaumnya. Tetapi apa reaksi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Cuba kita perhatikan dengan hati nurani kita sabda Baginda ini:
Maksudnya: “Wahai bapa saudaraku demi Allah, kiranya mereka itu meletakkan matahari di sebelah kananku, dan bulan di sebelah kiriku supaya aku meninggalkan dakwah mengajak manusia kepada Islam, sehingga Allah memberi kemenangan kepada Islam itu, ataupun aku dibinasakan kerananya, nescaya tidaklah aku tinggalkan.”
Melihat azam dan sikap serta iman yang tidak boleh dipatah-patah itu, maka Abu Thalib pun berkata:
Ertinya: “Pergilah wahai anak saudaraku, dan katakan apa yang engkau suka, demi Allah aku tidak akan serah dan biarkan engkau sama sekali pada sesuatu yang membinasakan engkau.”
Baginda dengan tidak mencongak dan menghitung-hitung apa yang akan ditimpakan kepada Baginda, terus sahaja mara dan berjalan lurus melaksanakan perintah ini, firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan ke atasmu dari Tuhanmu (iaitu ajaran Islam), dan jika engkau tidak berbuat begitu, maka tidaklah engkau menyampaikan risalah ajaran Allah.”
(Surah Al-Ma’idah: 67)
Lepas di Makkah, Baginda berhijrah ke Madinah. Di sini juga bersambung terus siri penentangan dan serangan orang-orang kafir ke atas Nabi dan kaum muslimin. Serangan-serangan itu juga mempunyai tujuan yang sama untuk mematahkan perjuangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi Baginda tetap sabar menolakdan menangkis serangan-serangan itu, sehinggalah pada akhirnya Islam menang dan kerajaan Islam tertegak dengan berkat jihad pimpinan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak mengenal undur dan takut, tetapi penuh sabar, tawakkal dan iman kepada Allah.
Kesimpulan dan Rumusan
Demikianlah ringkasan beberapa tauladan dari kelakuan dan akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang merujuk kepada sifat-sifat zuhud, tawadhu’, sabar, berdakwah dan bertabligh, tawakkal, lemah-lembut dalam bermuamalah dan bergaul, berani dan lain-lain lagi yang tidak disebutkan.
Jika ada sesiapa dari orang Islam, sama ada perseorangan atau jemaah seperti Jemaah Tabligh yang ditanyakan ini umpamanya, yang ingin meniru dan mengikut atau bercita-cita dan berusaha ingin meniru dan mengikut akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang demikian itu, maka adalah dia terpuji dan afdhal, dan adakalanya wajib, kerana apa-apa jua yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah semuanya benar dan mulia, semuanya membawa untung dan pahala, tiada rugi dan tiada cela, dan tiada terbuang hampas di dunia dan di akhirat.
Saya telah sampai dan lihat halaman 153 hingga 156 LAPORAN PENYIASATAN SULIT KEGIATAN JEMAAH TABLIGH DI NEGARA BRUNEI DARUSSALAM, yang disediakan oleh Bahagian Penyiasatan dan Pendakwaan, Jabatan Hal Ehwal Syara’iah, Kementerian Hal Ehwal Ugama, Negara Brunei Darussalam.
Dalam pandangan/cadangan mereka itu, ada yang munasabah, seperti mendapatkan bimbingan dan garis panduan daripada Pusat Dakwah Islamiah, mendapatkan kebenaran bertulis daripada Majlis Ugama Islam. Dan mana-mana yang patut dibincang, dibincangkan pula dengan semangat bertolak ansur dan persaudaraan seugama, dan niat tolong menolong di jalan kebajikan dan taqwa. Kerana Allah sangat mendorong ke arah itu seperti firmanNya:
Tafsirnya: “Dan bertolong-tolonglah kamu membuat kebajikan dan taqwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kepada Allah, kerana sesungguhnya Allah itu amat berat seksaNya (bagi orang-orang yang melanggar perintahNya).” (Surah AL-Ma’idah: 2)
Wallahu’alam
Firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Allah dan RasulNya itu lebih berhak dan lebih utama mereka dapatkan keredhaannya, jika benar mereka orang-orang beriman.” (Surah Al-Taubah: 62)
Panduan Kepada Pendakwah
Apa yang disebutkan di atas ini merupakan cara-cara umum yang mesti ada kepada pendakwah-pendakwah. Yang lebih-lebih lagi penting dan mustahak, hendaklah mereka itu betul-betul meniru dan menyalin sifat-sifat dan kelakuan-kelakuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai yang ditegaskan oleh Al-Qur’an bahawa Baginda itu adalah Uswah Hasanah (contoh terbaik), di antaranya:
(i) Tauladan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang terunggul dan teratas sekali dalam beribadat.
Daripada sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu ‘anhu katanya: “ Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu bangun tidur pada malam hari lalu Baginda sembahyang tahajjud sehingga bengkak kedua tapak kaki Baginda. Manakala orang berkata: “Bukankah Tuan telah diampunkan segala dosa-dosa Tuan yang terdahulu dan akan datang?”
Baginda menjawab:
Maksudnya: “Tidakkah patut aku menjadi hamba yang sentiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah?” (Hadits riwayat Bukhari)
Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan daripada sahabat ‘Alqamah, katanya:
“Saya telah bertanya kepada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha: “Adakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu menentukan satu-satu ibadat pada siang dan malam?” (beribadat lebih pada setengah-setengah ketika). Sayyidatina ‘Aisyah menjawab: “Tidak, bahkan amal ibadat Rasulullah itu terus menerus tiada putus. Mana ada seorang kamu yang berupaya membuatnya seperti berupaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membuatnya.” (Shahih Muslim: Bab: Fadhilah Al-‘Amal Al-Da’im).
Banyak beribadat tidak menghalang kemajuan
Benar pun dalam riwayat di atas menegaskan betapa ibadat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu tidak mampu untuk diikut bulat-bulat oleh sesiapa pun, namun konsep mengikut Sunnah Rasul itu tetaplah digalakkan dan terus kekal. Sebab itulah ulama berkata: “Sila kamu (wahai pemuda dan pemudi) ambil tauladan dalam ibadat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (lihat fatwa bekas Mufti Kerajaan Brunei, Pehin Datu Seri Maharaja Dato Seri Utama Dr. Haji Ismail bin Omar Abdul Aziz Rahimahullah, bilangan (36) dlm. MKB/13/1967).
Banyak dan tekun beribadat itu adalah sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sifat sahabat-sahabat dan sifat orang-orang mukmin yang salih. Ia bukanlah sifat melampau.
Sifat melampau itu adalah sebaliknya iaitu mengabaikan ibadat kepada Allah, zalim kepada diri sendiri, derhaka dan menentang perintah-perintah Allah dan RasulNya. Inilah dia sifat melampau yang sebenar-benarnya.
Banyak dan tekun serta kuat beribadat itu tidaklah menghalang untuk maju. Cuba kita ingati, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah penghulu ibadat, raja ibadat yakni yang paling puncak dan teratas sekali dalam beribadat. Begitu juga sahabat-sahabat dan pengikut-pengikut yang datang kemudian. Dan kita telah pun membaca sejarah seorang khalifah Islam yang sangat kuat beribadat, yang zuhud dan adil, Khalifah ‘Umar bin Abdul Aziz. Di dalam masa Baginda itu memerintah, negeri menjadi makmur, aman dan sejahtera, sehingga kerana kemakmuran melimpah-limpah itu, sampai untuk mencari fakir miskin yang hendak diberikan zakat pun adalah susah.
Keadaan inilah, lebih-lebih lagi terakam di dalam peri hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam pada Baginda itu tekun dan menyeluruh dalam ibadat, pada ketika yang sama, Baginda juga menjalankan kerja-kerja dan tugas-tugas dunia, kerja-kerja dakwah, kerja-kerja jihad. Baginda mengatur tentera, mengarah dan memerintahkannya mara berjuang melawan musuh. Baginda juga mengirim utusan-utusan kepada pemuka-pemuka pada zaman itu untuk mengajak mereka supaya menerima Islam. Baginda memilih dan mengirim pegawai-pegawai untuk memungut zakat, fai’ dan jizyah dan membahagi-bahagikan harta-harta tersebut. Baginda juga selaku mursyid menerangkan hukum-hukum Allah kepada manusia, menghuraikan tujuan-tujuan ayat yang ringkas dan sulit. Baginda juga adalah hakim dan imam sembahyang.
Dari contoh-contoh ini nyatalah, bahawa bukanlah kerana banyak beribadat, seperti banyak ke masjid, banyak sembahyang dan banyak berzikir dan lain-lain itu yang membawa jumud dan mundur serta miskin.
Kita turut tumpang hairan, bahawa masa-masa yang digunakan untuk beribadat, berdakwah, berzikir dan lain-lain amal salih itu sering sahaja kita ungkit-ungkit, kita hitung-hitung dan kira dengan amat cermat dan cerewet sekali. Tetapi waktu-waktu yang terbuang begitu sahaja, tidak pula kita suka mengungkit dan apatah lagi menyesalinya.
Umpamanya berapa banyak sudah masa kita kerana makan angin, melancong, berpelesiran, bersukan sampai dua tiga macam jenis sukan (kadang-kadang terjejas waktu sembahyang), menonton televisyen sampai berjam-jam setiap hari dan lain-lain lagi. Ini semua jarang kita timbulkan dan perinci. Padahal ruginya bukan kepalang, bukan rugi masa semata-mata, bahkan muflis pahala.
Maha Benar Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berfirman:
Tafsirnya: “Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani. Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar.” (Surah Al-‘Ashr)
Apa yang dimaksudkan dengan kerugian di sini ialah dari segi penggunaan masa itu, padahal ia berlalu bersama umur kita. Semua manusia di dalam kerugian bila ia digunakan di jalan yang sia-sia, sekalipun perkara yang harus, masih juga tetap rugi kerana tidak dapat menjadi bekal di akhirat, apatah lagi terang-terang maksiat kecuali akan terlepas daripada kerugian itu ialah mereka yang benar-benar beriman dan beramal salih, iaitu mereka yang diistilahkan oleh Al-Baidhawi sebagai orang-orang yang membeli akhirat dengan dunia.
Mereka itulah orang-orang yang akan beruntung dan berjaya mencapai kehidupan kekal abadi dan bahagia. Mereka berpesan-pesan mengingatkan dengan tutur kata dan perbuatan yang benar serta bersabar menahan diri daripada maksiat. Inilah panduan dan cara menggunakan masa supaya tidak rugi itu.
(ii) Tauladan dari zuhud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
Berkata sahabat, Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan: “Tidur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas tikar, kemudian Baginda bangun daripada tidurnya itu dan (telah nampak bagi kami) berbekas di sebelah badan Rasulullah. Maka kami pun berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kami jadikan satu alas atau bantal yang lembut di antara Tuan dengan tikar itu?”
Bersabda Rasulullah:
Maksudnya: “Saya tiada berhajat akan dunia. Tiadalah saya dengan dunia itu melainkan umpama orang belayar berteduh di bawah suatu pohon, kemudian dia bergerak meninggalkan pohon itu.” (Hadits riwayat Tirmidzi)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa:
Maksudnya: “Ya Allah, jadikanlah kehidupan keluarga Muhammad itu secukupnya dengan tiada lebih dari hajat.”
Itulah gambaran keadaan zuhud Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, setinggi-tinggi martabat zuhud, sebagai menyahut perintah Allah dalam Al-Qur’an, dan Al-Qur’an itu ialah akhlak Baginda.
Firman Allah:
Tafsirnya: “Janganlah kamu panjangkan pandangan kamu kepada dunia dan perhiasannya yang telah Kami berikan kepada orang-orang kafir berupa kesenangan dengannya, kerana Kami hendak mencuba mereka atau memberi azab kepada mereka di akhirat dan kesenangan itu, dan apa pun pemberian Tuhan kami di akhirat itu lebih baik dari dunia yang diberikan kepada mereka dan lebih kekal.” (Surah Thaha: 131)
Janganlah salah faham dengan zuhud Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai melarang dari kehidupan dunia dan dari rezeki-rezeki yang halal. Kerana Baginda juga bangun menegur sikap dan pendirian setengah sahabat yang mengharamkan atas diri mereka berkahwin, makan daging, tiada berbuka puasa dan mengambil apa-apa yang patut dari kehidupan dunia ini.
Dan kita jangan salah faham menyangka zuhud Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam itu membawa kepada papa dan sengsara. Sebenarnya, jika Baginda itu mahu mewah, nescaya datang dunia kepada Baginda. Tetapi Baginda ingin mendidik dan membawa umat Islam hidup sederhana dan berpada, kerana takut nanti umat Islam akan kecewa, lengah daripada berdakwah, daripada berjihad dan daripada beribadat. Kerana apabila lebih mewah dan lebih senang dan lebih kenyang itu boleh membawa lengah dan mundur dari bekerja menegakkan kalimah Allah, dan Baginda juga takut dengan sebab mewah hidup dunia ini akan membinasakan umat Islam sebagaimana perkara ini biasa berlaku kepada umat-umat yang terdahulu.
Cuba kita perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim ini, bahawa sahabat, Abu ‘Ubaidah Radhiallahu ‘anhu telah datang daripada wilayah Bahrain dengan membawa harta. Orang-orang Anshar pun keluar beramai-ramai untuk mengalu-alukan sahabat ini, iaitu waktunya selepas sembahyang Subuh. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun tersenyum melihat mereka, kemudian bersabda:
Maksudnya: “Saya fikir kamu telah dengar Abu ‘Ubaidah datang membawa sesuatu daripada Bahrain?” Sahabat-sahabat menjawab: “Benar, wahai Rasulullah.” Baginda seterusnya bersabda: “Maka bergembiralah kamu, dan bercita-citalah dengan apa yang kamu inginkan itu. Demi Allah, bukan papa yang saya takutkan atas kamu, tetapi yang saya takutkan ke atas kamu ialah dunia ini terbuka untuk kamu, sebagaimana dunia itu terbuka kepada umat-umat sebelum kamu. Maka kemudian kamu pun berlumba-lumba mencari kemewahan dunia, sebagaimana mereka berlumba merebutnya. Maka kamu pun binasalah sebagaimana mereka (umat-umat dahulu kala itu) binasa.”
(Kisah umat-umat ini tersebut dalam Al-Qur’an)
Suatu jawapan kepada musuh-musuh
Sikap zuhud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini juga sebenarnya menjadi jawapan kepada orang-orang yang sakit hati kepada Islam yang sentiasa mengintai-intai untuk melancarkan tohmah dan tuduhan kepada Nabi dan agama Islam dengan berbagai-bagai tohmah dan tuduhan. Mereka itu ialah orang-orang Munafiq, Nasrani dan yahudi dan Orientalis-orientalis. Dengan sifat zuhud Nabi itu menjelaskan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah orangnya yang tamakkan dunia, yang mengajak dan membawa manusia kepada Islam kerana hendakkan harta, untuk mengumpulkan harta, hendak bersenang-senang dan bermewah-mewah atas nama agama, tidak seperti perbuatan dan ajaran pemimpin-pemimpin ajaran-ajaran salah dan sesat dari dahulu sampai sekarang, yang mencari dan mengharapkan pengaruh serta harta atas nama agama. Tetapi Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah semata-mata bertujuan membawa dan menyampaikan risalah Allah dan ingin berjumpa dengan Allah dalam keadaan tiada membawa hart benda dunia, melainkan cukup Baginda itu makan, minum dan berpakaian menutup aurat, dan apa-apa yang tinggal di rumah menjadi sedekah.
Inilah juga sunnah nabi-nabi yang terdahulu.
Firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Wahai kaumku, aku tidak minta kepada kamu sebarang harta benda sebagai upah menjalankan dakwah. Aku tidaklah mengharapkan melainkan daripada Allah semata-mata.” (Surah Hud: 29)
Kerana itu tidak hairan ramai sahabat-sahabat yang kaya raya akhirnya memilih hidup miskin atau cukup-cukup, dan demikian juga orang-orang yang terkebelakang kemudian turut memasuki alam zuhud itu semata-mata didorong oleh keinginan mahu bertabarruk dengan sunnah atau perjalanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Perkara ini tidak akan pupus dan habis walaupun di tengah-tengah kempen keduniaan yang sehebat mana sekalipun, kerana sunnah dan millah nabi itu adalah cahaya yang sentiasa bersinar dan abadi yang tidak akan hapus dan padam, walau segiat dan sekuat mana pun usaha hendak memadamkannya.
Firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Mereka itu berusaha hendak memadamkan cahaya Allah (agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) dengan mulut-mulut mereka (dengan berbagai-bagai tohmah, propaganda dan kempen-kempen), sedang Allah tidak berkenan, tetapi sebaliknya akan tetap menyempurnakan cahayaNya itu, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya.” (Surah Al-Taubah: 32)
Mengambil daripada alasan ini, jika kita dapati dan lihat ada orang-orang perseorangan atau kumpulan yang suka memasuki kehidupan zuhud itu (zuhud yang ada persamaan dengan zuhud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat serta pengikut-pengikut yang datang kemudian), maka sayugialah jangan ganggu mereka itu, kerana mengganggu orang yang ingin berdamping dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah amat buruk akibatnya di sisi Allah Ta’ala.
(iii) Tauladan dari tawadhu’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
Bagi pendakwah-pendakwah dan belia-belia patutlah mencontohi tawadhu’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Walaupun Baginda itu Nabi dan Rasul yang utama, namun tawadhu’ Baginda tetap unggul. Apabila bertemu dengan para sahabat, Bagindalah yang mendahului memberi salam, dan apabila bercakap dengan mereka itu, Baginda akan mendengarnya dengan bersungguh-sungguh dengan tiada mengira sama ada muda atau tua. Apabila berjabat tangan, Baginda pula yang akhir menarik tangannya. Apabila Baginda ke pasar dan mengangkat barang-barang, Baginda akan mengangkatnya sendiri.
Baginda bersabda:
Maksudnya: “Saya lebih utama mengangkatnya sendiri (barang-barang itu).”
Baginda sekali-kali tidak membesarkan diri. Baginda juga menampal baju, membaiki selipar, menolong kerja rumah, sama-sama membuat masjid dan menggali parit pertahanan. Baginda bersifat lemah lembut, menyampaikan hajat orang dhaif dan fakir, dan makan bersama khadam.
Allah Ta’ala yang mengajar Baginda demikian itu, sebagaimana firmanNya:
Tafsirnya: “Rendahkanlah sayapmu (berlemah lembut dan merendah dirilah) kepada pengikut-pengikutmu dari kalangan orang-orang yang beriman.”
Sifat tawadhu’ merendah diri yang ada pada Rasulullah ini patut dan mustahak diikut oleh para pendakwah, pemimpin-pemimpin dan pegawai-pegawai, kerana dengan sifat-sifat begitu lebih membawa tunduk dan patuh serta setia, dan lebih cepat diterima oleh masyarakat yang didakwah atau dipimpin itu. Kerana itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berjaya, dan tidak ada seorang setelah beriman dan menjadi pengikut Baginda yang menentang balik atau derhaka, melainkan semuanya kekal patuh dan bertambah-tambah taat setia mereka itu kepada Baginda. Inilah hikmat dan rahsia sifat tawadhu’ itu yang menjadi pakaian nabi-nabi ‘Alaihimushshalatu wassalam serta pengikut-pengikut mereka.
Tidaklah seperti hari ini, kesetiaan orang terhadap pemimpin tidak tahan lama, kerana orang-orang apabila lama berkuasa dan menjadi pemimpin itu, semakin nipislah sifat tawadhu’ mereka, ini menjadikan orang benci dan timbulnya nafsu melawan terhadap mereka. Sebagai contohnya cuba kita lihat keadaan pemimpin-pemimpin dunia yang sering bertukar ganti, ada setengahnya itu yang dibunuh, atau diguling, atau dihalau, atau paling biasa ditentang dengan undi dan lain-lain lagi cara. Berbeza dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tiadalah terlintas bagi orang-orang yang beriman untuk melawan dan menentang Baginda. Demikian juga sahabat-sahabat yang datang kemudian yang mengikut jejak langkah Baginda, sama sahaja mendapat sokongan dan dokongan ikhlas daripada umat Islam, dan jika ada pun sahabat-sahabat yang syahid dibunuh, itu bukanlah atas nama penderhakaan dan penentangan daripada kalangan muslimin, tetapi dari musuh-musuh di luar Islam dan di luar iman terhadap Allah Ta’ala.
(iv) Tauladan dari sabar dan pemaaf Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
Tidak perlu bagi dibincang mengenai sifat sabar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia sudah jelas dan memadai bila menyebutnya secara umum sahaja, iaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu memang seteguh-teguh dan sesabar-sabar orang. Baginda sanggup bersabar dari segala tekanan dan ancaman musuh. Musuh-musuh itu tidak pernah berhenti dari mencari jalan atau membuat rancangan-rancangan jahat untuk menyakiti Baginda, bahkan untuk mengusir Baginda daripada Makkah, dan malahan kemuncak dari rancangan jahat mereka itu ialah hendak membunuh Baginda. Namun Baginda tetapi sabar dan tidak pernah mengubah sedikit pun pendirian Baginda untuk meninggikan Kalimah Allah.
Walaupun Baginda pernah disakiti dan dipakat-pakat untuk dibunuh, namun apabila Baginda dapat masuk ke Makkah dan menawan semula Makkah, sedang tokoh-tokoh musuh yang memusuhi Baginda kini sudah berada di bawah tangan Baginda, maka sekiranya Baginda mahu membalas dengan menimpakan sebarang pembalasan, perkara ini boleh sahaja dibuat. Tetapi Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah sekali-kali berpendirian begitu, sebaliknya Baginda tetap berbuat baik dan memaafkan mereka. Cubalah dibandingkan pula dengan pemerintah-pemerintah dalam dunia ini, mereka itu lebih cepat membalas dendam dan menganiaya musuh-musuh mereka apabila ada peluang. Tidak seperti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Baginda mengampunkan musuh-musuh Baginda dan menjamin keamanan mereka itu. Baginda bersabda kepada musuh-musuh yang ditawan:
Maksudnya: “Apa kamu fikir yang patut saya lakukan dengan kamu?”
Mereka menjawab:
Maksudnya: “Kebajikan. Kerana Tuan saudara kami yang baik, dan anak saudara lelaki kami yang baik.”
Sabda Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
Maksudnya: “Pergilah kamu semua, kamu bebas sekarang daripada tawanan.”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Baihaqi.
Muamalah dengan pengikut-pengikut
Cara bergaul atau muamalah Nabi kita Sayyidina Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sahabat-sahabat Baginda, itulah dia sebenar-benar cara dakwah dan pendidikan yang terbaik, yang patut ditiru dan diamalkan oleh kita sekarang. Baginda tidak pernah menjatuhkan air muka seseorang, walau ada kesalahan dan silap orang itu. Contohnya satu riwayat oleh Imam Muslim, bahawa sahabat, Mu’awiyah bin Al-Hakam Al-Sulami telah berkata: “Suatu hari ketika saya sembahyang bersama-sama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba seseorang telah bersin. Saya pun berkata kepadanya: “Yarhamukallah” sedang sahabat-sahabat lain memandang kepada saya.” Kata saya: “Mati ibuku! Mengapakah kamu menoleh kepada saya/” (Mendengar itu) mereka menepuk paha saya (dengan tujuan untuk mententeramkan saya). Manakala saya lihat mereka ini menyuruh saya diam, maka saya pun diam. Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selesai sembahyang, demi sesungguhnya belum pernah saya melihat seorang guru, baik sebelum mahu pun sesudah Rasulullah, yang lebih pandai mengajar, dan demi Allah, tiadalah Baginda itu menengking dan memukul saya, serta tiada juga memaki hamun. Hanya Baginda bersabda:
Maksudnya: “Bahawa ini sembahyang tiada harus padanya sesuatu dari kata-kata manusia. Hanyalah sembahyang itu tasbih, takbir dan membaca Al-Qur’an." (Hadits riwayat Muslim)
Lihatlah betapa cantiknya contoh ini, betapa itulah caranya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melayan dan bermuamalah dengan sahabat-sahabat Baginda.
Semua ini terbentuk dan terjadi dengan bimbingan dan ajaran Allah sendiri kepada Baginda.
Firman Allah:
Tafsirnya: “Maka dengan rahmat dan kasihan belas daripada Allah kepada engkau wahai Muhammad, engkau pun bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutmu), dan sekiranya engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka itu lari dan jauh daripadamu. Oleh itu maafkanlah mereka dan pohonlah ampun untuk mereka, dan juga bermesyuaratlah dengan mereka (dalam perkara urusan perang dan lain-lain). Kemudian apabila engkau telah berazam setelah mendapat fikiran daripada mereka, maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang bertawakkal kepadaNya.” (Surah Ali ‘Imran: 159)
(v) Tauladan dari sikap teguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
Seperti juga diterangkan awal-awal tadi bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat teruk menempuh berbagai kesulitan dan kesusahan dalam menjalankan tabligh dan dakwah, namun Baginda tiada sekali-kali undur dan tawar hati. Hanya Baginda itu berdoa memohonkan pertolongan, seperti satu contoh doa yang amat indah ini:
Maksudnya: “Ya Allah, aku mengadu lemah kekuatanku, kurang dayaku, hina aku di mata orang, wahai Tuhan Yang Maha Mengasihani lebih dari segala orang yang pengasihani. Engkau Tuhan orang-orang yang lemah, Engkaulah Tuhanku, kepada siapakah Tuhan hendak menyerahkan aku? Kepada orang yang jauh yang bencikan aku, atau kepada seteru yang menguasai perkaraku? Kiranya tidak ada murka kepadaku, maka aku tidaklah peduli, tetapi yang penting itu ialah redha dan ‘afiat Tuhan terhadapku adalah maha luas dan terbuka, aku berlindung dengan cahaya nurMu yang mulia, yang dengannya menerangi kegelapan, dan sempurna segala urusan dunia dan akhirat, (dan menjauhkan) dari turun murkaMu ke atasku, aku mohon redhaMu. Tiadalah aku berdaya menolak mudarat dan bencana, dan tiadalah aku kuasa mendatangkan kebajikan melainkan dengan limpah perkenan dan qudrah kuasaMu jua.”
(Al-Targhib wa Al-Tarhib li Al-Mundziri)
Dari isi doa itu teringat dan tergambarlah kita lebih jelas lagi betapa penderitaan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu bukan kepalang. Baginda pernah dilontar dengan batu dan dicurahkan tanah di atas kepala Baginda yang mulia. Bapa saudara Baginda, Abu Thalib hampir-hampir membiarkan Baginda dan menyuruh Baginda supaya berhenti daripada berdakwah menyiarkan Islam, kerana tidak sanggup melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diperlakukan begitu buruk dan ganas oleh kaumnya. Tetapi apa reaksi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Cuba kita perhatikan dengan hati nurani kita sabda Baginda ini:
Maksudnya: “Wahai bapa saudaraku demi Allah, kiranya mereka itu meletakkan matahari di sebelah kananku, dan bulan di sebelah kiriku supaya aku meninggalkan dakwah mengajak manusia kepada Islam, sehingga Allah memberi kemenangan kepada Islam itu, ataupun aku dibinasakan kerananya, nescaya tidaklah aku tinggalkan.”
Melihat azam dan sikap serta iman yang tidak boleh dipatah-patah itu, maka Abu Thalib pun berkata:
Ertinya: “Pergilah wahai anak saudaraku, dan katakan apa yang engkau suka, demi Allah aku tidak akan serah dan biarkan engkau sama sekali pada sesuatu yang membinasakan engkau.”
Baginda dengan tidak mencongak dan menghitung-hitung apa yang akan ditimpakan kepada Baginda, terus sahaja mara dan berjalan lurus melaksanakan perintah ini, firman Allah Ta’ala:
Tafsirnya: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan ke atasmu dari Tuhanmu (iaitu ajaran Islam), dan jika engkau tidak berbuat begitu, maka tidaklah engkau menyampaikan risalah ajaran Allah.”
(Surah Al-Ma’idah: 67)
Lepas di Makkah, Baginda berhijrah ke Madinah. Di sini juga bersambung terus siri penentangan dan serangan orang-orang kafir ke atas Nabi dan kaum muslimin. Serangan-serangan itu juga mempunyai tujuan yang sama untuk mematahkan perjuangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi Baginda tetap sabar menolakdan menangkis serangan-serangan itu, sehinggalah pada akhirnya Islam menang dan kerajaan Islam tertegak dengan berkat jihad pimpinan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak mengenal undur dan takut, tetapi penuh sabar, tawakkal dan iman kepada Allah.
Kesimpulan dan Rumusan
Demikianlah ringkasan beberapa tauladan dari kelakuan dan akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang merujuk kepada sifat-sifat zuhud, tawadhu’, sabar, berdakwah dan bertabligh, tawakkal, lemah-lembut dalam bermuamalah dan bergaul, berani dan lain-lain lagi yang tidak disebutkan.
Jika ada sesiapa dari orang Islam, sama ada perseorangan atau jemaah seperti Jemaah Tabligh yang ditanyakan ini umpamanya, yang ingin meniru dan mengikut atau bercita-cita dan berusaha ingin meniru dan mengikut akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang demikian itu, maka adalah dia terpuji dan afdhal, dan adakalanya wajib, kerana apa-apa jua yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam itu adalah semuanya benar dan mulia, semuanya membawa untung dan pahala, tiada rugi dan tiada cela, dan tiada terbuang hampas di dunia dan di akhirat.
Saya telah sampai dan lihat halaman 153 hingga 156 LAPORAN PENYIASATAN SULIT KEGIATAN JEMAAH TABLIGH DI NEGARA BRUNEI DARUSSALAM, yang disediakan oleh Bahagian Penyiasatan dan Pendakwaan, Jabatan Hal Ehwal Syara’iah, Kementerian Hal Ehwal Ugama, Negara Brunei Darussalam.
Dalam pandangan/cadangan mereka itu, ada yang munasabah, seperti mendapatkan bimbingan dan garis panduan daripada Pusat Dakwah Islamiah, mendapatkan kebenaran bertulis daripada Majlis Ugama Islam. Dan mana-mana yang patut dibincang, dibincangkan pula dengan semangat bertolak ansur dan persaudaraan seugama, dan niat tolong menolong di jalan kebajikan dan taqwa. Kerana Allah sangat mendorong ke arah itu seperti firmanNya:
Tafsirnya: “Dan bertolong-tolonglah kamu membuat kebajikan dan taqwa, dan janganlah kamu bertolong-tolongan pada melakukan dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kepada Allah, kerana sesungguhnya Allah itu amat berat seksaNya (bagi orang-orang yang melanggar perintahNya).” (Surah AL-Ma’idah: 2)
Wallahu’alam
12. Fatwa JAKIM, Malaysia
ISU:
Mohon penjelasan kedudukan jemaah tabligh menurut Ahli Sunnah Wal Jamaah.
PENJELASAN:
Jamaah Tabligh ditubuhkan oleh Mawlana Ilyas al-Kandahlawi di India pada 1926. Beliau menuruti Tarikat Chistiyyah. Walaupun bermula di India pengaruh gerakan ini tersebar luas ke seluruh dunia khususnya di kawasan Asia Selatan. Gerakan ini dinamakan Jamaah Tabligh atas sebab pendekatan mereka yang selalu keluar bagi menyampaikan dakwah kepada masyarakat di tempat lain. Mawlana Ilyas sendiri walau bagaimanapun menamakan gerakan yang beliau pelopori sebagai gerakan iman (harakah al-iman)
Dari segi kaedah, jamaah tabligh membawa pendekatan pembersihan jiwa (tazkiyah ruhiyyah). Mereka mengajak ke arah memperkuatkan iman dan mengamalkan amalan-amalan sunat .
Dari segi fiqh, jamaah tabligh tidak terikat dengan satu-satu mazhab fiqh Sunni dan memberikan kebebasan kepada pengikut untuk mengikut mana-mana mazhab.
Mereka berpegang dengan enam prinsip utama:
1. Yakin terhadap kalimah tayyibah (la ilaha illallah Muhammad Rasulullah)
2. Solat khusyu' dan khudu' (ketundukan)
3. Ilmu dan zikir
4. Ikram muslimin (Memuliakan muslim yang lain dengan khidmat)
5. Tashih al-niyyah (membetulkan dan mengikhlaskan niat)
6. Dakwah dan tabligh (dengan cara keluar berdakwah[khuruj] dalam tempoh-tempoh tertentu seperti tiga atau empat puluh hari atau empat bulan.
Berdasarkan keenam-enam prinsip ini, kesemuanya pada asasnya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam yang dipegang oleh Ahli Sunnah Wal Jamaah. Cuma penekanan yang diberikan oleh jamaah tabligh adalah lebih kepada aspek kerohanian dan kurang memberi penekanan kepada aspek lain. Adapun perbezaan pendekatan yang dibawa oleh jemaah tabligh seperti keluar dalam jumlah hari-hari tertentu termasuk dalam konteks ijtihadi.
Wallahu a'lam.
13. Keputusan Majelis Fatwa
Negeri Sabah
Jamaah Tabligh di Negeri Sabah
1. Ahli Majelis Fatwa telah membincangkan perkara tersebut pada
Muzakarah Fatwa Negeri Sabah bil 1/2004 pada 19 – 20 Januari 2004 M
Muzakarah Fatwa Negeri Sabah bil 3/2004 pada 6 – 8 Oktober 2004 M dan
Muzakarah Majelis Fatwa Negeri Sabah bil 1/2005 pada 12 – 14 September 2005 M
Dan memutuskan bahawa ;
a. Ajaran Jamaah Tabligh ini didapati tidak bercanggah dengan Akidah
Ahli Sunnah Wal Jamaah
b. Jamaah ini tidak dikategorikan sebagai ajaran sesat
Pendapat Alim Ulama Tentang Jamaah Tabligh
a. Pendapat Syaikh Asyraf Ali Thanwi
Ketika Syaikh Muhammad Ilyas berusaha menerangkan tentang usaha Dakwah dan Tabligh ini kepada beliau, beliau berkata, “Sungguh masalah ini sudah sangat jelas. Tidak perlu dalil-dalil lagi. Pengaruh dan hasil usaha ini telah begitu jelas. Dikemukakan dalil hanyalah untuk memperjelas kebenaran. Namun saya telah berpuas hati ketika menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, sehingga saya tidak memerlukan penjelasan atau dalil-dalil lagi. Bahkan usaha Anda telah merubah keputus-asaan saya menjadi harapan.”
b. Pendapat Mufti Muhammad Syafi’
Beliau berkata, “Sesungguhnya, gerakan yang telah dirintis oleh Syaikh Muhammad Ilyas ini telah memberikan sumbangan dan jasa yang besar bagi seluruh dunia. Oleh karena itu, kepada para ulama hendaknya mau mempelajari manhaj Syaikh Muhammad Ilyas dan membukukan sejarah gerakan imaniyah ini secara terperinci sehingga dapat diambil pelajaran oleh pihak-pihak yang ingin berusaha menjalankan dakwah, menyeru manusia kepada Allah swt, serta menjadi lampu penyuluh bagi generasi yang akan datang.”
Beliau berkata, “Sesungguhnya, gerakan yang telah dirintis oleh Syaikh Muhammad Ilyas ini telah memberikan sumbangan dan jasa yang besar bagi seluruh dunia. Oleh karena itu, kepada para ulama hendaknya mau mempelajari manhaj Syaikh Muhammad Ilyas dan membukukan sejarah gerakan imaniyah ini secara terperinci sehingga dapat diambil pelajaran oleh pihak-pihak yang ingin berusaha menjalankan dakwah, menyeru manusia kepada Allah swt, serta menjadi lampu penyuluh bagi generasi yang akan datang.”
c. Pendapat Syaikh Muhammad Manzhur Nu’mani
Beliau berkata, “Saya yakin bahwa usaha ini satu-satunya usaha yang dapat menghidupkan kembali ruh keimanan dengan sempurna dikalangan umat muslimin. Sesungguhnya kesimpulan ari hakekat usaha ini telah saya pelajari secara ilmiyah dengan matang. Saya tidak terpengaruh oleh pemikiran Syaikh Ilyas walaupun beliau sendiri sering menjelaskannya. Namun saya berusaha keras mempelajari dakwah ini melalui Alquran dan Assunah dan segala sesuatu yang diperlukan oleh umat dewasa ini. Dengan senantiasa mengaji dan menyertai perjalanan-perjalanan dakwah Syaikh ilyas, semakin kuatlah keyakinan saya, bahwa usaha dakwah dan tabligh ini yang seperti inilah yang sangat diperlukan oleh umat pada saat ini, dan cara seperti ini adalah suatu cara pembaharuan yang paling mudah dan menyeluruh.”
Beliau berkata, “Mursyid saya berkata kepada saya, “Alangkah baiknya
jika sekarang engkau berkenan meluangkan waktu bersama Syaikh ini (Syaikh
Ilyas). Sesungguhnya ini beliau sedang berjalan dengan kecepatan ribuan mil
perhari.” Sungguh selama ini saya tidak percaya dengan apa yang saya baca dalam
sejarah perjuangan dan pengorbanan para pemimpin Islam, para wali Allah dan
para shalihin dalam rangka menegakkan agama. Bahkan saya menganggap apa yang
saya baca itu sesuatu yang berlebih-lebihan. Hal tersebut telah menyebabkan
saya termasuk orang yang pada mulanya menentang usaha dakwah ini. Namun pada
akhir-akhir ini, setelah saya meluangkan waktu bersama Syaikh ilyas dan
menyaksikan sendiri pengorbanan, kerisauan, dan kasih sayang beliau dalam
menegakkan kalimatullah, terbukalah mata saya terhadap kebenaran hal-hal yang
saya baca dalam sejarah mengenai para pejuang yang gigih dan tangguh itu.”
d. Pendapat Syaikh Husain Ahmad Madani
Beliau paling bersemangat membela Jamaah Tabligh dari serangan
orang-orang yang anti Jamaah Tabligh dari kalangan kaum muslimin atau dari
luar. Beliau sangat yakin bahwa negara-negara Islam sangat memerlukan gerakan
dakwah seperti ini. Beliau berkata dalam ceramahnya, “Anda tidak mengetahui apa
yang sedang Anda lakukan. Sesungguhnya itulah tugas tetap Rasulullah saw.
Betapa banyak generasi yang lalu tidak menghiraukan perjuangan dan pengorbanan
ini, maka bersyukurlah Anda kepada Allah atas nikmat yang sangat besar ini.
Allah berfirman.
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.
“Mereka merasa telah memberimu nikmat dengan keIslaman mereka, katakanlah, Jangan kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keIslamanmu. Sesungguhnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukimu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.”
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.
“Mereka merasa telah memberimu nikmat dengan keIslaman mereka, katakanlah, Jangan kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keIslamanmu. Sesungguhnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukimu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.”
Menurut beliau, cara dakwah seperti inilah yang dahulu pernah dipakai
dalam menyebarkan Islam ke seluruh dunia.”
e. Pendapat Syaikh Mufti Mahmud Ahmad
Beliau berkata, “Gerakan dakwah Syaikh Muhammad Ilyas bukan merupakan pembaruan yang bersifat parsial dan terbatas, tetapi suatu pembaharuan dan penyelesaian yang menyeluruh. Gerakan tersebut merupakan gerakan pembangunan bagi seluruh manusia dan kehidupan agama secara sempurna. Ia adalah cara memasukkan hakikat agama ke dalam hati dan menyebarkan Islam ke seluruh dunia.”
f. Pendapat Allamah Mufti Azizurrahman
Syaikh Mufti Azizurrahman telah menulis sebuah buku tentang Syaikh
Muhammad yusuf Al-Khandahlawi. Diantara ungakapannya ia menulis, “Dengan penuh
keyakinan saya tegaskan bahwa usaha dakwah dengan cara inilah yang dapat
menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat. Usaha inilah satu-satunya cara untuk
mengembalikan kaum muslimin kepada Islam sebagaimana sediakala.”
g. Pendapat DR. Dzakir Husain
Beliau berkata, “Sungguh, saya melihat kerja jamaah dakwah dan tabligh
sangat sederhana. Namun saya menjumpai di dalam menyeru manusia untuk taat
kepada Allah.”
h. Pendapat Allamah Ubaidillah As-Sindhi
Syaikh Muhammad Ilyas berkata, “Dulu Syaikh Ubaidillah As-Sindhi
berkata, “Gerakan ini telah dimulai pada waktu yang tidak tepat dan mustahil
akan berhasil kecuali jika pemerintahan di negri ini telah berubah, yaitu jika
India telah merdeka dari penjajahan Inggris. Namun kini Syaikh Ubaidillah
berkata, “Saya telah berkunjung ke berbagai negara di dunia. Saya sangat berputus
asa melihat negara-negara yang saya kunjungi. Namun, kini saya telah melihat
adanya secercah harapan. Sungguh saya akan belajar dari gerakan dakwah ini.
Saya akan mengunjungi Mewat untuk melihat para pejuang yang bergerak
menjalankan dakwah dan pembaharuan mengikuti dakwah Syaikh Muhammad Ilyas.”
i. Pendapat Syaikh Athaillah Syah Al-Bukhori
Beliau pernah datang ke Markas Nizhamuddin, untuk melihat langsung usaha
ini. Beliau berkata, “Saya percaya bahwa Syaikh Nizhamuddin yang dijuluki
Auliya telah wafat. Namun, saya melihat bahwa beliau masih hidup dan diberi
rezeki (yaitu adanya Syaikh Muhammad Ilyas). “Dan berkata, “Sungguh saya merasa
baru masuk Islam ketika saya hadir di Markas Dakwah dan Tabligh di Nizhamuddin.
Barang siapa ingin memperbagarui imannya dan ingin menjadi seorang muslim yang
sempurna, hadirlah ke markas Dakwah dan Tabligh.” j. Pendapat Syaikh Adam
Abdullah Al-Aluri
Beliau berkata, “Penelitian secara ilmiah terhadap dakwah Syaikh Ilyas memerlukan pemahaman lingkungan maupun tempat yang menyebabkan timbulnya kerisauan Syaikh Ilyas. Juga perlu dipelajari sejarah gerakan ini dan cara-cara pembaharuannya di berbagai sejak awal.”——- “Sebenarnya, aturan yang berlaku di markas Syaikh Ilyas itu telah berlangsung lebih dari seperempat abad yang lalu. Tentu saja, itu suatu bukti yang jelas bahwa Syaikh Ilyas telah berusaha menghidupkan semua yang dibawa oleh Nabi saw, dan mungkin tidak ada duanya di seluruh dunia Islam. Meskipun di seluruh dunia banyak Markas yang menjadi pusat-pusat dakwah, tetapi tidak satu pun dari markas-markas tersebut yang memiliki contoh sempurna dari kegiatan Masjid Nabawi Syarif pada zaman Rasulullah saw, bukanlah hal itu telah cukup menunjukkan bahwa beliau memang mendapatkan taufik dari Allah untuk berkorban dalam usaha ini ?
Beliau berkata, “Penelitian secara ilmiah terhadap dakwah Syaikh Ilyas memerlukan pemahaman lingkungan maupun tempat yang menyebabkan timbulnya kerisauan Syaikh Ilyas. Juga perlu dipelajari sejarah gerakan ini dan cara-cara pembaharuannya di berbagai sejak awal.”——- “Sebenarnya, aturan yang berlaku di markas Syaikh Ilyas itu telah berlangsung lebih dari seperempat abad yang lalu. Tentu saja, itu suatu bukti yang jelas bahwa Syaikh Ilyas telah berusaha menghidupkan semua yang dibawa oleh Nabi saw, dan mungkin tidak ada duanya di seluruh dunia Islam. Meskipun di seluruh dunia banyak Markas yang menjadi pusat-pusat dakwah, tetapi tidak satu pun dari markas-markas tersebut yang memiliki contoh sempurna dari kegiatan Masjid Nabawi Syarif pada zaman Rasulullah saw, bukanlah hal itu telah cukup menunjukkan bahwa beliau memang mendapatkan taufik dari Allah untuk berkorban dalam usaha ini ?
k. Pendapat Syaikh Adam Abdullah Al-Aluri
Beliau berkata, “Jamaah Tabligh berdiri di india dengan kegiatan dakwahnya menyeru manusia kepada Allah, Ta’lim wat ta’lum, dan pendidikan ruhani yang menyeluruh. Jamaah ini didirikan oleh Syaikh Muhammad Ilyas pada tahun 1920 M. beliau menganjurkan agar di dalam dakwah lebih banyak bergerak dari pada sekadar menasehati lewat ceramah atau tulisan. Beliau mendidik kaum muslimin agar mengikuti cara-cara yang telah ditempuh oleh para sahabat, dan beliau juga menulis buku mengenainya sehingga jamaah Tabligh tersebar ke seluruh dunia.”
l. Pendapat Imam Abu Zahrah
Beliau menyaksikan langsung pergerakan jamaah-jamaah di markas Raiwind
Lahore. Beliau berkata, “Sesungguhnya perang salib dan hru-hara Tartar telah
melemahkan semangat bangsa Arab. Maka muncullah di India dan Pakistan semangat
yang sangat kuat untuk melanjutkan dakwah Islamiyah hingga menyebar ke seluruh
negara Asia Timur seperti Indonesia, Malaysia, dan lain-lainnya. Banyak kaum
muslimin India yang telah keluar untuk berdakwah Islamiyah. Mereka berbekal
sendiri di punggungnya serta menanggung segala kesusahan demi melaksanakan
usaha dakwah sehingga Islam berkembang di beberapa wilayah di India Timur, di
Philipina dan tempat-tempat lainnya. Bahkan di tangan merekalah banyak negro
Amerika masuk Islam dan Islam berkembang di sana. Sungguh kita dapat melihat
jamaah-jamaah itu di India dan Pakistan. Mereka keluar berdakwah, menyeru
manusia kepada Islam. Mereka menyediakan diri dan harta mereka untuk menyiarkan
Islam. Bahkan para pegawai pemerintah juga menyediakan waktu sepuluh persen,
seolah-olah nisab zakat mereka.”
m. Pendapat Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi
Beliau dalam salah satu tulisannya menyatakan, “Di tengah masyarakat
yang dipenuhi kelalaian, kejahilan, dan syahwat seperti itulah Syaikh Muhammad
Ilyas bangkit mendirikan Jamaah Tabligh memikirkan alat dan cara yang tepat
untuk menyelamatkan umat dari bahaya tenggelam dalam kejahilan, kegelapan,
kefasikan, dan kemusyrikan. Kemudian Allah menunjukkan beliau cara yang sangat
tepat dan efektif, yang dengan cara tersebut banyak sekali manusia yang tak
terhitung jumlahnya dapat diselamatkan dari lemah iman menjadi kuat iman, dari
jahil terdapat Islam kepada cahaya ilmu, dari bahaya kelalaian kepada benteng
dzikir, serta dari kefasikan dan kedurhakaan kepada ketaatan.”
Sekarang, saya akan jelaskan mengenai alat yang dipakai oleh Jamaah
Tabligh yang telah diilhamkan Allah kepada hamba-Nya, Syaikh Muhammad Ilyas,
dan telah dipraktekkannya sehingga dapat menyelamatkan sejumlah besar manusia.
Alat tersebut sangat sederhana, tetapi sangat efektif dan tiada duanya, suatu
alat dan cara yang menakjubkan yang tidak lebih dari enam point atau enam
sifat.”
Syaikh Ibnu Sirrin rah ra, berkata, “Jika sampai kepadamu berita tantang saudaramu, maka carilah alasan yang membenarkan tindakannya. Jika kamu tidak menemukannya, maka katakanlah, “Mungkin dia mempunyai alasan.”
Abu Qilabah rah.a. berkata, “Apabila sampai kepadamu berita tentang saudaramu yang tidak menyenangkan, maka carilah baginya suatu alasan dengan sungguh-sungguh. Dan jika tidak menemukannya, maka katakanlah kepada dirimu, “Barangkali dia mempunyai alasan yang aku tidak mengetahuinya.”
Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy,
Mudir di Masjid Nabawi dan Universiti Madinah Al-Munawarrah
Mereka berkata: Orang-orang Tabligh membuat bida’ah berupa keluar di
jalan Allah secara berjemaah dan membatasi masa keluar 3 hari, 40 hari dan 4
bulan.
Kami katakan:
Sesungguhnya keluar untuk memperbaiki diri adalah seperti keluar untuk menuntut
ilmu dan hidayah. Juga seperti keluar untuk mendakwah manusia kepada Allah dan
mengajar mereka hal-hal yang bermenafaat di dunia dan akhirat. Semuanya itu
adalah keluar di Jalan Allah, apabila di landasi niat yang benar dan untuk
mengapai redha Allah s.w.t, bukan untuk memperolehi harta dan penghormatan atau
untuk hiburan, permainan dan kebatilan.
Adalah termasuk kelakuan bodoh atau pura-pura bodoh apabila ada orang yang mengingkari keluarnya Jemaah Tabligh untuk kepentingan hidayah bagi manusia, mengajar mereka, memperbaiki diri mereka dan mendidik rohani mereka.
Adalah termasuk kelakuan bodoh atau pura-pura bodoh apabila ada orang yang mengingkari keluarnya Jemaah Tabligh untuk kepentingan hidayah bagi manusia, mengajar mereka, memperbaiki diri mereka dan mendidik rohani mereka.
Padahal Rasulullah s.a.w bersabda, “Sepetang atau sepagi keluar di jalan Allah, lebih baik daripada mendapatkan dunia dan segala isinya.
Juga sabda Rasulullah s.a.w, “Barangsaiapa mendatangi masjid ini,
semata-mata untuk kebaikan yang ia ajarkan atau ia pelajari, laksana mujahid fi
sabilillah.”
Dan banyak lagi hadith sahih dan hassan yang mengajarkan dan memberi semangat untuk keluar di Jalan Allah. Alangkah ajaibnya perkataan mereka bahawa keluarnya Jemaah Tabligh adalah bida’ah! Dan lebih ajaib lagi mereka berhujah terhadap “keluar fi sabilillah secara berjemaah adalah bida’ah” dengan jangkaan mereka bahawa Rasulullah s.a.w mengirimkan Mu’az r.a ke Yaman bersendirian saja dan tidak berjemaah.
Mereka lupa atau tidak tahu bahawa Rasulullah s.a.w tidak mengirimkan
Mu’az r.a sendirian tetapi mengirimkan Abu Musa Al Asy’ary r.a bersamanya.
Baginda s.a.w bersabda kepada keduanya, “Gembirakanlah mereka dan jangan kalian
buat mereka lari. Mudahkan mereka dan jangan kalian menyusahkan.
Bertolong-tolonglah kalian dan jangan berselisih.”
Juga beliau mengirimkan Ali bin Abi Talib dan Khalid bin Sa’id bin al
Ash r.huma. Bersama mereka baginda s.a.w mengirimkan rombongan besar untuk
dakwah, ta’lim dan memutuskan perkara diantara manusia.
Tentang pembatasan masa keluar yang mereka katakan sebagai Bidaah,
adalah peraturan dakwah sebagaimana peraturan sekolah dan universiti yang
mengenal batasan masa belajar dan kerehatan, untuk menyiapkan bekal dan
perbelanjaan selama masa keluar. Apakah dengan demikian, orang-orang Tabligh
dianggap membuat bida’ah kerena mereka mengatur hari-hari untuk kepentingan dan
khuruj fi sabilillah (keluar di jalan Allah)?
Alhamdulillah.
Ditulis oleh Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy,
Mudir di Masjid Nabawi dan Universiti Madinah Al-Munawarrah
Demikianlah sekilas ‘Apa itu Jamaah Tabligh’ dan beberapa pendapat ulama mengenainya. Uraian di atas setidaknya menyibak keasingan Jamaah Tabligh dan membuka hati terhadap maksud dan tujuan Jamaah Tabligh, yang semata-mata gerakan keimanan atas diri dan umat. Umar bin khattab ra. berkata, “Janganlah kamu berprasangka buruk terhadap kalimat yang keluar dari saudaramu mukmin, kecuali dengan prasangka yang baik selama kamu dapati kemungkinan untuk memahaminya dengan pemahaman yang baik.”
Wallauhua’lam bishowab.
14.
Fatwa Mufti Negeri Sembilan
SURAT MUFTI NEGERI SEMBILAN
(Salinan dari surat asli Rujukan (4) dlm JMKNNS 209(01)747/1 jld.2
Tarikh 16hb Zulhijah 1423/18 Februari 2003
Tuan Nazir, AJK dan Pegawai Masjid
Semua Masjid dan Surau
Di Negeri Sembilan Darul Khusus
(Assalamualaikum Wm Wb)
Tuan,
USAHA JEMAAH DAKWAH DAN TABLIGH DI MASJID DAN SURAU DI NEGERI SEMBILAN DARUL KHUSUS
Dengan segala hormatnya saya merujuk kepada perkara tersebut di atas.
2. Sehubungan dengan itu, jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan memang menyokong usha jemaah dakwah dan tabligh di Negeri ini. Usha dakwah dan tabligh ini adalah satu usha yang baik untuk memakmurkan masjid serta surau dan ini memang membantu usha-usha kami.
3. Memahami perjalanan usha dakwah dan tabligh ini tidak memerlukan pertauliahan. Jadi kami berharap pihak AJK Masjid dan Pegawai Masjid memberi segala kerjasama kepada jemaah dakwah dan tabligh yang datang serta usha-usha dakwah dan tabligh tempatan di kariah tuan.
4. Dengan kerjasama dari pihak tuan itu terlebih dahulu saya mengucapkan ribuan terima kasih.
“BERSAMA HAYATI KEINDAHAN ISLAM”
Saya yang menurut perintah,
-----------------------------------------------------
(DATO’ HJ MOHD MURTADZA BIN HJ AHMAD)
Mufti Kerajaan Negeri
Negeri Sembilan Darul Khusus
Tel: 06-7652420/7652421/7652425/7652426
Fax: 05-7652427
E-mail:jmknns.tm.net.my
[disalin dari buku ‘MARI berTABLIGH’, tulisan Hj Hanapi USM/Kolej Chermai (Hj Md Hanapi Md Noor), Pencetak Engsin Printing Press, Mak mandin, Penang. 2010. ISBN: 878-967-99941-1-7]
(Salinan dari surat asli Rujukan (4) dlm JMKNNS 209(01)747/1 jld.2
Tarikh 16hb Zulhijah 1423/18 Februari 2003
Tuan Nazir, AJK dan Pegawai Masjid
Semua Masjid dan Surau
Di Negeri Sembilan Darul Khusus
(Assalamualaikum Wm Wb)
Tuan,
USAHA JEMAAH DAKWAH DAN TABLIGH DI MASJID DAN SURAU DI NEGERI SEMBILAN DARUL KHUSUS
Dengan segala hormatnya saya merujuk kepada perkara tersebut di atas.
2. Sehubungan dengan itu, jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan memang menyokong usha jemaah dakwah dan tabligh di Negeri ini. Usha dakwah dan tabligh ini adalah satu usha yang baik untuk memakmurkan masjid serta surau dan ini memang membantu usha-usha kami.
3. Memahami perjalanan usha dakwah dan tabligh ini tidak memerlukan pertauliahan. Jadi kami berharap pihak AJK Masjid dan Pegawai Masjid memberi segala kerjasama kepada jemaah dakwah dan tabligh yang datang serta usha-usha dakwah dan tabligh tempatan di kariah tuan.
4. Dengan kerjasama dari pihak tuan itu terlebih dahulu saya mengucapkan ribuan terima kasih.
“BERSAMA HAYATI KEINDAHAN ISLAM”
Saya yang menurut perintah,
-----------------------------------------------------
(DATO’ HJ MOHD MURTADZA BIN HJ AHMAD)
Mufti Kerajaan Negeri
Negeri Sembilan Darul Khusus
Tel: 06-7652420/7652421/7652425/7652426
Fax: 05-7652427
E-mail:jmknns.tm.net.my
[disalin dari buku ‘MARI berTABLIGH’, tulisan Hj Hanapi USM/Kolej Chermai (Hj Md Hanapi Md Noor), Pencetak Engsin Printing Press, Mak mandin, Penang. 2010. ISBN: 878-967-99941-1-7]
Laporan Kajian Mengenai Kumpulan Jemaah Tabligh
Tarikh Keputusan: 1 Dec, 2006
Keputusan: Setelah meneliti dan mendengar pembentangan Kertas Kerja berkenaan, Mesyuarat bersetuju mengambil keputusan bahawa : "Kegiatan Jemaah Tabligh adalah tidak haram dan tidak perlu dibendung. Pihak Berkuasa Agama Negeri adalah disyor untuk membekalkan garis panduan kepada pihak berkenaan ( Jemaah Tabligh)"
Status Penwartaan: Tidak Diwartakan
Nombor Rujukan: MESYUARAT LEMBAGA FATWA NEGERI KALI KE-11
Negeri/Group: Sarawak
Tarikh Keputusan: 1 Dec, 2006
Keputusan: Setelah meneliti dan mendengar pembentangan Kertas Kerja berkenaan, Mesyuarat bersetuju mengambil keputusan bahawa : "Kegiatan Jemaah Tabligh adalah tidak haram dan tidak perlu dibendung. Pihak Berkuasa Agama Negeri adalah disyor untuk membekalkan garis panduan kepada pihak berkenaan ( Jemaah Tabligh)"
Status Penwartaan: Tidak Diwartakan
Nombor Rujukan: MESYUARAT LEMBAGA FATWA NEGERI KALI KE-11
Negeri/Group: Sarawak

