Al-Baihaqiyy dan An-Naqoosy telah mentakhrijkan di dalam mu'jamnya dan Ibn An-Najjaar daripada Waaqid bin Salaamah daripada Yaziid Ar-Riqoosyiyy dari Anas ra. Bahawa Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa sallaam telah bersabda (mafhuumnya) :
Sudikah aku kabarkan kepada kalian akan qaum-qaum yang mana mereka itu adalah bukan para anbiyaa` dan buka pula para syuhadaa`, (walhal) pada hari qiyaamat (nanti) para anbiyaa` dan para syuhadaa` merasa ghibtoh (iri hati) terhadap mereka itu lantaran manaazil (status- status) mereka (begitu dekat) dengan Allah, di atas minbar-minbar daripada nuur mereka dikenali.
Lalu mereka (para Sahabat r.ahum) Bertanya : siapakah mereka itu wahai Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa sallaam? Baginda menjawab (mafhuumnya) : al-ladziina yuhabbibuuna `ibaadaloohi ilAllahi, wa yuhabbibuunAllaha ilaa `ibaadihi, wa yamsyuuna `alal-ardhi nushan; artinya: (yaitu) orang-orang yang menjadikan para hamba Allah dicintai oleh Allah SWT , dan menjadikan Allah SWT dicintai oleh para hambanya, dan mereka itu berjalan kaki di atas (permukaan) bumi dalam hal keadaan memberikan nasihat.
Maka aku berkata : ini menjadikan Allah SWT dicintai oleh para hambanya, maka bagaimanakah mereka menjadikan para hamba Allah SWT dicintai oleh Allah SWT ? Jawab baginda Rasulullah Shallallaahu 'alayhi wa sallaam (mafhuumnya) : mereka itu menyuruh para hamba Allah dengan apa yang Allah SWT suka dan mereka itu mencegah para hamba Allah SWT daripada apa yang Allah SWT benci, maka apabila para hamba Allah SWT itu mentho'ati mereka lalu Allah `azza wa jalla menyintai mereka itu (yakni para hamba Allah itu).
Hayaatush-Shohaabah, juzu` 3, halaman 288 dan 289.
Risalah Fikir (229)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150930444567291&set=a.10150438780692291.360880.592637290&type=1&theater
Sunday, November 17, 2013
Thursday, November 14, 2013
Hazrat Maulana Husain Ahmad Madani Rahimahullah Mengajar di Darul Ulum Deoband (tahun 1950)
Gambar yang jarang-jarang boleh dilihat. Hazrat Maulana Husain Ahmad Madani Rahimahullah sedang mengajar Sahih Bukhari di Darul Ulum Deoband (tahun 1950). Gambar ini mungkin diambil oleh pihak kerajaan India pada masa itu. Diantara para pelajar adalah dari Afghanistan, Indonesia, Malaysia, China, Turkistan, Pakistan, Afrika Selatan dan Mesir.
Gambar dipetik dari
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=540361782720821&set=a.403695976387403.93241.100002410115334&type=1&theater
Saturday, November 9, 2013
Habib Umar: Bagaimana berhadapan dengan fahaman Salafi/Wahabi
Habib Umar bin Muhammad Salim Al-Hafidz menjawab persoalan bagaimana caranya untuk menyikapi permasalahan fahaman salafi wahabi dan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap gerakan fahaman ini.
Perkara ini dimuatkan disini kerana ia berkaitan dengan adab Dakwah Ilallah, silaturrahim, menyibukkan diri dengan amalan dan menghindar dari perdebatan, dan mencontohi para nabi yang berbuat baik terhadap orang yang berbuat buruk terhadap mereka.
Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk amal dan sampaikan. Amin.
https://www.facebook.com/photo.php?v=651920958163650
Soalan:
Bagaimana semestinya kita menyikapi kelompok salafi atau wahabi?
Apakah tidak perlu berdebat dengan mereka sementara mereka salah dalam amsalah furu' dan usul?
Seperti seringkali mereka mengatakan ini bid'ah, sesat, ahli neraka.
Bagaimana bisa kita membiarkan mereka sementara banyak orang mula tertarik?
Bagaimana semestinya kita menyikapi mereka?
Jawapan:
Tema yang dibicarakan tadi juga sedikit memberikan jawaban dari pertanyaanmu ini. (...) penjelasan konkritnya sebagai berikut:
Bahawa mereka sama seperti yang lainnya, dari aliran-aliran yang sudah kita singgung tadi... yang merupakan aliran-aliran sesat dan keluar dari jalan yang benar. Tugas kita terhadap mereka adalah memberikan penjelasan yang baik. Memperjelas dan mengukuhkan argumen dan dalil bagi umat, dan mensosialisasikannya kepada masyarakat.. di pesantren-pesantren kita, sekolah-sekolah, masjid-masjid... begitu juga pada saat pelajaran dan ceramah yang bersifat umum tanpa perlu menyebut nama-nama mereka, atau pengikut mereka, maupun organisasi dan massa mereka.
Kerana mereka tidak pantas untuk menguras energi kita hingga harus disebut-sebut di mimbar-mimbar ataupun di masjid-masjid kita. Kesibukan kita merespon hal itu, merupakan hal yang diinginkan para musuh Allah, yang mereka mulai semenjak mereka ciptakan isu tersebut untuk mengganggu konsentrasi kita. Kerana mereka datang tidak sendirian. Dibelakang mereka ada lembaga-lembaga edukasi yang disupport dana dan berbagai program terencana yang bersumber dari musuh besar umat Islam. Mereka muncul kerana Ummat Islam di Asia Tenggara mayoritas dari kalangan Syafi'iyyah dan Asy'ariyyah. Jika mereka secara konsisten menjalankan ajarannya, maka akan tegak kokoh(nya) ajaran Islam tanpa ada problem, (sudah) tentunya hal ini tidak mereka sukai. Lalu mereka menyusupkan kaki tangan mereka dari kalangan umat Islam, yang mensyirikkan umat Islam, membid'ahkan dan menganggap mereka sesat, mengangkat dan merendahkan mereka...
Kita bertugas menunaikan kewajiban kita dengan memberikan penjelasan dan memaparkan dalil bagi diri kita, keluarga kita, kalangan pesantren dan masjid kita dan siapapun yang mau mendengarkan tanpa perlu menyebut nama-nama mereka dan massanya, dan tidak perlu membuka peluang perdebatan yang tidak produktif. kalaupun kita harus berdebat, maka kita akan mendebat mereka dengan cara yang terbaik, tidak perlu sampai panik, terjadi keributan hingga beradu fisik. Cukup dengan memberikan penjelasan dengan santun. Dialog pun dengan santun.
Umumnya hal ini (kesantunan) tidak kita temukan pada mereka. Mereka tidak akan pernah berdialog dan berdebat denganmu dengan santun kerana mereka biasa terdidik untuk tidak bersopan santun. Kerana itu, jika ada orang yang tidak pandai berdebat dengan baik jangan engkau layani. Sampai ada yang mengerti debat dengan cara yang baik, baru kita layan dengan yang lebih baik lagi. Kalau tidak, maka kita hindari saja. Namun jika ada diantara mereka yang berbicara di satu forum dan kita ada disana, maka kita wajib meresponnya dengan memberikan penjelasan kepada audiens selagi di majlis memang ada yang mau mendengarkan dan mengambil manfaat, maka kita harus menjelaskan kepadanya permasalahan yang sebenarnya. Kita tentunya dengan santun dan mereka dengan ketidak santunan mereka. Biarkan mereka bicara dengan tidak santun tapi kita harus tetap bicara dengan santun.
Nabi Isa bin Maryam saat merespon orang bodoh yang mencacinya, beliau (Alaihissalam) mendoakan kebaikan untuknya. Si bodoh mencaci lagi, beliau membalasnya dengan doa kebaikan. Dicaci lagi untuk ketiga kalinya, tetap saja beliau (Alaihissalam) mendoakannya. Berkata salah seorang pengikutnya, 'Wahai Rasulullah, wahai Nabi Isa, orang ini tidak memujimu atau memberi kebaikan untukmu, ia mencacimu, lalu engkau mendoakannya?' 'Setiap orang memberi apa yang dia miliki', jawab beliau (Alaihissalam). 'Dia hanya memiliki itu (cacian) dan saya memiliki ini (doa).'
Ahlus Sunnah memiliki adab sopan santun sementara mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal sopan santun. Pada akhirnya nanti Allah akan munculkan pula orang-orang bodoh yang akan menandingi mereka. Level para Ulama' tinggi, tidak layak berhadapan dengan mereka. Sementara mereka yang tidak santun nantinya akan dijegal pula dengan orang-orang yang sama tidak santunnya, yang akan menghadapi dan memberikan pelajaran kepada mereka.
Berkata Imam Ja'far Shodiq: 'Tersesat, orang yang tidak mempunyai seorang guru yang membimbingnya, dan terhina orang yang tidak memiliki orang lancang yang membelanya.' Kalau ada orang bodoh datang mendebat, biarkan dihadapi pula oleh orang yang lancang dari kelompok yang benar. Orang-orang bodoh dari kelompok sesat tidak pantas dihadapi oleh Ulama' dan cendekiawan dari kelompok yang benar. Orang bodoh dari aliran sesat biar dihadapi oleh pendukung ajaran yang benar yang sama lancangnya. Mereka sepadan.
Allah akan lindungi kita dari keburukan dan marabahaya yang mereka rencanakan. Kita harus tetap konsisten memberikan penjelasan dan memantapkan dalil dan membina dengan baik putera puteri kita tanpa perlu membuka peluang untuk debat kusir, hingga akhirnya kita terjebak dengan kesibukan yang diciptakan musuh-musuh kita. Kita tunaikan kewajiban kita dalam urusan ini dan menjelaskan jalan yang benar. Jika ada satu isu diangkat didepan kita, kita respon dengan cara yang terbaik. jangan sampai kita lupa dengan tugas kita, iaitu membina hubungan masyarakat yang harmonis dengan Allah. Jangan sampai kesibukan ini membikin tidak sholat, tidak khusyu', mengabaikan perbuatan bakti kepada orang tua ataupun kurang silaturrahim. Tidak!!! Ini tidak boleh terjadi. Jangan biarkan hal ini menyita perhatian masyarakat hingga melupakan tugas utama yang Allah bebankan pada mereka.
Thursday, November 7, 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)


